Hangatnya Ramadan adalah Saat Bisa Berkumpul Bersama Keluarga

Endah Wijayanti13 Mei 2020, 14:15 WIB
sekolah menjadi ibu

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Vincensia Oktalia Prasetiani

Halo Sahabat Fimela, semoga kita selalu dilindungi Tuhan dalam setiap kegiatan kita ya. Amin. Aku Tia ingin bercerita tentang Ramadan di tahun 2020 ini. Walaupun aku tidak berpuasa, aku merindukan momen di mana saat sekolah banyak bukber alias buka bersama teman-teman dari SD, SMP, organisasi di SMK dan juga organisasi di luar sekolah yang pada saat itu ada hampir setiap hari. Pada waktu itu aku berpikir wah, uangnya cepet habis dong kalau setiap hari.

Nah, ternyata di tahun 2020 ini ada pandemi Covid-19 yang menganjurkan kita untuk di rumah saja, baru deh terasa bahwa kebersamaan bersama teman-teman waktu itu rasanya sangat berharga. Apalagi di tahun ini aku sudah lulus dari SMK jadi makin sedih. Selain itu, aku juga merindukan suasana ramai menjelang berbuka di mana di pedagang jajan, es buah, es kelapa muda, semuanya antre menjelang waktu berbuka. Aku juga sering mencari jajan di sore hari bersama adikku. Asyik sekali rasanya, sekarang saat pandemi ini aku tidak pernah keluar rumah untuk beli jajan. Bapak yang membeli sekalian saat sedang keluar rumah, itu pun tidak sering. Suasana itu akan aku rindukan sampai kapan pun.

Saat hari kemenangan tiba, ada saudaraku yang salat ied kemudian aku menunggu sebelum kami sungkem (minta maaf) di hari yang fitri ini. Aku pergi untuk silaturahmi di saudara dari nenekku hari pertama bersama saudaraku yang lain. Keluarga kami memang beragam. Di sana kami bisa seharian penuh bercerita tentang pengalaman kehidupan, sekolah, dan masalah pekerjaan. Setelah itu kami makan bersama dengan penuh canda tawa, makanan khas saat Idulfitri ada ketupat, rendang, opor, dan es sirup minumannya. Kami pun pulang dengan hati yang bahagia karena kami bersyukur masih memiliki saudara, anggota keluarga yang sehat dan masih diberi panjang umur. Malamnya, aku bersama nenek, ibu, dan tante berkeliling bersama beberapa orang tetanggaku untuk silaturahmi di sekitar rumah. Malam hari pukul tujuh hingga jam sepuluh biasanya, kami bermaaf-maafan bersama tetangga di momen bahagia ini.

 

Kebersamaan dengan Keluarga

Kebiasaan Buruk Saat Buka Puasa
Ilustrasi./ Sumber: iStockphoto

Hari kedua Lebaran, aku pergi ke tempat kakek dan nenekku yang dari bapak, keluarga di sana banyak sekali, ramai. Ada saudaraku yang sedang kuliah, jadi seumuran denganku kami berdua akrab sekali membahas masalah perkuliahan. Sedangkan orangtua kami juga saling mengobrol membahas pekerjaan dan kenangan-kenangan masa kecil mereka saat di kampung. Kami biasanya pergi ke kali, bermain air bersama-sama. Orangtua kami pun ikut serta walau beberapa duduk di balai-balai saja melihat. Setelah itu kami makan-makan dengan opor, ketupat, rendang, dan sambal goreng. Setelah itu aku kembali pulang ke rumah. Lebaran begitu berharga di mana keluarga besar dapat berkumpul, bercanda bersama.

Bersyukur walaupun sekarang sedang pandemi, kami tetap bisa saling berkomunikasi dengan adanya media sosial, tetap memberi kabar satu sama lain, sehingga jalinan siluaturahmi tidak putus. Memang, kita tidak bisa bersenda gurau tahun ini, tetapi demi kesehatan bersama kita saling menjaga untuk tidak bertemu. Sehingga di lain waktu yang tepat, kami dapat bertemu lagi dengan keadaan sehat dan syukur yang selalu teriring untuk setiap anugerah dari Tuhan. Ini ceritaku sahabat, semoga cerita kita dapat selalu abadi dalam memori. Sehat selalu sahabat Fimela, salam manis dariku, Tia.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓