Memaafkan Bisa Membebaskan Sampah Jiwa dan Mendamaikan Hati

Endah Wijayanti03 Jun 2020, 12:45 WIB
jangan mudah percaya orang di dunia maya

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Rhey Kanakava

Ramadan tahun 2020 ini adalah bulan puasa ketiga yang hanya kulalui berdua dengan anakku setelah berpisah dengan mantan suami. Tidak ada yang spesial bahkan luar biasa karena Ramadan ini full beribadah di rumah setelah pemerintah memberlakukan social distancing dan lockdown. Tapi hikmah Ramadan tidak pernah mengecewakan dan selalu diridukan untuk bisa berjumpa lagi di tahun mendatang. Jika Allah ridhoi masih diberikan umur dan kesehatan untuk dipertemukan dengan bulan suci ini, semoga.

Perpisahan tidak selalu mudah untuk dilalui, bahkan buatku cukup sulit dengan banyak fase yang harus dilewati. Lima tahap dalam kesedihan dan kehilangan silih berganti kulalui dengan banyak banyak air mata. Meskipun bibir ini bisa tersenyum tapi rasanya hati berlubang tanpa bisa aku tambal dengan paripurna. Penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, hingga depresi bukan lagi hal baru dalam kehidupanku sebelum akhirnya bisa menyelesaikan The Kubler-Ross Grief Cycle dengan penerimaan.

Berada hampir 24 jam di rumah memberikan banyak waktu untuk aku habiskan dengan beristighfar memohon ampunan dan bertilawah selain melakukan ibadah wajib dan bekerja. Begitu pun banyak doa yang aku panjatkan sambil mengelus dada, memohon supaya Allah melembutkan dan membasuh segala luka yang ada di hati hingga tidak bersisa.

Berusaha Sabar

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Pada akhirnya rencana Allah memang paling baik dibandingkan rencana yang pernah aku susun sebelumnya. Di balik situasi pandemi ini, para hamba Allah dipaksa untuk belajar sabar, nerimo dan legowo. Begitupun aku, lebih banyak belajar untuk menerima segala situasi yang tidak menyenangkan dan menvalidasi semua rasa yang aku alami itu nyata. Dengan begitu aku menyadari, aku bukanlah korban dari keadaan. Baik rasa marah, kecewa dan sedih karena mengharapkan mantan suami bisa mengucapkan maaf, mengakui kesalahannya justru terasa mengganggu kedamaian jiwaku sendiri. Aku seperti memberi makan ego karena lagi-lagi tidak mengakui kesalahan diri sendiri, bahwa mengizinkan dia masuk dalam kehidupanku adalah pilihanku. Dan ketika pun sekarang kami berpisah adalah konsekuensi pilihanku. Aku memilih melepaskan orang yang tidak ingin bertahan.

Memaafkan kesalahan orang lain akan terasa berat kalau tidak datang dari hati. Jangankan kepada orang yang mengkhianati, ke diri sendiri pun perlu waktu untuk memaafkan. Dengan banyaknya peristiwa yang aku lalui, semakin besar rasa untuk belajar memaafkan kesalahan orang lain serta dari harapan yang tidak terpenuhi, walaupun tidak serta merta langsung rela dan ikhlas. Tapi aku akan menuju ke tahap itu segera, bukan sesuatu yang tidak mungkin karena berusaha menjadi lebih baik dari versi diri sebelumnya.

Melalui Ramadan kali ini Allah yang mempermudah jalanku untuk menerima semua yang sudah terjadi. Walaupun yang bersangkutan tidak pernah datang mengakui kesalahan dan meminta maaf, sudah bukan sesuatu hal yang mengganggu. Bahkan tidak perlu kutengok ke belakang untuk melanjutkan hidup. Memaafkan dan memberikan pengampunan adalah hal tertinggi dan segala bentuk hukuman atas kesalahan seseorang. Dengan begitu kita melepaskan beban, membebaskan sampah jiwa dan mendamaikan hati sehingga bisa menjalani kehidupan dengan lebih ringan. Memaafkan adalah level tertinggi dari pejuang kehidupan karena dia tidak pernah kalah menjadi abu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓