Serunya Berkebun dari Sisa Bahan Dapur!

Endah Wijayanti28 Jun 2020, 10:15 WIB
berkebun dari dapur

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Dwi Purwati

Tinggal di kota yang padat penduduk dan terkenal sibuk. Pagi, siang, sore, malam semua penuh orang berlalu lalang. Berangkat pagi pulang petang. Sampai lupa rasanya antara siang dan malam. Kemudian pandemi virus Corona datang. Dan aku merasakan tiba-tiba semua berubah. Tempat-tempat yang ramai menjadi sepi, jalanan lengang. Dunia yang baru sepertinya sudah datang.

Ibadah di rumah, belajar di rumah, bekerja di rumah sampai belanja semua kebutuhan dari rumah. Seratus persen waktu dalam  sehari semua dilakukan di rumah. Untuk mengusir penat dan bosan dari paparan layar laptop dan gawai, aku mencoba beberapa hal baru. Salah satunya bertanam. Hal yang tak pernah terpikirkan untuk dilakukan di sini.

Menanam dan berkebun sudah menjadi rutinitas harian. Berawal dari satu-dua tanaman, tiga-empat tanaman, lima, enam, eh sepuluh, wah jadi dua puluh. Tidak menyangka rasanya. Semua berawal dari dapur, membuat stok daun bawang dan seledri yang beli dari pasar. Ternyata dapat sampai akar dan batangnya. Agar tidak layu dan bisa bertahan beberapa hari aku mencoba untuk menanamnya di dalam botol bekas yang kujadikan pot. Sungguh ala kadarnya. Ternyata tumbuh dan menjadi tidak layu, meskipun tidak subur-subur amat. Setiap hari kutengok, senang rasanya melihat tanaman daun bawang dan seledriku bisa bertahan.

Mulai dari situ, akhirnya aku menjadi ketagihan untuk bertanam. Mulai belajar dan mencari info untuk home gardening. Akhirnya memutuskan untuk membeli media tanam yang lebih layak agar tanaman mendapat nutrisi yang cukup. Dari daun bawang dan seledri, bertambah wortel, selada, sawi, kunyit, jahe, sampai kencur sisa bahan dapur. Apa yang kiranya bisa tumbuh dan ditanam, aku coba untuk menanamnya. Lanjut kemudian punya benih cabai dan tomat, meskipun belum berbuah matang sampai sekarang tapi aku senang. Mereka tumbuh dengan baik.

Berkebun Memberi Dampak Positif

Daun seledri
ilustrasi/copyright shutterstock.com

Membaca dan mengorek tentang dampak berkebun, ternyata benar manfaat berkebun itu luar biasa. Dengan berkebun, berarti berinteraksi dengan alam. Belajar berproses dari tanaman yang tumbuh. Belajar, dari sesuatu yang kuanggap sampah dan tidak berguna ternyata luar biasa sekali bermanfaat. Sisa bahan dapur yang biasanya dibuang begitu saja, ternyata adalah harta karun yang kusia-siakan selama ini. Sampai pada tahap aku merasa sayang dengan tanaman-tanamanku. Dan mungkin beberapa orang yang tidak memahami, menganggapku gila karena mengobrol dengan tanaman di beberapa waktu tertentu.

Berkebun ternyata membuatku merasakan lebih peka dengan sekitar. Menghargai proses alam yang merupakan tempat asal-muasal makhluk, termasuk aku. Rasanya bahagia melihat tanaman bisa tumbuh dengan baik. Berawal dari biji kecil yang hampir seperti butiran pasir (contoh biji sawi dan bayam), kemudian tumbuh menjadi setitik benih dan terus tumbuh menjadi tanaman yang berkali-kali lipat besarnya.

Ketika panen meskipun ada perasaan sedikit kehilangan yang bercampur bangga bisa dipanen juga hasilnya kemudian mengolahnya menjadi makanan, rasanya menjadi nikmat tiada tara. Ada perjuangan dan kasih sayang di setiap makanan yang masuk ke dalam perut. Berkebun juga mengajarkan untuk selalu memiliki pengharapan. Harapan supaya tumbuh dengan baik dan bisa mendatangkan manfaat. Tentunya diiringi dengan berbagai usaha. Memastikan tanaman mendapat asupan nutrisi dan air yang cukup, memastikan bebas hama dan gulma. Masih banyak lagi pelajaran dan manfaat yang diperoleh dengan berkebun.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓