Semoga Pandemi Segera Berlalu dan Hidup Kembali Baik

Endah Wijayanti02 Jun 2020, 15:14 WIB
dijodohkan untuk menikah

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Ratna M.S

Cerita tentang Ramadan? Banyak sekali cerita di tiap Ramadanku. Tapi, kali ini akan kuceritakan Ramadan pertamaku ditemani Covid-19, pandemi yang menginfeksi Bumi.

Ramadan tahun ini kuawali dengan kegalauan yang mendalam. Bukan, bukan karena aku tak suka Ramadan. Justru aku menanti momen Ramadan dan Idulfitri. Kegalauan karena pandemi Covid-19 yang membuat semua orang tidak bisa menikmati Ramadan mereka dengan baik. Setiap hari aku melihat berita baik dari televisi, media cetak maupun portal berita online. Covid-19 menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Pandemi pun mengakibatnya ekonomi melemah, pendidikan tertunda, dan banyak hal lain yang bergejolak.

Dari awal Ramadan aku sadar, aku tahun ini Ramadan hingga Idulfitriku tak akan sama seperti tahun kemarin. Imbauan pemerintah akan social distancing, adanya larangan mudik hingga PSBB. Semua hal yang membuatku semakin sedih setiap harinya.

Awal tahun 2020 ini aku menikah dengan pria yang sudah bersamaku selama 2 tahun. Aku begitu senang membayangkan akan melewati Ramadan pertama dengannya, melewati Idulfitri pertama bersama keluarga besarnya dan keluarga besarku. Sebelumnya, aku tak sabar membawanya pulang ke kota ibuku. Ingin segera kukenalkan kepada saudara-saudaraku. Mengingat tahun lalu mereka selalu penasaran seperti apa calon suamiku kelak. Suamiku pun berpikiran hal yang sama. Tapi, semua harus kami tunda jauh-jauh. Kami tak bisa kemana-mana.

Tinggal di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur, dengan status zona merah membuat kami tidak bisa berkutik. Terlebih imbauan akan karantina apabila mudik membuat kami begitu bimbang. Tak pulang rindu, pulang kami takut juga akan menjadi carrier virus. Semua harapan kami berjumpa sanak saudara tidak bisa kami wujudkan. Bahkan untuk keluar jalan-jalan keliling kota, masuk mall pun kami tak bisa leluasa.

Aku yang tak pulang bertemu Ibuku semenjak awal tahun 2020 begitu rindu. Ibuku, seorang diri membesarkan adik-adikku di desa. Setiap hari aku memikirkan bagaimana kondisi Ibu, bagaimana adik-adikku bersekolah, bagaimana kondisi di rumah. Aku begitu ingin memeluknya, aku merindukannya. Tak kurang setiap hari aku berdoa semoga ibu dan adik-adikku disana selalu dalam lindungan Tuhan, dijauhkan dari virus pandemi ini.

Aku yang biasanya selalu semangat memasuki bulan Ramadan dan selalu menunggu momen kumpul keluarga, tahun ini hanya bisa bersapa lewat dunia maya. Hari ini, adalah hari ulang tahunku. Tahun lalu bisa kurayakan bersama ibu dan adik-adikku. Aku masih bisa memeluk mereka, aku bisa mengucapkan terima kasih kepada ibuku karena telah melahirkan dan merawatku, aku bisa meniup lilin di kue sederhana yang dibeli adik-adikku. Tahun ini, menahan isak tangis aku hanya bisa berterima kasih atas doa yang dipanjatkan lewat telepon dan pesan singkat.

 

Semoga Keadaan Segera Membaik

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Hal yang paling kutunggu selama Ramadan adalah ibadah bersama. Sesama muslim berkumpul ditempat ibadah, memanjatkan doa dan rasa syukur. Aku selalu terharu akan hal itu. Bahkan, tahukah apa yang kurindukan? Sebungkus nasi yang dibagikan masjid untuk berbuka puasa jamaahnya. Terdengar sederhana, bukan? Ya, tapi setiap aku membuka sebungkus nasi itu, memakannya sambil berkumpul dengan jamaah lain yang bahkan tidak aku kenal, menyapa dan mengucapkan selamat berbuka puasa, hal seperti itu selalu membuatku terharu dan rindu akan Ramadan. Akan tetapi tahun ini berbeda. Imbauan ibadah dari rumah digaungkan, banyak masjid menutup pintu bagi ibadah berjamaah dengan catatan tidak ingin menjadi tempat penularan Covid-19.

Tak ayal selama Ramadan kami menjalankan ibadah dari rumah. Salat tarawih yang begitu kurindukan kebersamaannya, tahun ini hanya kulakukan berdua dengan suamiku. Kami berdua indekos di dekat tempat kerjaku. Dalam kamar sering kami dengar tetangga yang tak seberuntung kami, mereka harus kehilangan pekerjaan, pulang ke desa tanpa biaya, ada yang dirumahkan, ada yang pendapatannya berkurang. Terkadang sampai tak kuat hati memandang kepada saudara-saudara kita yang harus mengalami itu semua.

Rasa syukur tak henti kuucapkan kepada Tuhan, aku dan suamiku tak kehilangan pekerjaan kami. Ya, kami tidak bisa pulang. Kami tidak ingin egois kepada keluarga kami, kami tidak ingin mereka tertular virus yang mungkin kami bawa dari tempat kami. Rindu bisa kami tahan, kami pulang karena ingin tetap menjaga kesehatan dan keselamatan keluarga kami. Kami terkadang keluar untuk melihat keadaan sekitar, dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Di luar, kami semakin miris melihat betapa Ramadan ini terasa begitu berat bagi banyak orang.

Kali ini, Ramadan telah usai, Idulfitri pun berlalu. Cerita apa yang dapat kuceritakan? Tak banyak, bahkan mungkin tak ada. Kerinduanku pada keluarga tak cukup hanya kutuangkan lewat tulisan. Kesedihanku akan sekitar tak cukup hanya kujelaskan lewat kata-kata. Aku hanya bisa memanjatkan doa kepada Tuhan, semoga pandemi segera berlalu.

Semoga kita bisa menjabat tangan keluarga tanpa kehawatiran. Semoga semua segera bisa berkumpul kembali dengan keluarga, kerabat dan rekan. Semoga yang kehilangan pekerjaan segera mendapat gantinya, semoga mereka yang bekerja sebagai garda depan selalu diberi kesabaran dan kekuatan. Semoga semua hal segera kembali baik, walaupun kita masih harus menerapkan new normal, setidaknya berjabat tangan dan tatap muka tetap menjadi normal bagi kita semua.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓