Pengalaman Hidup dan Melahirkan Anak Kedua di Inggris

Endah Wijayanti13 Jul 2020, 14:45 WIB
melahirkan anak kedua

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Nova Ulya

Setiap keluarga memiliki kisah perjalanan hidup berbeda-beda. Kisah hidup yang diwarnai canda, tawa, suka dan duka. Perjalanan kisahku saat merantau di negera Sang Ratu Elisabeth memberikan jejak warna indah dalam langkah perjalanan hidupku. Merasakan indahnya negara empat musim dengan segala hal yang ada di dalamnya.

Berbekal beasiswa dari pemerintah, suami memboyong kami untuk ikut dengannya melanjutkan studi di salah satu kota bagian Inggris Raya, Nottingham. Tak pernah terbersit dalam angan sebelumnya, hingga akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah Eropa dan merasakan serutan es putih bersih yang turun dari langit, salju. Suka, duka mengiringi langkah kami dalam meniti tangga kehidupan di belahan bumi yang berbeda.

Ujian sebagai Ibu

Memboyong si kecil yang belum genap dua tahun, memberi cerita tersendiri buatku. Si kecil yang begitu manis, anteng, jarang rewel, murah senyum begitu sampai di Nottingham berubah drastis. Dia yang dulunya aku pikir baik-baik saja, berubah sikapnya. Melempar barang, teriak-teriak, mudah sekali melayangkan tangan kecilnya kepada siapa pun saat keinginannya belum terpenuhi. Syok dan bingung, ada apa dengan si kecil.

Merasa belum sempurna menjadi orangtua, melihat ulah si kecil rasanya sedih. Bagaimana tidak, saat aku harus jauh dari keluarga memulai beradaptasi dengan lingkungan baru, namun di sisi lain dihadapkan dengan kondisi anak yang entah aku pun tak tahu penyebabnya.

Hingga suatu ketika saat health visitor datang ke rumah untuk memeriksa kesehatan dan tumbuh kembang si kecil, barulah aku tahu apa yang menimpa anakku. Kami di Inggris mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, termasuk untuk anak-anak. Tantrum, kata yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Mungkin masih sangat awam bagiku yang baru belajar menjadi ibu. 

Dari health visitor lah akhirnya aku tahu jika si kecil mengalami tantrum karena “bingung bahasa”. Si kecil di usia yang seharusnya bisa berbicara dan berlatih bahasa, mengalami kesulitan saat harus berucap. Lingkungan baru, bahasa baru, orang-orang baru membuatnya bingung, hingga muncullah sikap tantrum dalam dirinya.

Mencari solusi untuk penanganan si kecil, akhirnya health visitor menyarankan untuk rajin mengikuti kegiatan-kegiatan anak yang khusus diperuntukkan untuk anak pre-school. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih tumbuh kembang anak, mengisi fase belajar di usia mereka dengan cara bersosialisasi, bermain sambil belajar, bernyanyi, storyteling. Ya, benar saja setelah hampir satu tahun mengikutinya, lambat laun tantrum pun berangsur hilang.

Mencoba Berjualan

memasak
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Makistock

Hidup bergantung pada beasiswa kadang membuat hati deg-degan tak menentu. Galau saat kucuran dana tak kunjung turun di saat kebutuhan hidup harus terpenuhi. Hal inilah yang membuatku mencoba hal baru. Menjajal peruntungan dengan berjualan makanan khas Indonesia sedikit banyak membantu kondisi keuangan keluarga.

Berawal saat beberapa teman berkunjung ke rumah dan mencicipi masakan yang aku buat, mereka pun memintaku untuk membuatkan menu makan harian mereka. Bagi mereka sebagai student dengan deadline tugas yang seabreg, memasak menjadi hal sulit bagi mereka. Mereka akan memilih membeli makanan daripada harus memasak sendiri. Makanan khas Indonesia pun tidak bisa dijumpai di sini, untuk itulah mereka memintaku untuk membuatkan makanan sekaligus mengobati rindu akan masakan Indonesia.

Mulai dari menu masakan harian, bakso, siomay, mi ayam hingga jajan pasar pun aku jajakan. Bersyukur orderan kian hari kian bertambah, membuatku semangat untuk terus berkreasi di dapur. Senang rasanya bisa membantu teman sekaligus menambah uang tabungan. Semua aku jalani dengan senang hati.

Melahirkan dengan Perjuangan

bayi prematur
Ilustrasi/copyrightshutterstock/PK Studio

Memasuki tahun terakhir masa studi suami, kami diberi rezeki akan hadirnya buah hati yang kedua. Kebahagiaan di tengah perjuangan memberikan motivasi dan semangat suami untuk segera menuntaskan sekolahnya. Meski harus terseok-seok, semua dijalani. Pada kehamilanku kali ini, aku dihadapkan dengan cerita yang berbeda. Aku mengalami gestational diabetes. Diabetes yang dialami ibu hamil selama proses kehamilan mereka, dan aku termasuk di dalamnya.

Kondisi diabetes mengharuskanku untuk melakukan diet ketat, aku pun harus cek gula darah tujuh kali sehari dan itu berlangsung hingga aku melahirkan. Perjuangan memang, tapi semua harus dihadapi. Sempat hopeless saat menjalani diet ketat karena bisa dibayangkan jika kita hamil nafsu makan bertambah tapi kita tidak boleh makan sembarang makanan.

Sebulan sekali harus ke rumah sakit untuk USG dan cek kesehatan. Rangkaian pemeriksaan selalu aku jalani sebulan sekali, tusuk sana tusuk sini, tes sana tes sini. Berusaha menikmati setiap tahap pemeriksaan, meski tak jarang dapat omelan dari ahli gizi karena rekam medis gula darah yang naik turun.

Hingga 40 minggu usia kehamilan belum memperlihatkan gelombang cinta datang dari si bayi. Masih anteng di perut emaknya. Sabar menunggu dan terus menunggu, hingga akhirnya gelombang cinta itu datang. Sakit kontraksi aku rasakan, berharap cepat kelar namun ternyata harus berjuang. Tiga puluh enam jam menunggu kelahiran diselingi sakit yang amat sangat. Entah kenapa si bayi belum mau keluar.

Di saat kondisiku sudah mulai melemah, dokter pun memeriksa dan terjawab sudah, kondisi bayi sungsang. Tidak ada keinginan si bayi untuk mendorong keluar. Dia masih asyik-asyik aja di dalam sementara aku sudah kelojotan, kesakitan yang teramat sangat. Operasi caesar diputuskan, sedikit sedih karena berharap normal agar masa recovery tak berlangsung lama. Mengingat kami jauh dari keluarga dan hanya bertiga saja, aku berdoa agar dimudahkan segalanya.

Bayangan kesakitan setelah caesar terus menghantui, bagaimana aku nanti, bagaimana dengan si sulung. Kecemasan berkecamuk dalam diri, hanya bisa pasrah dengan jalan terbaik-Nya. Operasi pun selesi dilakukan, keluar dari ruang operasi aku langsung disuruh duduk. Miring kanan miring kiri, dan besoknya harus sudah bisa berjalan. Kaget dengan prosedur pasca operasi di sini, kita dituntut mandiri.

Dan benar saja, esok harinya aku sudah bisa berjalan, bekas operasi pun tidak diperban. Aku bisa pulang, melakukan aktivitas seperti biasa meski kadang masih terasa nyeri. Di saat kerepotan melanda, ada teman-teman dan sahabat yang berbaik hati membantu kami. Bala bantuan selalu datang silih berganti, terharu, bersyukur dikelilingi orang-orang baik.

Sekelumit kisahku di negeri ratu tentang arti perjuangan, pengorbanan dan persahabatan. Berjuang dalam tiap langkah kehidupan menjadikan pendewasaa diri untuk tidak mudah mengeluh, sabar, dan selalu bersyukur.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓