Korbankan Sebagian Hidup, Perempuan Sulung Lakukan yang Terbaik demi Adik-Adik

Endah Wijayanti13 Jul 2020, 07:15 WIB
perempuan yang menguatkan diri

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: LAK

Aku terlahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana. 23 tahun yang lalu, kelahiranku menjadi dambaan orang tua dan keluarga besar. Pasalnya kedua orang tuaku baru mendapatkan anugerah buah hati setelah 2 tahun menikah. Namun dari cerita ibu, beliau lebih menginginkan anak pertama laki-laki. Bahkan bapak sudah menyiapkan sebuah nama untuk laki-laki.

Tak ada rezeki yang patut disesali, termasuk jenis kelamin sang anak. Orang tuaku merawatku dengan kasih sayang yang amat dalam. Kebutuhanku terpenuhi dengan baik. Setiap pagi, mereka mengajakku jalan-jalan keliling kampung. Hingga kerabat dan tetangga turut bahagia menyaksikan perkembanganku.

Tak berlangsung lama, ibu mengandung calon anak kedua, calon adikku. Rasa bahagia kembali menyelimuti keluarga kami. Hingga detik kelahiran adikku, ibuku kembali terkejut. Perempuan lagi. Sementara bapak lebih berlapang dada, apa pun jenis kelamin anaknya, harus bersyukur.

Aku dan adikku tumbuh beriringan hingga menginjak usia remaja. Karena usia tak terpaut jauh, kami selalu kompak dan saling menjaga. Bukan sebatas kakak adik, tetapi juga teman bermain, partner belajar, hingga musuh marahan dan iri kasih sayang.

Gempa Yogyakarta 2007 menggores luka yang cukup dalam. Aku dan adikku sedang sarapan (disuapi bapak) sebelum terguncang oleh lempengan bumi. Rumah-rumah roboh menyisakan batu dan kayu berserakan. Ribuan keluarga kehilangan sanak saudara. Beberapa bulan kami ikut mengungsi, bergandengan erat dengan keluarga dan tetangga. Saat itu kami masih menempuh sekolah dasar. Belum paham akan ancaman fenomena alam. Namun hal itu menyiratkan makna berharga bahwa saudara membuat kita kuat saat terus bersama.

Usai mendapatkan hunian baru (seadanya) pasca gempa, kabar bahagia datang kembali. Ibu hamil. Di tengah kondisi yang belum pulih, aku dan adikku bersama-sama membantu orang tua. Kami bergantian memijat ibu ketika lelah, membuatkan susu hamil, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga ringan.

Mengayomi Adik-Adik dengan Usaha Terbaik

teman curhat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Waktu yang ditunggu pun tiba. Ibu melahirkan anak perempuan (lagi). Aku yang kala itu masih remaja sudah berpikir bagaimana cara menjadi kakak yang baik. Usiaku terpaut 10 tahun dari adik kedua. Tentu tidak mudah turut "mengasuh" kedua adikku.

Adik pertamaku (R) tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Namun hal yang aku takutkan terjadi. Dia sering "baper" kala dinasihati. Baginya sulit menerima saran dariku dan orang tua. Dunianya seakan sudah menjadi kebanggaan yang tak terusik. Di usia dewasa mudanya, ia belum bisa merencanakan kehidupan dengan baik. Pun financial planning yang belum tepat sasaran.

Sementara adik kedua (S) beranjak remaja. Pergaulan masa kini membawanya ikut arus "cari kebebasan". Dia seringkali acuh terhadap nasihat dan bimbingan orang tua. Perilakunya terkadang tak elok dan tidak sopan.

Aku sebagai kakak merasa gagal. Harusnya aku lebih lembut dan gigih berjuang mendidik kedua adikku. Lagi-lagi kendala waktu dan pengalaman membuatmu tidak maksimal. Perhatianku terbagi atas kebutuhan diri sendiri dan tuntutan menjadi kakak yang baik.

Akhirnya aku terus menunjukkan usaha positif. Aku seolah kawan kala mereka berbagi cerita atau butuh bantuan. Kami memulai kerja sama antar saudara dengan baik. Meski tingkah laku kami belum sempurna, saling percaya adalah kunci. Usaha tak akan mengkhianati hasil. Semoga ke depannya aku dan adik-adikku menjadi perempuan membanggakan.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓