Kehilangan Ayah Tercinta Bukan Berarti Hidup Tenggelam dalam Kesedihan Selamanya

Endah Wijayanti11 Jul 2020, 09:45 WIB
menulis jurnal

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Ratna Novita

Saya adalah anak sulung dari tiga bersaudara, adik saya 2 orang, laki-laki dan perempuan, jadi untuk pembagian kasih sayang, adil deh. Aaya disayang karena anak sulung, adik saya disayang karena anak laki-laki satu-satunya, dan yang kecil disayang karena anak bungsu.

Kalau dulu, yang paling berperan dalam keluarga tentu adalah ayah saya, sebagai kepala keluarga, pencari nafkah dan pengambil keputusan dalam keluarga. Ibu bukannya tidak berperan tetapi dia selalu berusaha menjadi pendukung keputusan-keputusan ayah.

Banyak yang bilang wajah saya mirip dengan ayah saya, tetapi sekarang saya malah merasa sifat saya sebenarnya juga lebih mirip ke ayah saya. Mungkin itu yang menyebabkan  saya sebagai anak sulung paling sering berselisih pendapat dengan ayah saya, karena menurut saya terkadang  beliau terlalu perfeksionis dan terlalu serius menanggapi sesuatu (walaupun sebenarnya beliau orangnya humoris) jadi sepertinya tidak bisa santai.

Saya kagum dengan kekompakan peran ayah dan ibu saya. Saya mengamati, ayah saya cukup bijaksana dalam mengambil keputusan. Ibu saya orangnya simpel, tidak macam-macam, jadi sepertinya selalu bisa menerima keputusan ayah saya, tetapi sebenarnya pengaruh ibu besar juga waktu ayah sedang mempertimbangkan keputusannya. Namun ketika keputusan sudah dibuat, ibu selalu mengikuti keputusan ayah saya.

Ayah Berpulang untuk Selamanya

upaya untuk move on
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/artfotodima

Saya rasa sulit untuk bisa menemukan pasangan yang bisa kompak seperti ayah dan ibu saya. Bukan berarti tidak pernah bertengkar, tetapi kalau ayah saya bisa memberikan alasan yang masuk akal ibu saya pasti bisa mengerti begitu pula sebaliknya. Kalau ibu saya membantah dengan alasan yang kuat, ayah saya akan membuat keputusan seperti yang diinginkan ibu. Saya juga melihat ibu biasanya bisa menenangkan ayah saya kalau ada masalah eksternal. Sebaliknya untuk masalah-masalah domestik biasanya ayah saya yang bisa menenangkan ibu yang sedang kesal.

Pada bulan April tahun 2008 ayah saya meninggal dunia, beliau terkena serangan jantung, jadi kejadiannya tiba-tiba. Kami sekeluarga cukup terpukul, walaupun kami semua sudah dewasa, tetapi kehilangan ayah merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan. Yang membuat saya sedih, adik bungsu saya waktu itu belum lama mengadakan acara lamaran, kami sekeluarga bersyukur ayah masih sempat menghadiri acara itu.

Pada saat itu saya paling mengkhawatirkan keadaan ibu saya, karena pasti beliau yang paling merasa kehilangan, tetapi untung ibu saya bisa kuat menghadapi itu semua. Malah adik saya yang laki-laki yang mengalami trauma, karena pada waktu itu dia yang sedang menunggu ayah saya di rumah sakit. Cukup lama juga adik saya harus berjuang mengalahkan trauma yang dialaminya, dia sering mangalami serangan panik mendadak, insomnia, sakit maag, dll.

Perlahan-lahan keluarga kami bisa bangkit lagi, ya life must go on. Kami hanya bisa selalu mengingat dan mendoakan ayah saya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓