Ramadan Pertama tanpa Mama

Endah Wijayanti19 Mei 2020, 06:15 WIB
tentang mboke

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Pipiet Fitrianingsih

Ramadan kali ini tentu saja berbeda dengan Ramadan tahun lalu bahkan tahun sebelumnya. Bukan saja karena adanya pandemi ini aku rasakan berbeda, akan tetapi aku harus melewati Ramadan pertama tanpa mama. Tahun lalu memang kami tidak mudik juga, keadaan yang mengharuskan aku tetap di Jakarta dengan mama yang waktu itu masih terbaring di tempat tidur. Memang ada adik bungsu mama yang berjanji akan menjemput mama untuk mudik dengan mobil yang dikendarainya karena kebetulan juga beliau mau hajatan, tapi sampai hari H yang dijanjikan, mama tak kunjung juga dijemput.

Aku tidak mungkin membawa mamaku mudik dengan kendaraan umum kereta, bus maupun travel karena kondisinya saat itu. Akhirnya dengan budget yang aku punya aku coba menawar mobil sepupu untuk bisa mengantarkan mama pulang, sayang budget-ku tak cocok dan kurang banyak sehingga kami memutuskan berlebaran di Jakarta tahun lalu dengan harapan tahun 2020 ini kami bisa pulang.

Ternyata kita cuma bisa berencana, Allah pulalah yang menentukan. Di awal tahun aku sudah antusias dan berjanji kepada mama, lebaran kali ini nanti pulang. Tapi seakan sudah firasat mamaku selalu bilang, "Nggak tahu umur mama sampai tidak sampai lebaran." Aku selalu meyakinkan beliau bahwa mama harus kuat kita pasti akan pulang berlebaran di rumah kita yang sudah dua tahun tak dikunjunginya.

Di tanggal 28 Februari 2020 dimana itu tanggal gajianku, aku coba menyicil membeli pakaian lebaran agar tak terlalu berat pengeluaran di hari lebaran. Aku langsung membeli gamis untuk mama, aku, kakak dan pengasuh anakku secara grosir. Tak lupa aku membelikan dua daster baru untuknya, aku tak mau mama terlihat lusuh ketika mudik nanti, mamapun langsung memakai daster untuk keseharianya dia senang dengan motifnya. Hampir setiap hari aku pakaikan dia secara bergantian.

Kebahagian itu tak berlangsung lama semakin hari kondisi mama semakin menurun. Dari jarang bicara/ngobrol, mama suka tidur dengan waktu yang lama, selera makannya pun mulai menurun dan sampai pada minggu malam semua makanan dan minumnya tak bisa ditelannya hingga keesokan paginya Allah memanggilnya. Aku berusaha tidak menangis dalam menceritakan ini bagaimanapun semua kehendak-Nya. Andai aku bisa putar kembali waktu aku akan membawa mama mudik terlebih dahulu tanpa harus menunggu lebaran.

 

Tahun Ini Berbeda

zodiak
ilustrasi./Photo by Min An from Pexels

Ramadan kali ini tentu saja peristiwa itu melintas dengan sendirinya, aku tidak dendam kepada siapa pun ketika Ramadan tahun lalu tidak ada yang bisa menolongku. Hanya menyayangkan perbuatan adik bungsu mama yang tega meninggalkan mama yang nota ene adalah saudara paling tua sedangkan dia hajatan dengan mewahnya dan keramain yang ada, dia bahkan bilang ke orang–orang yang di kampung mamalah yang tidak mau pulang. Aku coba memaafkan dan melupakannya tapi Allah Maha Adil. Ramadan kali ini giliran adik bungsu mama yang mengalami kondisi yang sama dengan kondisi mama bedanya pamanku sudah mudik terlebih dahulu karena pandemi. Pamanku sakit kronis karena penyakit gula, harinya dihabiskan di tempat tidur dan beberapa waktu lalu harus dilarikan ke RS karena komplikasi penyakitnya, mirisnya tidak ada yang bisa mendapatkan penghasilan lagi di keluarganya karena ketiga anaknya juga menganggur.

Aku berusaha tidak mengaitkan perbuatannya dengan sakitnya mamaku, bagaimana pun ada sebab ada akibat. Aku pun berusaha tidak nyinyir, mengutuk, atau menghakiminya. Aku tetap berusaha membantu sebisanya. Kursi roda bekas mama yang aku beli aku hibahkan ke pamanku. Aku juga berusaha membantu secara moral dan materi semampu yang aku bisa.

Mungkin dengan begitu aku bisa lebih legowo dan bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Aku ingin Ramadan kali ini bisa memperbaiki hubunganku dengan Allah dan sesama. Aku ingin juga Allah selalu melindungiku dan keluargaku, memberikan rahmat dan barokahnya, memberiku umur bermanfaat untuk dapat membesarkan anak-anakku dengan berkecukupan sampai aku menutup mata. Amin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓