8 Cara Memberitahu Anak-Anak jika Orangtua Bercerai

Novi Nadya04 Jul 2020, 09:00 WIB
perceraian

Fimela.com, Jakarta Perceraian menjadi topik yang sangat sulit sekaligus emosional untuk dibicarakan dengan anak-anak. Namun para orangtua bercerai harus tetap memberitahukan pada anak-anak.

Berikut ini beberapa saran profesional tentang cara menyampaikan kabar perceraian pada anak-anak melansir dari readerdigest.com; 

Rencanakan dengan baik

Kesalahan paling umum yang orangtua bercerai lakukan pada anak-anak mereka adalah memberitahu terlalu dini. Padalah anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam proses, pengambilan keputusan, atau konflik seperti disampaikan psikoterapis dan penulis The A to Z Guide to Raising Happy, Confident Kids Dr. Jenn Mann, PhD.

"Orangtua seharusnya hanya memberi tahu anak-anak mereka akan bercerai setelah mengajukan proses, menemukan rumah baru, dan memiliki tanggal pindah yang sudah ditentukanm" ujarnya. 

Cara terbaik memberitahu anak menurutnya adalah disampaikan kedua orangtua bersama-sama tanpa saling menyalahkan. Jika memiliki anak lebih dari satu, cara terbaiknya adalah memberi tahu secara bersamaan.

 

Beri perhatian ekstra pada anak-anak

Setelah memberitahukan anak-anak, beri perhatian lebih saat anak-anak berbicara dan bersikap. Jika orangtua kewalahan bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog untuk membantu keluarga melewati masa transisi yang sulit. 

"Jika melihat anak-anak menangis, depresi, cemas, berkurangnya minat daam kegiatan, dan mengamuk atau tidak bisa menahan emosi, orangtua bisa mencari profesional untuk individu dan keluarga agar mengurangi rasa sakit, memproses perasaan dan pikiran, membuka komunikasi, dan mencegah masalah di masa depan," ujar Psikolog Ridgewood, NJ Frank J. Sileo, PhD.

 

Pertimbangkan untuk menghubungi guru anak

Bisa jadi orangtua ingin memberi tahu guru di sekolah anak tentang perceraian atau perpisahan. Tujuannya guru bisa melaporkan sikap anak yang berubah setelah orangtuanya bercerai.

"Guru dapat melaporkan kepada anak segala perubahan dalam perilaku anak dan prestasi akademik," kata Dr. Sileo.

 

 

Meyakinkan anak-anak tidak disalahkan

Menurut Dr. Sileo, anak-anak biasanya mencari alasan mengapa orangtuanya bercerai. Pikiran dan imajinasi mereka yang luas bisa saja mengatakan "Jika aku hanya berperilaku lebih baik...," "Jika aku lebih baik di sekolah...,' "Jika aku tidak sering bertengkar dengan kakakku...," dan masih banyak lagi. 

Orangtua harus meyakinkan jika perceraian sama sekali bukan kesalahan mereka. Caranya adalah memberi anak-anak untuk memberi kesempatan untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya.

 

 

Jangan lampiaskan amarah pada anak

Menjadi normal bagi anak-anak untuk marah dan mencari seseorang untuk disalahkan menurut Dr. Mann. Normalisasi perasaan mereka dan jangan tersinggung.

"Biarkan mereka terluka, marah, dan kecewa tanpa merinci atau menyalahkan tentang akhir pernikahan. Sangat ideal jika orangtua mengambil posisi jika keputusan tersebut diambil secara bersama demi kepentingan semua orang," ujar Dr. Mann.

 

 

Mengakui jika anak-anak cukup intuitif

Jangan terlalu terkejut jika anak sudah memiliki firasat orangtuanya bercerai. Mann mengatakan anak-anak mencerna banyak hal yang terjadi di rumah tangga baik secara sadar dan tidak sadar.

"Mereka sering tahu perceraian akan datang sebelum diberitahukan."

 

 

Pilih kata-kata dengan bijak

Jika penyebab perceraian karena perselingkuhan, Dr. Mann menyarankan untuk mengabaikan hal tersebut dan tidak menyampaikannya pada anak-anak. Sebab perselingkuhan hanya akan menciptakan lebih banyak kecemasan bagi mereka.

"Anak-anak tidak menyadari jika masalah ini rumit. Lebih baik lindungi mereka dari bahasan perselingkuhan," ujar Dr. Mann.

 

 

Mencari bimbingan profesional

Jika masih tidak yakin cara menyampaikan perceraian pada anak, berkonsultasilah dengan terapis hubungan. 

"Berbicara dengan seorang profesional kesehatan mental dapat membantu mendapatkan nasihat tentang cara menangani reaksi anak, bagaimana, kapan, dan apa yang harus dikatakan sesuai usia dan tahap perkembangan mereka," ujar Dr. Sileo.

Pastikan tidak mengajak anak saat sesi terapi. Sampai sudah mantap mengatur rencana seperti melihat tahap nomor satu.

 

Simak Video Berikut

#ChangeMaker 

Lanjutkan Membaca ↓