Plus Minus Bekerja dari Rumah dengan Seorang Batita

Endah Wijayanti07 Apr 2020, 10:45 WIB
perubahan setelah berumahtangga

Fimela.com, Jakarta Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Melalui Lomba Share Your Stories: Berbagi Cerita tentang Pandemi Virus Corona ini Sahabat Fimela berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

***

Oleh: Hadiba Ayunda

Takdir menjadikanku seorang ASN di sebuah lembaga pemerintahan yang bergerak di bidang pengumpulan data. Melakukan pencacahan responden dari berbagai kalangan, mulai dari individu, rumah tangga, pedagang di pasar, perusahaan, maupun lembaga non profit adalah kegiatan yang sudah menjadi kewajiban. Data yang diperoleh kemudian diolah dan disajikan untuk dapat dimanfaatkan para pengguna data, mulai dari kalangan mahasiswa hingga para pemangku jabatan di pemerintahan. Sejak isu corona semakin meruak, kantorku pun terkena imbas. WFH alias work from home, bekerja dari rumah, akhirnya jadi rutinitas baru.

Semua kegiatan pengumpulan data yang mengharuskan tatap muka langsung dengan responden, akhirnya dikaji ulang. Ada kegiatan pencacahan yang akhirnya ditunda entah sampai kapan, ada kegiatan pencacahan yang diusahakan lewat telepon, WhatsApp, atau e-mail, ada juga beberapa pertemuan yang terpaksa dioptimalkan hanya dengan WhatsApp Group atau justru dibatalkan, dan semua perjalanan dinas ditiadakan entah sampai kapan.

Orang bilang, ASN salah satu yang aspek finansialnya paling aman pada saat krisis corona seperti ini. Tak kusangkal itu, aku sangat bersyukur. Tapi bukan berarti ASN hanya berdiam diri di rumah. Target kinerja harus tetap diselesaikan dengan optimal, dengan berbagai tantangan baru yang harus diatasi.

Penyesuaian selama WFH

perempuan sukses berbisnis
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Mulai dari tidak semua responden punya telepon atau e-mail, ada responden yang bisa dihubungi namun tidak mau memberikan data yang dibutuhkan, sehingga dibutuhkan pendekatan berulang, atau bahkan instansi yang tutup sementara karena pandemik corona. Oleh karena itu, terpaksa dilakukan berbagai penyesuaian agar target sampel tetap terjaga kualitas datanya. Sebagai seorang ibu rumah tangga, juga wanita karier, work from home berminggu-minggu adalah sebuah episode baru bagiku.

Biasanya waktu untuk keluarga saat hari kerja hanya malam hari, itupun hanya ada sisa-sisa energi untuk makan malam, dan menunggu waktu tidur. Hari libur Sabtu Minggu tak jarang masih harus digunakan untuk bekerja, seperti menemui responden yang hanya bersedia ditemui di akhir pekan, atau memang jadwal pencacahan yang jatuh pada hari libur.

Namun berkat WFH, cucian pakaian kerja berkurang, tidak ada waktu yang habis di perjalanan pulang pergi kantor, dan tidak ada waktu yang terpakai untuk sibuk merias diri sebelum memulai bekerja. Berkat WFH, bisa selalu bersama keluarga di setiap waktu makan adalah keistimewaan yang tidak bisa dinikmati saat bekerja di kantor. Namun bagiku, WFH bagi ibu dengan seorang batita memberikan sebuah makna. Sejatinya, waktu bekerja adalah me time dari status sebagai ibu rumah tangga. Selama ini mengeluh selalu lelah seharian bekerja di kantor, ternyata aku cukup jenuh berminggu-minggu harus bekerja dari rumah.

Semoga Pandemi Segera Berlalu

agar anak tidak manja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Mungkin anak-anak, yang selama ini ditinggal ibunya bekerja di luar rumah, adalah satu-satunya kelompok yang sangat bersyukur dengan WFH, karena bagi mereka ini adalah waktu mereka bisa selalu dekat dengan ibunya sepanjang waktu. Bisa memandikannya pagi dan sore, menyuapinya setiap waktu makan, menemaninya tidur siang, mungkin menjadi hal-hal yang mereka rindukan saat ditinggal bekerja. Aku bergantian dengan suami untuk menemani anak sambil tetap bekerja dari rumah, karena setiap hari harus ada laporan harian dan target kinerja yang harus tetap terealisasi. Terkadang kami harus bekerja hingga larut bahkan dini hari, karena tentu saja suasana bekerja lebih kondusif saat anak sudah di alam mimpi.

WFH bagiku tak sekedar work from home, namun juga harus work from heart. Karena dari semua kejenuhanku bekerja di rumah, di luar sana ada tim medis yang berjuang mati-matian menyelamatkan nyawa pasien virus corona dan menahan rindu untuk sejenak melepas lelah bersama keluarga. Ada juga pedagang asongan dan tukang ojek yang sepi pelanggan namun tetap harus berjuang agar tetap ada uang makan. Di saat seperti ini, makna sabar dan syukur sangat aku rasakan.

Dear virus corona,

Mungkin maksud kedatanganmu adalah baik, membuat manusia semakin bersyukur tentang kehidupan dan bersabar menerima ujian, mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, membuktikan keharusan mempersiapkan dana darurat dalam neraca rumah tangga, memperlihatkan bahwa manusia sejatinya saling berbagi peran dan saling membutuhkan, juga memberi jeda pada bumi agar beristirahat dari segala polusi karena ulah manusia selama ini. Namun kami ingin kau segera pergi, agar kami bisa beraktivitas normal kembali.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓