Menghijaukan Sekolah Dimulai dari Langkah Sederhana

Endah Wijayanti30 Jun 2020, 11:45 WIB
menghijaukan sekolah

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Novita Prima

Semua ini bermula sejak kepindahan kami ke gedung sekolah yang baru, tepatnya 5 tahun silam, pada medio Juli 2015. Gedung sekolah kami yang baru adalah sebuah gedung berlantai empat tanpa halaman luas. Bila sekolah pada umumnya memiliki halaman berupa hamparan lapangan olahraga yang luas di depan sekolah dan dipermanis oleh gerumbulan pepohonan serta taman-taman mini tepat di depan ruang kelas, sekolah kami tidak memiliki semua hal itu.  

Sekolah kami didirikan di atas lahan yang terbatas luasnya, namun sekolah kami memiliki lapangan olahraga semi terbuka semacam rooftop yang dimodifikasi, letaknya berada di lantai teratas gedung sekolah. Di sekeliling lapangan tidak ada satu pun pepohonan yang menghiasi, yang ada hanya besi-besi mengilap berjajar rapi mengelilingi lantai teratas gedung ini dan befungsi sebagai pagar perlindungan agar bola sepak ataupun bola-bola lain yang sedang dimainkan oleh murid-murid ketika jam istirahat atau ketika kelas olahraga berlangsung tidak melambung keluar dan jatuh menggelinding ke atap bangunan sekitar atau ke jalanan.

Tak ada hal menarik yang dapat dinikmati di lapangan semi terbuka itu, kecuali birunya langit, sepoinya angin, dan kegembiraan anak-anak yang sedang bermain bersama dengan   sebayanya. Hingga tibalah kami pada masa tengah senester gasal atau sekitar Oktober 2015, sekolah kami mengumumkan tentang pengumpulan botol-botol plastik bekas untuk proyek tanaman hidroponik. Proyek ini nantinya wajib dilakukan oleh seluruh warga sekolah. Ide ini berawal dari keinginan sekolah untuk memanfaatkan kembali botol plastik bekas pakai dan menghadirkan ruang hijau di area sekolah meskipun ada keterbatasan lahan.

Proyek tanaman hidroponik ini melibatkan interaksi warga sekolah secara langsung. Pada mulanya, saya bersama dengan rekan guru lainnya mengajak seluruh murid untuk mengumpulkan botol-botol bekas minuman ringan ataupun air mineral. Botol bekas tersebut nantinya akan dipakai sebagai pot tanaman hidroponik, sedangkan penutup botolnya dipergunakan sebagai penopang tanaman hidroponik yang baru tumbuh dan dipindahkan bersama dengan rockwool-nya (rockwool adalah media tanam hidroponik tempat diletakkannya biji tanaman).

Proses pengumpulan botol ini otomatis mengubah kebiasaan murid-murid dalam memperlakukan botol bekas, kebiasaan saya dalam mengarahkan mereka ketika membuang sampah pun turut berubah. Bila sebelumnya tak henti saya menghimbau mereka untuk membuang sampah apapun pada tempatnya, kini saya meminta mereka untuk memisahkan botol plastik bekas dari sampah lainnya. Jadi, botol-botol bekas tersebut mendapat perlakuan istimewa dari murid-murid ketika mereka selesai memakainya.

Botol bekas tersebut akan diletakkan berjajar di rak barang serbaguna yang terletak muka kelas. Ketika botol-botol telah terkumpul cukup banyak, maka kami akan membuatnya menjadi pot tanaman hidroponik yang kemudian akan dirangkai sedemikian rupa hingga beberapa botol yang dilubangi secara horizontal dapat disusun secara menggantung. Gantungan botol bekas sebagai pot tanaman hidroponik itu kemudian dicat warna dan jika telah mengering catnya, pot tanaman hidroponik akan digantungkan di pagar besi yang mengelilingi lapangan rooftop modifikasi ala sekolah kami.

Saat proyek tanaman hidroponik resmi dilakukan oleh seluruh warga sekolah, rutinitas pagi kami pun sedikit berubah olehkarenanya. Jika sebelum adanya proyek hidroponik seusai berbaris di pagi hari kegiatannya adalah rutinitas kelas, yakni belajar dan mengajar, namun kala proyek ini berjalan kami tidak langsung memulai kelas. Setiap pagi ada murid piket yang betanggungjawab untuk merawat, mengamati, mengganti air, dan menyemprot atau menyiram deretan tanaman hidroponik. Tugas yang sama juga dilakukan saat menjelang pulang sekolah pada sore hari, ada murid piket yang akan menengok keadaan tanaman hidroponik. Di kelas saya, saya dan murid-murid bersepakat bahwa yang bertanggungjawab merawat tanaman hidroponik setiap harinya adalah murid yang sedang bertugas piket sesuai dengan jadwal piket kelas.

Awalnya, saat baru saja menerapkan semua ini, kami kerap lupa untuk menengok tanaman hidroponik kami. Ada beberapa hal yang mempengaruhi hal ini. Hal pertama tentu saja, karena kami belum terbiasa melakukannya dan hal berikutnya karena tanaman hidroponik kami terletak di lantai empat gedung sekolah kami, sedangkan ruang kelas kami berada pada lantai tiga, maka tanaman hidroponik ini tidak langsung terlihat mata, jika kami tidak naik. Seringkali, saya yang lupa akan rutinitas dan kebiasaan baru ini, setelah kegiatan berbaris dan para murid masuk kelas, lalu saya memulai kelas begitu saja, spontan saja mereka mengingatkan saya bahwa pagi itu petugas piket belum ada yang menengok tanaman hidroponik.

Terkadang di lain hari saat mereka yang lupa gantian sayalah yang mengingatkan mereka. Lambat laun kami terbiasa dengan rutinitas baru kami, hingga waktu panen tanaman hidroponik tiba, mereka bersukacita menuai hasilnya. Karena telah terbiasa dan menikmati seluruh prosesnya, jenis tanaman hidroponik yang kami tanam pun seiring berjalannya waktu makin variatif dan berganti-ganti jenisnya. Pada awal menanan kami mencoba biji bayam merah dan merawatnya hingga panen tiba, kemudian saat tanam berikutnya mereka ingin mencoba menanam biji lain, pok coy misalnya, lalu di saat-saat lainnya kami juga pernah menanam beberapa biji tanaman yang berlainan dalam waktu bersamaan.

Perubahan Lebih Baik

berkebun dari dapur
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Namoyim

Kini, setelah beberapa tahun berlalu sejak dimulainya pengumpulan botol-botol bekas untuk proyek tanaman hidroponik, kami masih tetap mengumpulkan aneka macam botol bekas berbagai warna dan beragam ukuran. Botol-botol bekas tersebut tak hanya dipergunakan untuk pot tanaman hidroponik saja, melainkan juga digunakan untuk bahan dasar pembuatan barang bermanfaat lain, di antaranya adalah gantungan kunci, kotak pensil, hiasan pohon natal, penyuling air, hingga pengganti tali kur dan tali rafia pun kami buat dari botol bekas yang dipotong tipis memanjang sehingga dapat dipergunakan sebagai tali serbaguna.

Kegiatan yang pada awalnya ditujukan untuk memberikan sentuhan hijau pada sekolah kami melalui tanaman hidroponik yang diletakkan pada pot botol bekas, pada akhirnya secara tidak langsung berkembang pada kreativitas lain dengan tetap memanfaatkan botol-botol plastik bekas sebagai media utamanya.

Mungkin kegiatan mengumpulkan botol-botol bekas pakai, merawat tanaman hidroponik secara rutin, dan mengkreasikan botol bekas menjadi beragam barang bermanfaat terlihat biasa saja karena telah banyak orang di luar sana yang melakukannya, namun bagi saya, hal ini tetap saja merupakan tantangan tersendiri untuk diperkenalkan dan diterapkan pada murid-murid. Tak jarang juga hal-hal baru yang saya terapkan di sekolah, seringkali terbawa ke rumah dan terpakai untuk mendidik anak-anak, terkadang juga sebaliknya hal yang telah  saya pakai dan terapkan di rumah beberapa seringkali terbawa ke sekolah, dan jika memang cocok digunakan pada situasi tertentu, maka akan saya terapkan pula pada murid di sekolah.

Menerima perubahan bukanlah hal yang mudah dan terkadang pula kita dibuat kepayahan karenanya, namun bukankah semua hal akan menjadi mudah dan bisa dilakukan bila kita telah terbiasa melakukannya. Maka tak ada hal lain yang dapat dilakukan kecuali mau memulai kemudian beradaptasi dengan perubahan itu sendiri hingga nantinya kita dapat menerima perubahan tersebut tentu dengan segenap manfaatnya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓