5 Bentuk Pelecehan Seksual yang Sering Dialami Perempuan

Imelda Rahma02 Jul 2020, 19:35 WIB
Pelecehan Seksual

Fimela.com, Jakarta Sebagai perempuan, kita selalu dihantui oleh bahaya pelecehan seksual yang bisa dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Oleh karena itu, tidak heran jika perempuan sering mengalami insecure tentang keamanan dan posisinya dalam masyarakat karena berbagai stigma buruk mudah tertempel pada diri perempuan.

Isu pelecehan seksual sering digaungkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam ranah perjuangan hak-hak perempuan bukan untuk menindas kaum pria tetapi berupaya agar tidak ada lagi perempuan yang mengalami penghinaan. Pasalnya apabila seorang perempuan mengalami pelecehan seksual itu bukan hanya tubuhnya tetapi kondisi psikisnya yang terguncang.

Terlepas dari budaya patriarki yang sampai saat ini masih ada, perempuan berhak untuk memperjuangkan harga dirinya untuk terhindar dari tindak pelecehan seksual bahkan tidak ada satu orangpun perempuan yang pantas mendapatkan perlakuan tersebut. Ketika para perempuan berusaha menuntut hak-nya justru seringkali disalah artikan sebagai sikap feminisme garis keras yang tidak pantas.

Buka hati dan buka mata, masih ada banyak kejadian pelecehan seksual yang tidak disadari oleh korban maupun pelakunya. Untuk itu, Fimela.com kali ini akan mengulas 5 bentuk pelecehan seksual yang sering dialami oleh perempuan. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Rayuan dan Godaan yang Tidak Pantas

Rayuan dan Godaan yang Tidak Pantas
Ilustrasi Pelecehan Seksual Credit: pexels.com/cottonbro

Bentuk pelecehan seksual yang sering dialami perempuan pada urutan pertama dan yang paling mudah terjadi ialah komentar atau rayuan yang sifatnya menggoda dan menjurus ke arah-arah seksual. Bentuk pelecehan ini biasa disebut dengan istilah ‘cat calling’ yang kerap kali terjadi di tempat-tempat umum.

Contoh bentuk pelecehan ini adalah ketika seorang perempuan berjalan lalu secara tiba-tiba ada seorang pria yang memanggil atau memberikan komentar secara tiba-tiba namun dengan kalimat atau sapaan yang tidak pantas dan mengarah ke seksualitas. Tentunya kejadian ini yang terjadi di tempat umum akan membuat banyak perempuan merasa tidak nyaman bahkan merasa direndahkan.

Sentuhan Fisik Secara Paksa

Sentuhan Fisik Secara Paksa
Ilustrasi Sentuhan Fisik Credit: pexels.com/cottonbro

Lebih ekstrim dari sekedar rayuan, bentuk pelecehan seksual berikutnya ialah sentuhan fisik secara paksa seperti menggenggam tangan, memegang bagian tubuh tertentu, hingga memeluk dan menggerayangi secara paksa. Tentunya ini sudah merupakan bentuk pelecehan seksual yang melanggar hukum dan akan mengarah pada percobaan pemerkosaan.

Tidak ada perempuan yang mau diperlakukan seenaknya seperti itu. Walaupun kerap kali dianggap lebih lemah dibanding pria dalam status sosial di masyarakat akan tetapi raga yang dimiliki adalah hak setiap perempuan dan itu harus dihormati oelh siapapun. Pelecehan seksual yang sudah melibatkan sentuhan fisik tentunya akan membuat korban trauma hingga mengalami gangguan jiwa akibat merasa telah ternodai.

Pelecehan Gender

Pelecehan Gender
Ilustrasi Pelecehan Gender Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Selain rayuan ‘cat calling’ dan sentuhan fisik, pelecehan seksual juga bisa mengarah pada pelecehan gender. Bentuk dari pelecehan gender ini ialah saat hal-hal yang bersifat perempuan dijadikan bahan ejekan atau candaan yang tidak layak didengar.

Seringkali kita menemukan konten candaan berseliweran di internet dan media sosial, itu merupakan salah satu bentuk pelecehan gender yang seharusnya tidak patut dilakukan. Apalagi konten yang mengatakan bahwa pemerkosaan sepenuhnya adalah salah perempuan karena berpakaian tidak pantas, kata-kata seperti itu akan menyakitkan hati perempuan dan mengeneralisir bahwa kesalahan letaknya pada perempuan padahal pelakunya pria.

Ancaman atau Pemaksaan Seksual

Ancaman atau Pemaksaan Seksual
Ilustrasi Ancaman Seksual Credit: pexels.com/pixabay

Keempat, bentuk pelecehan seksual lain yang sering terjadi pada perempuan ialah adanya tindakan mengancam ke arah seksual yang sifatnya memaksa. Perilaku ini terkait seks yang disertai ancaman hukuman. Artinya, seseorang dipaksa melakukan perilaku yang tidak diinginkannya. Jika tidak, ia diberi ancaman hukuman tertentu. Bisa berupa pencabutan promosi kerja, evaluasi kerja yang negatif, ancaman terhadap keselamatan diri atau keluarga, hingga ancaman teror dan pembunuhan.

Tentunya bagi perempuan ini adalah sesuatu yang dilema, bahkan bisa jadi demi memertahankan mimpi dan pekerjaannya ia terpaksa dilecehkan secara seksual. Apabila kamu mengalami hal demikian, tidak seharusnya kamu membenarkan dan mengiyakan, lawan dan tunjukkan bahwa sebagai perempuan kamu pantas dihargai.

 

Penyuapan Seksual

Penyuapan Seksual
Ilustrasi Penyuapan Seksual Credit: pexels.com/pixabay

Terakhir, bentuk pelecehan seksual yang sering terjadi pada wanita ialah aksi penyuapan seksual. Perilaku ini berupa permintaan aktivitas seksual dengan janji imbalan yang dilakukan secara terang-terangan. Misalnya seorang wanita/pria mengajak seorang anak melakukan hubungan intim dengan iming-iming uang, asalkan ia tidak memberitahukannya kepada orang lain.

Penyuapan seksual memanfaatkan ketakutan korbannya untuk melayani kegiatan seksual terlarangnya. Tentu sebagai perempuan yang bermartabat harus memahami konsep bahwa harga diri adalah harga mati yang sebaiknya tidak kamu gadaikan untuk hal-hal tersier yang sebenarnya tidak kamu butuhkan.

 

Lanjutkan Membaca ↓