Kemandirian Menghadirkan Rindu Hangatnya Sebuah Kebersamaan

Endah Wijayanti11 Mei 2020, 12:45 WIB
Diperbarui 11 Mei 2020, 12:45 WIB
terlahir dengan piebaldism

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Rina Risna

Panggil saja aku Na, karena begitulah sapaan akrab teman terdekatku. Mungkin kamu akan menjadi salah satu teman setiaku. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadan kali ini terasa sangat berbeda bagiku. Terlebih memang, pandemi virus corona yang sudah berdampak memberi sederet permasalahan di berbagai sektor kehidupan. Tapi, bukan itu yang berbeda. Kini, Ramadan tahun ini, harus kunikmati sendiri.

Aku adalah anak tunggal yang tak pernah tinggal bersama kedua orangtua sejak kecil. Aku dibesarkan bersama paman bibi dan ketiga sepupuku. Tapi itu tak khayal membuatku berhenti bersyukur. Setiap Ramadan pasti akan menjadi momen istimewa bagi kami. Aku akan menjadi manusia yang paling susah dibangunkan saat sahur. Aku akan uring-uringan terlebih dahulu sebelum sampai di meja makan. Itu pun, bisa makan ketika orang lain sudah bubar dan beranjak untuk menyikat gigi mereka. Karena waktu sudah sangat sempit menuju waktu imsyak. Bibi marah. Tentu saja. Mungkin dia sudah bosan mengomeli aku yang sangat sulit untuk bangun.

Begitu pun dengan momen buka, rasanya anggota keluarga lain tak ada yang seheboh diriku. Saat yang lain masih murojaah selepas ashar atau menambah lanjutan ayat suci Al-Qur'an mereka, aku sudah bergegas untuk membeli sayuran dan memasak. Alasannya satu, waktu tersebut perutku sudah hampir meronta-ronta. Dan ketika nanti mencium aroma masakkan sudah sedikit lebih terobati rasanya. Ada-ada saja. Semua menu pasti aku yang harus mengolahnya, sampai hal terkecil pun berupa dessert dan minuman pembuka aku tata dengan sangat rapi di meja makan. Dan momen ketiga adalah salat tarawih. Aku paling tak bisa ketinggalan salat tarawih. Meski yang lain sudah kendor semangatnya aku pasti akan selalu berangkat ke masjid meskipun itu sendiri. Meskipun hujan badai sampai bibi memarahiku, aku tak peduli, karena bagiku, tak akan ada tarawih di bulan lain kecuali di bulan istimewa ini.

Jauh dari Keluarga

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Dan, Ramadan tahun ini aku harus sudah bekerja. Mendapatkan pekerjaan menjadi operator produksi dan mewajibkanku bekerja dengan tiga shift. Jarak dari rumah ke tempat bekerja mungkin sekitar 28 kilometer yang mengharuskanku untuk menyewa sebuah kostan yang aku huni sendiri. Kini, tak ada panggilan cerewet yang aku perdengarkan tiap sahur sampai aku tertinggal sahur beberapa kali. Kini, tak ada menu-menu buka puasa yang aku idekan setiap saatnya untuk menjadi hadiah hidangan terbaik atas ibadah sehari penuh itu. Tak ada. Bahkan aku sangat malas mencari makanan untuk berbuka. Biasanya selepas azan berkumandang aku baru mencari makan. Itu pun ketika berbuka, bukan makanan terlebih dahulu yang akan menjadi prioritasku, tetapi ingatanku jatuh pada hangatnya sebuah kebersamaan. Makan sederhana tapi penuh canda tawa. Aku usahakan untuk melakukan video call setiap hari, tapi kondisinya sudah berbeda. Hanya kesepian yang kurasa.

Ramadan kali ini mengajarkanku banyak hal, perihnya sebuah kerinduan, yang bahkan dahulu selalu terasa menyebalkan. So, bagi kalian yang masih bisa kumpul bersama keluarga walaupun dengan seadanya, bersyukurlah. Karena kalian mungkin tak akan bisa mengulang waktu yang hilang dan terbuang. Manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin dengan perbuatan baik sebaik mungkin pula. Ingatlah, segila apa pun mereka (keluarga) tetap, mereka adalah benteng pertama kita dari kejamnya dunia.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓