Kompleksnya Situasi Bisa Membuat Kita Merasa Asing dengan Keluarga Sendiri

Endah Wijayanti09 Jul 2020, 13:35 WIB
meluangkan waktu menyendiri

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: A

Hampir setiap orang yang saya kenal tidak berasal dari keluarga yang bisa dibilang ideal. Setiap mereka punya konflik dan ketidakseimbangannya masing-masing. Begitu pun dengan saya, terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dalam kondisi ekonomi yang tidak bisa dibilang berkecukupan, kami tumbuh dengan penuh dinamika. Dibesarkan oleh orangtua yang juga membawa luka pengasuhan masa lalu, tentunya gaya pengasuhan yang mereka terapkan pun jauh dari kondisi ideal.

Jika ditanya apakah saya membenci keluarga dan orangtua saya? Rasanya kata benci tidak bisa mewakili kompleksnya perasaan yang saya punya. Dibanding kebencian, yang saya rasakan justru ketakterhubungan.

Kami mungkin terlihat dekat, namun secara batin kami tidak terkoneksi, ya setidaknya saya sendiri merasa seperti itu. Rasa yang terputus inilah salah satu alasan mengapa saya memilih untuk merantau jauh dari rumah. Sesak karena merasa saya bukan bagian dari tempat yang seharusnya bisa saya sebut sebagai “rumah” itu.

Hampir tidak ada rindu yang muncul dari keputusan saya melangkah hingga ke pulau seberang. Absennya rasa rindu ini juga menjadi penyebab jarangnya saya pulang. Dulu teman-teman saya sering mengira saya sangat kuat karena tidak merasakan homesick bahkan sejak hari pertama saya tidur di asrama kampus yang asing dan jarang sekali pulang kampung. Sedikit yang mereka ketahui, rasa asing dan dinginnya ranjang asrama menurut saya tidak terlalu berbeda dengan yang saya rasakan di rumah. Rasa asing yang juga membuat saya merasa tidak dirindukan.

Meski begitu, saya tidak memiliki keinginan untuk membangun keluarga milik dan versi saya sendiri. Saya tidak yakin punya kapabilitas yang tepat untuk mencintai ataupun layak untuk dicintai seseorang. Saya ingat sekali pada salah satu mata kuliah saya di mana sang dosen meminta para mahasiswanya untuk membuat sebuah pohon daftar impian, saya bahkan tidak memasukkan pernikahan dan memiliki anak di dalamnya. Lucunya, saya bahkan tidak menyadari ada yang janggal di dalam pohon impian milik saya jika teman sebangku saya tidak bersorak, “Lo nggak mau nikah dan punya anak?”

Jika diri saya-satu-dekade-lalu bertemu dengan diri saya yang sekarang, dia mungkin tidak akan percaya saat ini saya bahkan sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Manusia bisa berubah, bahkan ketika dia sendiri tidak yakin mau dan mampu untuk melakukannya. Orang yang tepat bisa datang ke kehidupanmu dan membuatmu berubah pikiran tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kau pikirkan sebelumnya.

Membangun Keluarga Sendiri

mendidik anak kembar
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Pisit+Sangkaboad

Ya, pertemuan saya dengan suami saya sekarang membuat saya bisa percaya bahkan jiwa saya yang sering dikatai oleh ibu saya sendiri sebagai jiwa yang kering kerontang ini sanggup untuk belajar mencintai dan layak untuk menerima cinta tanpa syarat.

Apakah kini “keluarga” yang saya miliki sudah ideal? Saya percaya, apa yang kami punya saat ini, meski jauh dari sempurna, namun penuh dengan kehangatan. Kehangatan yang saya rindukan dan butuhkan. Kehangatan yang mampu mencapai dan merangkul hati saya yang “kering”.

Meski ibu saya masih tidak mampu memahami saya dan dia bahkan tampak tidak paham mengapa suami saya sudi mencintai saya yang penuh dengan cela ini, saya sangat bersyukur dengan apa yang kami punya. Saya tidak lagi mencari yang tidak ada, dan fokus pada apa yang saya punya.

Kau pun, terlahir dengan kisah seperti apa pun, berhak untuk dicintai dan mencintai. Jangan biarkan penilaian orang lain menjadi titik mati untuk konsep dirimu sendiri. Di luar sana, ada seseorang yang menunggumu untuk menyambut tangannya dan membangun “rumah” milikmu sendiri.

Kau hanya harus membuka tangan dan biarkan Dia bekerja dengan cara-Nya yang misterius. Tak usah tergesa, percaya saja dan hiduplah dengan kepala tegak hingga kau temukan dia yang tangannya ingin kau genggam menyusuri jalan kehidupan yang tak ramah ini. Seperti kata pepatah lama, “Semuanya akan indah pada waktunya."

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓