Tak Perlu Menunggu Kaya untuk Beramal

Endah Wijayanti09 Mei 2020, 13:02 WIB
Diperbarui 09 Mei 2020, 13:02 WIB
ditinggal menikah

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Elisabeth

Masih teringat jelas dalam ingatanku kejadian kecil saat naik becak bersama nenek sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dikayuh seorang abang becak. Sekilas seperti tidak berarti apa-apa karena semuanya terkesan biasa-biasa saja. Si Abang yang usianya sudah memasuki usia renta namun masih begitu semangat mengayuh becaknya membawa kami sampai ke rumah tanpa mengeluh sedikitpun. Selama dalam perjalanan, terasa alur roda becak berputar dan berjalan maju sangat pelan, langkah demi langkah sampai tiba di tempat tujuan kami.

Kurogoh saku celanaku untuk mencari uang pecahan sepuluh ribu rupiah sambil memegang sekantung makanan ringan dan roti di tangan yang satunya lagi. Kusodorkan uang pecahan sepuluh ribuan tersebut kepada si Abang Tukang Becak itu dan terdengar suara sedikit serak dan berat darinya mengucapkan terima kasih. Sontak tanpa kusadari tanganku yang menggenggam makanan ringan itu pun ikut kusodorkan kepada si Abang. Wajah penuh kerutan dengan tatapan mata berbinar menunjukkan usianya yang sudah menua begitu bahagia seolah mengatakan bahwa makanan yang diberikan itu adalah makanan yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya atau bahkan belum pernah dicicipinya selama hidup. Padahal makanan ringan dalam bungkusan di tanganku itu hanyalah sebungkus roti kasur dan sepotong ayam goreng fast food yang mereknya cukup dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

 

Berbagi Semampu Kita

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar
Ilustrasi./Credit: shutterstock.com

Sejak hari itu otakku selalu dipenuhi dengan ingatan akan raut wajah yang begitu bahagia itu. Sebuah pelajaran hidup yang berharga. Banyak cara memaknai dan berbagi sebuah kebahagiaan yang tidak selalu harus dinilai dengan uang. Pemberian kecil yang tulus adalah nilai terbesar dalam hidup yang paling bermakna bagiku dan sampai saat ini kucatat baik-baik dalam hati dan pikiranku. Tidak harus menunggu menjadi kaya atau mampu lebih dahulu untuk berbuat baik atau amal. Begitu pun dengan datangnya bulan suci Ramadan ini.

Setiap bulan aku selalu menyisihkan sebagian kecil penghasilanku untuk sekadar berbagi nasi kotak bagi kaum tunawisma, pengemis ataupun mereka yang kutemui di jalanan pulang. Bagiku setiap bulan adalah bulan Ramadan yang penuh berkat sehingga saat bulan Ramadannya sendiri itu tiba, aku sungguh merasakan rahmat Allah yang berlipat ganda. Alhamdulillah sampai datangnya Ramadan saya masih bisa bernapas dan masih bisa berbagi kebahagiaan dengan banyak orang. Itulah makna Ramadan yang sesungguhnya bagiku, Ramadanku adalah setiap hari dan setiap bulan. Ramadanku adalah ungkapan syukurku.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓