Ceritaku Selama Tiga Minggu di Rumah Saja

Endah Wijayanti06 Apr 2020, 12:45 WIB
cinta ibu menenangkan

Fimela.com, Jakarta Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Melalui Lomba Share Your Stories: Berbagi Cerita tentang Pandemi Virus Corona ini Sahabat Fimela berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

***

Oleh: Reni Fitriani

Awal bulan Maret begitu dapat uang pensiun, aku berdiskusi dengan anak pertamaku yang SMA. Uangnya biasanya untuk bekal sekolah dua anak sebulan. Sehari-hari ada upah dari tempat kerjaku. Kondisi di tempat kerjaku sudah tidak nyaman karena sepi pengunjung, salah tingkah harus apa waktunya makan pun canggung. Akhirnya aku memberanikan diri meminta berhenti, karena lelah baru seminggu pindah rumah. Uang pesangon aku bayarkan arisan dan yang lainnya, esok pagi aku dan anak pertamaku jalan kaki ke minimarket di depan dan beli beras dan kebutuhan lain untuk bertiga selama sebulan (kecuali sayur).

Anak-anak sekolah seperti biasa, kakak juga bawa kue untuk dijual di sekolah. Adik sekolah di depan pulangnya naik ojek, kakak naik angkot, kalau kesiangan naik ojek. Tanggal 16 Maret 2020 hingga hari ini kami bertiga hanya diam di rumah. Biasanya aku pulang malam, mereka sudah tidur. Ada kebahagiaan aku bisa memberi makan anak-anak dengan baik, melihat mereka lahap memakan masakan buatan ibunya (tidak cuma goreng yang gampang).

Rasa Bosan Melanda

Ilustrasi Social Distancing
Ilustrasi Social Distancing. (Bola.com/Pixabay)

Tapi terkadang ada kalanya karena bosan kami tidak bisa jaga emosi, ada saja yang diperdebatkan. Tugas, kuota, ekskul, terkadang sampai banting kacamata (pengeluaran lagi).Sekarang aku nggak cari kerja dulu, takut nularin ke anak-anak. Alhamdulillah nggak pusing bekel sama ongkos. Uangnya bisa aku belikan makanan, semoga nanti jika semua terkendali aku bisa dapat kerja lagi buat sehari-hari.

Kita nggak banyak mikir, asal sehat nggak kena virus. Nggak beli baju atau mukena baru. Nggak beli kue lebaran juga nggak apa-apa. Yang penting ada uang buat daftar adek ke SMP dan beli seragam juga perlengkapan sekolahnya. Kalau semua sudah terkendali ada lowongan kerja lagi, dan bisa hidup normal lagi. Waktunya kakak kuliah, rumah bisa terjual bisa kuliah bisa beli motor. Amin.

Semoga musibah ini cepat berlalu, semua diberi jalan keluar yang terbaik. Senantiasa diberi kemudahan, kesehatan, dan keselamatan. Ayah anak-anak sudah meninggal karena virus 4 tahun lalu. Sekarang sudah istirahat, berkurang satu kecemasan. Karena laki-laki biasanya nggak bisa diam di rumah saja.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓