Bersabarlah, Setiap Kesedihan Pasti akan Diganti dengan Kebahagiaan

Endah Wijayanti27 Mei 2020, 07:15 WIB
ramadan berdua dengan ibu

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Raistamala Nediasani

Tahun ini Ramadan berlalu begitu cepat. Itu yang kurasa, apa kalian juga merasakan hal yang sama? Rasanya belum puas aku bermesraan dengannya, dia sudah pergi begitu saja. Lebaran yang menggantikan posisinya. Tapi pasti semua merasa lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya kan? Bagiku tidak cuma lebaran yang terasa berbeda, Ramadanku pun sangat jauh berbeda.

Setelah kematian ayahku 20 hari sebelum Ramadan, aku harus menjalani Ramadan tahun ini hanya berdua saja dengan ibuku. Berat? Sangat luar biasa berat. Kalau kalian bangun sahur dengan tantangan mengalahkan rasa kantuk, aku juga, tapi ditambah tantangan bagaimana menghibur ibuku supaya semangat sahur, semangat menjalani puasa pertama kalinya tanpa belahan jiwanya. Selama ini ayahku yang sangat berperan saat kami menjalani Ramadan, beliau yang membangunkan, beliau yang membuat dialog hangat agar kantuk kami hilang, beliau yang semangat mengajak kami beribadah. Tahun ini semua tugas itu pindah kepadaku. Aku kuat kok, demi ibu. Bahkan di saat aku mendapat dispensasi dari Allah untuk tidak berpuasa, aku tetap bangun jam 3 pagi, menemani ibu sahur.

Tahun yang Berbeda

kebersamaan
Kebersamaan./Copyright Raistamala Nediasani

Tahun ini sungguh sangat berbeda rasanya. Beberapa tahun terakhir, aku selalu mengisi Ramadan dengan banyak proyek di komunitas Sahabat Anak Kanker di RSSA. Menyiapkan event buka bersama, menyiapkan paket sembako yang dibagikan ke pasien kanker anak, membagikan nasi bungkus saat buka dan sahur, rasanya menyenangkan. Tahun ini jangankan menjalankan proyek, aku bahkan sudah 3 bulan tak bisa berkunjung ke rumah sakit. Sedih rasanya, tapi pasti ada hikmah di balik semua peristiwa. Aku bisa menemani ibuku berbuka 30 hari penuh, tidak pernah membiarkannya berbuka sendirian satu kali pun.

Di tengah pandemi ini pasti banyak yang menggerutu karena tidak bisa berbuka bersama teman-teman, menggerutu karena bosan menjalani puasa di rumah saja. Yuk coba kita ubah pola pikir kita. Dengan adanya pandemi ini, kita bisa menjalani Ramadan dengan lebih leluasa. Banyak waktu untuk beribadah, banyak waktu dengan keluarga. Dulu, berapa kali dalam 30 hari kalian meninggalkan keluarga untuk memenuhi jadwal berbuka sana sini? Bisa jadi lebih banyak buka puasa di luar daripada sama keluarga.

Aku tidak pernah menyesali apa pun yang sudah terjadi, tapi berusaha mensyukuri apapun yang sedang terjadi. Karena bagaimanapun, kita harus selalu berdamai dengan keadaan kan? Buat kalian yang tak bisa mudik tahun ini, atau mungkin harus rela menghabiskan lebaran di kost sendirian, bersabarlah, ratusan orang bernasib sama denganmu. Bersabarlah, percaya Allah akan mengganti kesedihanmu dengan kebahagiaan, meskipun entah kapan. Aku, masih dengan doa yang sama setiap tahun, semoga masih dipertemukan dengan Ramadan tahun depan.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓