Peneliti Perempuan Jadikan Pisang Hingga Rumput Laut Sebagai Suplemen Virus Corona

Meita Fajriana03 Jun 2020, 12:30 WIB
Penelitian terkait virus corona

Fimela.com, Jakarta Program Loreal UNESCO for Science in Science baru-baru ini memberikan kontribusi terhadap pandemi virus corona. Para pemenangnya melakukan penelitian terkait pandemi Covid-19. Para peneliti perempuan ini mencari solusi sebelum, saat, dan sesudah pandemi dengan menggunakan impelentasi science.

Berbagai penelitian dilakukan mulai dari menggunakan pisang, jamu, hingga pola sosial masyarakat yang dirasakan masyarakat akibat pandemi virus corona ini. Lantas seperti apa saja penelitian yang dilakukan sederet perempuan hebat yang berprofesi sebagai peneli ini?

Berikut penjelasannya yang dirangkum Fimela, Jumat (29/5/2020).

1. Pisang sebagai sumber senyawa antiviral

Dr. Fenny Martha Dwivany bersama timnya, yaitu The Banana Group ITB memfokuskan penelitiannya pada bidang biologi molekuler dengan pisang sebagai model, karena Indonesia merupakan pusat keragaman genetik dan penyebaran pisang di dunia.

"Indonesia memiliki banyak genetik pisang yang beragam, ini sebabnya kami buat untuk senyawa antiviral sehingga dapat menjadi obat virus corona," kata Fenny.

Dalam penelitian ini Fenny juga mengajak peneliti lainnya di luar negeri menggunakan Bali Banana Smart Village menjadi model untuk studi ketahanan kesehatan, pangan maupun ekonomi terhadap pandemi virus corona serta menggali potensi keragaman genetik pisang Indonesia sebagai sumber senyawa antiviral yang akan digunakan sebagai rekomendasi kepada pemerintah.

2. Jamu sebagai anti-virus untuk meningkatkan imunitas

Berkolaborasi dengan sesama pemenang peneliti perempuan dari Loreal, Sri Fatmawati, S.Si, M.Sc, Ph.D dan Dr. Fenny Martha Dwivany, membuat proposal riset mengenai penggunaan bahan alam seperti jamu sebagai pencegahan dan anti-virus serta untuk meningkatkan imunitas. Fatma dengan keahlian sebagai kimiawan organik bahan alam, mengungkapkan potensi bahan alam Indonesia dalam pandemi ini sangat baik untuk dikembangkan.

"Tantangan melakukan penelian saat pandemi ini yaitu harus bekerja di laboratororium. Bahkan saya membuat laboratorium di rumah tentunya untuk senyawa yang tidak berbahaya seperti melakukan ekstrak," kata Fatma.

3. Manajemen ekonomi saat pandemi

Dr. Eng. Yosi Agustina Hidayat S.T., M.T. dengan keahliannya dalam Sistem Industri dan Tekno- Ekonomi (KK-SITE), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Bandung ini melakukan penelitian tentang transportasi barang untuk pemasok kebutuhan selama pandemi.

Riset yang dilakukan terkait Rekayasa Manajemen Rantai Pasok, Transfer Teknologi, dan Management Science. Terkait kondisi Pandemi Covid-19, terdapat penelitian yang bersifat makro dan mikro yang sedang dijalankannya. Penelitian makro berupa manajemen risiko dan regulasi dari pemerintah serta solusi untuk UMKM dalam menghadapi kondisi pandemi.

Sementara penelitian mikro terkait perilaku konsumen dan transformasi digital terhadap produk kecantikan. Juga tentang penjadwalan tenaga medis dan aliran pasien di rumah sakit selama masa pandemi.

 

4. Alga sebagai suplemen antivirus Covid-19

Penelitian terkait virus corona
Pisang hingga alga atau rumput laut dijadikan sebagai anti virus corona oleh para peneliti perempuan dari Loreal UNESCO for Woman in Science/ Gustavo Fring from Pexels

Asmi Citra Malina, S.Pi., M.Agr, Ph.D melakukan penelitian di bidang maritim atau pengelolaan potensi sumber daya kelautan. Penelitian terhadap bahan alam laut seperti alga atau rumput laut untuk mengembangkan suplemen maupun obat antivirus serta Comorbid Covid-19, serta berencana akan mengembangkan potensi sumber daya alam laut lainnya seperti teripang, bintang laut, dan lainnya untuk keperluan pengembangan suplemen maupun obat tersebut.

Sebagai Kepala Subdit Inovasi di Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan Universitas Hasanudin, ia juga sebagai salah satu tim peneliti dalam membuat dan mengembangkan ventilator untuk kebutuhan rumah sakit dan Puskesmas yang sangat membutuhkan serta berencana mengembangkan robot untuk membantu penyemprotan desinfektan pada pemukiman padat.

 

5. Deteksi dini sebagai pencegahan penyebaran virus corona

Penelitian terkait virus corona
Pisang hingga alga atau rumput laut dijadikan sebagai anti virus corona oleh para peneliti perempuan dari Loreal UNESCO for Woman in Science/ Anna Shvets from Pexels

Dr. Ratih Asmana Ningrum saat pandemi Covid-19, ia menjadi front liner pada kegiatan deteksi virus SARS CoV-2 di Fasilitas Biosafety level-3 LIPI. Ia terlibat dalam riset pengembangan kit deteksi cepat virus SARS CoV-2 berbasis RT LAMP, pemetaan genom virus, dan pengembangan robot sterilizer AUMC kerja sama LIPI dan Telkom University. Ia juga berperan aktif dalam pelatihan penanganan virus corona untuk para front liner dan relawan, yang diselenggarakan oleh LIPI.

Selain kelima peneliti perempuan hebat ini ada 10 peneliti lainnya yang juga melakukan riset berkaitan dengan kondisi pandemi saat ini. Diharapkan penelitian yang mereka lakukan memberikan solusi langsung bagi masyarakat untuk menghadapi pandemi virus corona ini. Baik dari sektor pra pandemi, saat terjadi pandemi, hingga pasca pandemi.

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓