Di Balik Musibah, Ada Kesempatan untuk Lebih Dekat dengan Tuhan

Endah Wijayanti12 Mei 2020, 13:15 WIB
Diperbarui 12 Mei 2020, 13:54 WIB
ramadan dan corona

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Ika Wulandari

Hampir enam minggu kita #dirumahsaja. Meski sulit, ketidaknyamanan ini membuatku berusaha untuk tetap nyaman di tengah pandemi virus corona seperti ini. Karena bukan hanya saya, melainkan kita semua yang ikut terdampak virus corona ini. Dan untuk pertama kalinya, kita semua menjalankan ibadah puasa Ramadan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Yang biasanya, kita melakukan salat terawih berjamaah di masjid, buka puasa bersama dengan rekan kerja dan juga teman-teman, ataupun ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka, kali ini semua itu tidak kita rasakan. Ya, akibat si virus kecil yang bernama Corona. Virus ini telah membuat kegaduhan dan ketakutan di antara kita. Rasanya sedih, kesal, dan marah bercampur menjadi satu. "Coba tidak ada virus Corona pasti suasana Ramadan terasa seperti dulu." Kalimat itu sering terngiang-ngiang di kepalaku. Sungguh aku merindukan suasana Ramadan yang seperti itu.

Namun, di sisi lain ada berkah yang kudapatkan dari adanya pandemi virus corona ini. Aku lebih dekat dengan Tuhanku, Allah SWT. Keimananku bertambah seiring aku membaca artikel mengenai hikmah di balik virus corona di berbagai situs web Islam. Memang untuk salat lima waktu, alhamdulillah aku tidak pernah meninggalkannya. Perlahan tapi pasti salat sunah pun aku kerjakan.

Meningkatkan Kualitas Ibadah

salat taubat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Creativa

Aku lihat sepertiga malam, ibuku rajin sekali melaksanakan salat tahajud. Beliau salat tahajud terlebih dahulu sebelum menyiapkan makan sahur. Aku pun meminta kepada beliau untuk diajarkan tata cara salat tahajud. Ibuku sangat senang sekali mendengarnya. Lalu, aku pun mulai rajin mengaji setelah menonton acara di televisi tentang anak yang hafal Al-Qur'an. Tidak hanya itu, setiap sore menjelang berbuka kuputar radio berisi kultum dari ustaz yang mengisi acara di radio tersebut.

Yang paling membuatku bahagia adalah walaupun aku tidak bisa salat terawih berjamaah di masjid, aku tetap bisa salat terawih berjamaah bersama keluargaku di rumah. Suasana kebersamaan di antara kami terasa semakin dekat. Dulu kebanyakan aku dan adikku buka puasa di luar sampai kedua orangtuaku hanya buka puasa berdua saja. Kini, semakin terasa lengkap kami berempat duduk di meja makan sambil menyantap menu sahur dan berbuka.

Aku semakin bersyukur kepada Allah karena di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan, ada orang yang harus berpuasa sendirian karena telah ditinggal oleh orang yang mereka cintai terlebih dahulu. Kini, aku tak lagi menyalahkan virus corona sebagai pembuat kegaduhan. Sebab, karena Coronalah aku semakin dekat dengan Tuhanku. Tak hanya dengan Tuhanku, melainkan dengan keluargaku. Aku yakin musibah yang sedang menimpa kita semua saat ini merupakan ujian dari-Nya agar kita lebih dekat kepada-Nya, agar kita lebih dekat dengan keluarga, dan agar kita menyadari pentingnya untuk hidup bersih. Dan semoga virus Corona ini segera berlalu, agar kita bisa beraktivitas normal seperti dahulu. Aamiin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓