Tradisi Lebaran dari Berbagai Daerah Indonesia, yang Bisa Dilakukan Tanpa Mudik

Kezia Prasetya Christvidya20 Mei 2020, 10:15 WIB
lebaran-kezo

Fimela.com, Jakarta Lebaran adalah hari raya yang paling ditunggu umat Muslim. Biasanya lebaran adalah saat yang tepat untuk mudik, dan berkumpul dengan keluarga besar.

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Indonesia terdiri dari berbagai daerah, yang memiliki tradisi khas lebaran. Tradisi khas lebaran yang memiliki banyak keberagaman ini, bisa dilakukan untuk memeriahkan lebaran, walaupun tidak mudik.

Berikut tradisi lebaran dari berbagai daerah Indonesia, yang bisa dilakukan tanpa mudik, yang dirangkum dari berbagai sumber: 

 

Bedulang

ilustrasi tradisi bedulang/t5belitungtour.com
ilustrasi tradisi bedulang/t5belitungtour.com

Tradisi lebaran yang pertama adalah tradisi Bedulang. Tradisi ini dilakukan oleh penduduk Bangka, yang berasal dari Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi Bedulang dilakukan setelah bersilaturahmi dan maaf-maafan. Tradisi Bedulang adalah makan bersama, yang disajikan dengan tudung saji.

Tradisi Bedulang adalah tradisi makan-makan, yang dilakukan dengan cara makan menggunakan tangan, tidak boleh menggunakan sendok. Sebelum makan, biasanya harus cuci tangan terlebih dahulu, dengan aturan orang yang paling tua yang cuci tangan terlebih dahulu.

Tradisi Bedulang juga bisa dilakukan walaupun tidak mudik. Sahabat Fimela bisa menyiapkan makanan dengan ditutup tudung saji di rumah, dan mendahulukan orang tua mencuci tangan dan mengambil makanan terlebih dahulu.

Meugang

ilustrasi tradisi meugang/pexels
ilustrasi tradisi meugang/pexels

Tradisi lebaran berikutnya dari Aceh, yaitu tradisi Meugang, yang dilakukan saat Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi Meugang dilakukan dengan cara para warga berkumpul di masjid, kemudian memasak daging, dan menikmati masakan bersama-sama di masjid.

Daging yang tersisa, biasanya dibagikan ke semua warga yang membutuhkan, sebagai bentuk aksi berbagi disaat lebaran. Dengan adanya pandemi, pemerintah menghimbau warga agar tidak mudik, dan tidak bisa berkumpul dengan banyak orang.

Namun tradisi Meugang tetap bisa dilakukan walaupun tidak mudik. Sahabat Fimela bisa memasak daging di rumah bersama keluarga, kemudian membagikan masakan daging ke tetangga dengan tetap menjaga jarak sesuai aturan pemerintah.

Ngejot

ilustrasi tradisi ngejot/toliqfoto2.blogspot.com
ilustrasi tradisi ngejot/toliqfoto2.blogspot.com

Tradisi lebaran berikutnya berasal dari Bali. Walaupun penduduk pulau Bali mayoritas beragama Hindu, namun umat Muslim di Bali tetap merayakan tradisi lebaran bernama Ngejot. Tradisi Ngejot dilakukan dengan cara membagikan makanan, kepada semua warga di Bali, tanpa membeda-bedakan agama lain.

Tradisi Ngejot dilakukan setiap lebaran, dengan tujuan untuk tetap menjaga hubungan harmonis, sesama umat beragama di Bali. Tradisi Ngejot ini juga bisa dilakukan walaupun tidak mudik. Sahabat Fimela bisa membagikan sembako atau makanan lebaran, kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar rumah.

Tellasan Topak

ilustrasi tellasan topak ketupat lebaran/freepik
ilustrasi tellasan topak ketupat lebaran/freepik

Tradisi lebaran berikutnya adalah tellasan topak, yang dilakukan di daerah Madura, pada hari ketujuh setelah lebaran. Tellasan topak yang dilakukan pada hari ketujuh setelah lebaran ini, dengan membagikan ketupat, dan masyarakat melakukan makan ketupat bersama.

Ketupat dibagikan perempuan muda, kepada masyarakat yang sudah berkumpul, dengan membawa ketupat di atas kepala. Tellasan topak juga bisa dilakukan walaupun tidak mudik. Sahabat Fimela bisa membuat ketupat di hari ketujuh setelah lebaran, dan membagikan ketupat di tetangga atau ke orang yang membutuhkan.

Binarundak

ilustrasi tradisi binarundak/totabuan.co
ilustrasi tradisi binarundak/totabuan.co

Tradisi lebaran yang terakhir adalah tradisi Binarundak, yang dilakukan masyarakat Sulawesi Utara, pada saat merayakan lebaran. Tradisi Binarundak dilakukan masyarakat, dengan berkumpul dan memasak masakan, yaitu nasi jaha di dalam bambu.

Binarundak atau nasi jaha, dibuat dengan bahan beras ketan, santan dan jahe yang dibakar dalam bambu. Sahabat Fimela bisa melakukan tradisi ini tanpa mudik, dengan menyiapkan hidangan binarundak, dan memanggang bambu di rumah saja.

Lanjutkan Membaca ↓