Bagaimana Cara Penularan Virus Ebola Antar Manusia?

Karla Farhana05 Jun 2020, 08:00 WIB
[Fimela] Ebola

Fimela.com, Jakarta Republik Demokratik Kongo (DRC) baru saja melaporkan kembalinya wabah Ebola yang hingga kini, telah menelan 5 korban jiwa sejak pertengahan Mei 2020. Virus Ebola (EVD), menurut World Health Organization (WHO), merupakan sebuah penyakit langka namun termasuk serius dan akut yang bisa berakibat fatal jika tidak diobati dengan cepat. 

EVD pertama kali muncul pada tahun 1976 dalam 2 wabah yang muncul serentak. Satu di Nzara, Sudan Selatan, dan satu lagi di Yambuku, Kongo. Laman WHO menulis, kasus Ebola terakhir muncul dekat Sungai Ebola, yang kemudian menjadi asal mula nama penyakit ini. 

Wabah yang terjadi antara 2014-2016 di Afrika Barat merupakan kasus terbesar sejak virus tersebut pertama kali ditemukan. Wabah dimulai di Guinea dan menyebar hingga melewati batas wilayah ke Sierra Leone dan Liberia. 

Virus Ebola ini sendiri memiliki 3 genera; Cuevavirus, Marburgvirus, dan Ebolavirus. Di dalam genus Ebolavirus, ada 6 spesies yang telah diidentifikasi sebagai Zaire, Bandibugyo, Sudan, Taï Forest, Reston, dan Bombali. Virus yang saat ini mewabah di DRC ternyata sama dengan yang muncul pada tahun 2014-2016 di Afrika Barat, yaitu spesies Zaire ebolavirus. 

Lantas, bagaimana virus Ebola ini berpindah dari manusia ke manusia begitu cepat? Berapa lama masa inkubasinya? 

Penularan Virus Ebola

DRC dipercaya berasal dari kelelawar pemakan buah yang berasal dari familia Pteropodidae. Virus ini kemudian bisa masuk ke dalam populasi manusia lewat kontak langsung dari darah, sekresi, dan organ atau cairan tubuh binatang yang terinfeksi virus trersebut. Bukan hanya kelelawar, ada juga beberapa binatang lain yang bisa menularkan virus Ebola, seperti simpanse, gorila, monyet, kijang hutan, atau landak yang sakit, mati, atau liar yang berada di dalam hutan. 

Virus ini kemudian menyebar dari manusia ke manusia lewat kontak langsung, seperti: 

  • darah atau cairan tubuh dari orang yang teinfeksi Ebola, atau jenazah dari orang yang meninggal karena virus Ebola
  • benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan tubuh (seperti darah, feses, muntahan) dari orang yang terinfeksi atau tubuh orang meninggal karena terinfeksi virus Ebola
  • pekerja medis yang terinfeksi pada saat merawat pasien Ebola
  • proses pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan tubuh pasien Ebola yang sudah meninggal
  • penularan lewat ASI pada ibu hamil atau setelah melahirkan yang terinfeksi virus ini 
  • Semen dari pria yang pulih dari Ebola tetap bisa membawa virus tersebut. Untuk itu, pasien sembuh Ebola harus menjalani tes semen dua kali sebelum bisa melakukan hubungan seksual dengan pasangannya tanpa pengaman

 

Sementara, kasus saat ini di Kongo masih berlangsung. 

#ChangeMaker

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓