Mengatur Keuangan selama Pandemi, Mengatur Kembali Prioritas Hidup

Endah Wijayanti28 Mei 2020, 10:15 WIB
Diperbarui 28 Mei 2020, 10:15 WIB
bebas bokek

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Resti Siti Noorlaila

Berjumpa dengan bulan Ramadan, sungguh hati begitu gembira mengingat akan keberkahan yang ada di dalamnya. Betapa tidak, Ramadan merupakan bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh umat muslim di segala penjuru dunia. Bulan di mana kebaikan bertebaran dan pahala dilipatgandakan. Siapa yang tidak ingin didoakan malaikat dan dimintakan ampun atas dosa? Siapa yang tidak ingin masuk ke dalam pintu ampunan yang dibuka selebar-lebarnya di bulan Ramadan? Tetapi, bulan Ramadan kali ini sungguh berbeda.

Ini adalah kali ketiga saya berpuasa bersama keluarga kecil yang dibina sejak 2018 lalu. Mengingat dua tahun ke belakang, Ramadan menjadi hal yang sangat menggembirakan. Saya ingat harus menyisihkan sebagian uang untuk mudik dan THR dengan hati riang, membeli amplop lebaran bergambar kartun, standby di depan komputer menunggu jadwal kereta pada tengah malam, dan ngabuburit saat akhir pekan sambil mencari baju atau sepatu baru.

Ya, saya akui bulan Ramadan adalah bulan pemborosan. Banyak pengeluaran yang kebablasan dan tidak terkontrol sehingga THR bisa ludes dalam sekejap, bahkan tidak bisa untuk menabung. Tetapi pikir saya, tidaklah mengapa. Toh, bulan Ramadan hanya sekali dan saya tidak menyesal menghabiskan uang untuk berbagi dan menyenangkan orang-orang di sekitar saya. Namun masalahnya, Ramadan kali ini berbeda karena dunia sedang didera pandemi. Keriangan Ramadan seakan tenggelam perlahan. Termasuk dalam hal keuangan.

Sejak awal Mei lalu saya diberhentikan dari pekerjaan terkait dengan bisnis perusahaan yang memang tidak lancar. Hanya uang pesangon yang diberikan, itu pun tidak seberapa karena perusahaan memang sedang pailit. Ditambah lagi dengan suami yang semuanya dipotong serba setengah, gaji dan tunjangan hari raya. Semua itu demi perusahaan agar tetap bertahan di tengah situasi ekonomi yang semakin memburuk.

Keuangan tak Stabil

Tips Keuangan/mlg
Ilustrasi./copyright unsplash.com/@belart84

Awalnya, saya kesal luar biasa. Marah. Memaki-maki dalam hati. Tidak hanya tidak bisa mudik tahun ini, tapi keadaan keuangan seperti ini membuat saya kacau balau. Ramadan yang biasanya merupakan bulan hura-hura karena saya bisa membeli apapun yang diinginkan, kini hanya tinggal kenangan. Berganti dengan keadaan yang lebih miris dengan kondisi keuangan yang tidak stabil.

Seakan Tuhan ingin memperingatkan saya, Tuhan menegur lewat hamba-Nya, para pemulung yang selalu mengorek-ngorek tempat sampah di depan rumah. Tanpa sandal, tanpa topi, hanya berlapis baju bolong-bolong, pemulung itu mengais rezeki dari sampah orang lain di tengah terik matahari bahkan di tengah derasnya hujan. Dari balik jendela, saya merasa hati bergetar karena malu pada pemulung itu. Di sana saya meminta ampunan sekaligus mengucap syukur.

Kemudian saya belajar. Keadaan ini merupakan materi yang sangat penting. Kejadian ini merupakan tamparan bagi saya untuk sadar. Saya teringat pada diri yang selalu memakai uang tanpa berpikir dua kali, pada diri yang selalu menghamburkan uang THR demi sesuatu yang tidak penting. Saya sekuat mungkin mengencangkan ikat pinggang. Saya berusaha untuk mengatur keuangan agak tidak morat-marit sampai meminjam kesana kemari, apalagi pada orangtua. Saya, yang terbiasa dimanjakan ketika bersama orangtua, kini harus mengatur sedemikian rupa agar uang dapat keluar di jalan yang benar.

Tidak ada lagi buka puasa di luar atau beli makan-makanan kesukaan seperti pizza atau minuman kekinian yang sangat saya sukai di Starbucks atau Chatime. Uang saya alokasikan sepenuhnya untuk belanja sayur dan sepenuhnya memasak di rumah. Lebih sehat, lebih murah. Tidak ada lagi kebiasan membeli baju baru, coba dulu mengacak-acak isi lemari dan mencari baju lama yang masih layak pakai. Suami pun bekerjasama untuk mengurangi jatah rokoknya, demi agar anaknya dapat membeli sebanyak apapun buah anggur kesukaannya. Bahkan suami rela untuk uang jajannya dipotong agar kami masih dapat memberi kepada orang tua dan orang-orang yang jauh lebih kesusahan daripada kami.

Mengatur Prioritas

money-kezo
ilustrasi./pexels

Ramadan kali ini pun saya tetap tidak bisa menabung. Namun seluruh uang dihabiskan di pos-pos pengeluaran yang benar. Bahkan saya dan suami masih bisa memberi kepada orangtua kami beserta adik-adik dan keponakan. Itulah yang penting, kami dapat membahagiakan orangtua meski hanya memberi yang tidak seberapa dan rasanya tidak sepadan dengan apa yang telah mereka berikan. Kami pun masih bisa bersedekah, juga berzakat di penghujung Ramadan.

Alhamdulillah, meskipun terkencing di sana-sini, saya bisa melewati Ramadan dengan kondisi keuangan yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini benar-benar menjadi pengajaran buat saya. Saya berlatih untuk mengatur keuangan, berlatih untuk memilah mana yang merupakan kebutuhan atau hanya keinginan. Saya jadi berpikir dua kali untuk membeli sesuatu, apalagi jika sedang iseng-iseng membuka aplikasi toko daring. Seakan Tuhan mengajarkan saya (yang notabene merupakan anak manja dan selalu diberi apapun sejak dulu) untuk menghargai apa pun yang diberikan dan menggunakan dengan bijak hal yang sudah diberikan itu.

Ke depannya, Ramadan ditengah pandemi ini akan menjadi pengingat bagi saya betapa saya harus tetap bersyukur dengan apa pun yang telah diberikan. Betapa saya harus beradaptasi dan tidak boleh egois jika nanti ada keadaan yang tidak memihak saya. Betapa di setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dan pelajaran yang bisa kita pelajari.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓