Tidak Saling Bicara dengan Orangtua, Hilang Sudah Kehangatan Keluarga

Endah Wijayanti13 Jul 2020, 13:45 WIB
bersalah pada ortu

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Ika Wulandari

Kata orang keluarga adalah salah satu alasan kita untuk pulang. Karena ada keluarga yang menanti kehadiran kita. Tentunya selalu ada perasaan nyaman dan aman saat berada di dekat keluarga. Tempat berkeluh kesah dan motivator terbaik serta bisa menerima kita apa adanya. Lalu, bagaimana jadinya jika kamu tidak mendapatkan itu semua dari keluargamu sendiri? Bahkan kamu terasa asing saat berada di dekat mereka. Ini adalah ceritaku dan tentang keluargaku. 

Dulu aku dikenal sebagai anak yang periang. Kedua orang tuaku selalu menyayangiku dan berkat kasih sayang mereka aku tumbuh menjadi anak baik. Mungkin teman-teman sebayaku iri denganku yang memiliki keluarga yang harmonis. Dan semuanya berjalan normal sampai umurku menginjak 15 tahun.

Saat itu, ibuku hamil adikku dan setelah 9 bulan, adikku lahir ke dunia. Sebagai seorang kakak aku sangat senang memiliki seorang adik laki-laki. Apalagi ayahku yang sangat menginginkan anak laki-laki. Aku menyayanginya sama seperti kedua orangtuaku. Setiap hari hidup kami sekeluarga selalu dipenuhi oleh kebahagiaan. Namun, suatu ketika saat adikku berumur 10 tahun sebuah tragedi terjadi yang mengubah semuanya termasuk hidupku.

Hal ini berawal dari aku yang dibelikan sepeda motor baru oleh ayahku. Lalu, aku mengajak adikku untuk keliling komplek sambil belajar motor. Entah aku oleng atau ada hal lainnya menyebabkan kami berdua mengalami kecelakaan cukup hebat. Aku hanya luka ringan sedangkan adikku meninggal di tempat. Ibuku yang mendengar berita tersebut langsung menangis sejadi-jadinya. 

Sejak hari itu, ayah dan ibuku selalu menyalahkanku atas apa yang menimpa adikku. Hampir setiap hari, aku selalu meminta maaf kepada kedua orangtuaku berharap mereka mau memaafkanku. Ternyata, aku salah. Yang ada mereka semakin membenciku.

Perasaan Bersalah

mudah lupa
ilustrasi perempuan stres/Photo by Engin Akyurt from Pexels

Hari demi hari aku jalani dengan rasa bersalah yang masih membekas selama 10 tahun lamanya. Rasanya berat sekali hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang tak pernah kuinginkan. Pernah suatu hari, aku mengalami masalah di kantor. Sebagai seorang anak, aku ingin meminta pendapat orang tuaku. Namun, yang ku dapatkan hanyalah cacian dan makian dari mereka. Mereka menyalahkanku atas masalah yang aku hadapi di kantor. Mereka bilang akulah penyebab dari semua masalah yang kuhadapi sekarang. Sama seperti saat aku disalahkan atas kematian adikku. Bukannya mendapatkan support dari orang tuaku. Aku malah mendapatkan caci maki dari orang tuaku dan aku hanya bisa menangis. Padahal aku ingin sekali dipeluk diberi nasihat saat ada masalah seperti ini namun semua itu tak kudapatkan.

Terkadang aku lelah menghadapi semua ini. Aku tahu aku salah dan aku menyesal tapi tak bisakah mereka memaafkanku. Aku juga anak mereka yang merindukan kasih sayang orang tua. Semenjak hari itu, aku menjadi pribadi yang tertutup. Bahkan, ketika ada masalah aku memilih untuk menyimpannya sendiri dan menangis didalam kamar jika aku tak mampu menghadapi masalahku sendirian. Aku jarang sekali tersenyum bahkan ketika berada dirumah aku memilih untuk diam. Ya, kami bertiga tak saling berbicara. Tak lagi kehangatan yang kudapatkan dari keluarga ini. Aku benar-benar kehilangan arti keluarga selama ini. Bahkan, rasanya aku ingin pergi saja dari rumah ini. Namun, aku harus kemana. Aku hanya punya mereka.

Tuhan, seandainya mereka tahu bahwa aku merindukannya mereka. Merindukan pelukan, senyuman, omelan ayah dan ibu bahkan nasihat yang ingin kudengar setiap harinya. Akan aku katakan bahwa aku menyayangi kedua orang tuaku dan aku bangga memiliki keluarga seperti mereka. Namun, aku tak tahu sampai kapan badai ini akan berlalu. Sampai kapan mereka mau memaafkan kesalahanku yang tak sengaja kulakukan ini? Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti mereka mau memaafkanku.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓