Merelakan Kepergian Bisa Membuat Perempuan Lebih Tegar Jalani Hidup

Endah Wijayanti15 Jul 2020, 07:45 WIB
momen ibu dan anak 3

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Yuanita Surya

Saya tumbuh dan besar dari keluarga yang berkecukupan secara materi. Orang tua saya memiliki sebuah toserba yang cukup besar, tanah, dan ruko di mana-mana. Masa kecil saya sangat menyenangkan. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, hidup saya tidak pernah kesepian. Saya memiliki banyak saudara dan teman. Juga banyak mainan dan makanan yang enak tersajikan di meja setiap hari. Yang terpenting adalah papa dan mama yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang. Kehidupan kami tidak  kekurangan satu apa pun.

Kehidupan kami yang serba menyenangkan berbanding terbalik ketika krisis ekonomi melanda di tahun 1988. Usaha yang telah dibangun oleh orang tua kami mengalami kepailitan. Mungkin karena faktor beban pikiran yang begitu berat, mama terserang stroke. Sebagai anak yang paling dekat dengan mama, saya merasa sangat terpukul melihat kondisi mama yang semakin hari semakin memburuk. Akibatnya, saya terkena sakit paru-paru ringan. Rentetan kejadian tersebut mengharuskan kami menjual satu per satu aset, mulai dari tanah hingga ruko. Bahkan semua simpanan emas kami pun dijual hingga habis tak bersisa.

Sejak saat itu, kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Sebagai penyambung hidup sehari-hari, papa banting tulang kerja serabutan, mulai dari tukang lemari hingga jahit sprei. Juga kakak tertua yang membantu perekonomian keluarga dengan jualan barang-barang apa saja yang dititipkan oleh tetangga, mulai dari kue-kue hingga snack.

Karena sakit yang saya derita, sekaligus kesibukan merawat mama, saya memutuskan untuk berhenti sekolah selama satu tahun. Segala peristiwa yang saya sebutkan di atas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepergian mama untuk selama-lamanya di tahun 2001. Sejak saat itu, saya seperti seorang anak yang kehilangan arah.

Merelakan dan Menjadi Lebih Tegar

momen ibu dan anak 4
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Saya ingat masih duduk di bangku kelas 1 SMA waktu itu. Dari anak yang selalu berprestasi dan juara kelas, peringkat saya menurun drastis. Saya berjuang dengan susah payah hingga bisa lulus SMA karena kehilangan mama merupakan kehilangan terbesar dalam kehidupan saya. Lulus SMA, karena keterbatasan biaya, saya tidak melanjutkan kuliah, jadi langsung bekerja. Saya juga menjadi relawan di sebuah yayasan kemanusiaan.

Saya mulai belajar bermeditasi dan rajin mengikuti seminar-seminar motivasi. Saya juga banyak membaca buku yang ditulis oleh motivator kelas dunia. Dari situ, perlahan namun pasti saya mulai belajar satu hal: MERELAKAN. Memang awalnya sulit, tapi seiring berjalannya waktu, dengan belajar mengikhlaskan semua yang terjadi, bukan hanya kesehatan mental saya saja yang menjadi lebih baik, tapi kesehatan fisik saya juga semakin membaik. Hingga saya memutuskan untuk mengecek ulang kondisi paru-paru saya, dan hasilnya menyatakan bahwa saya baik-baik saja, paru-paru saya  sudah tidak ada masalah. Saya dinyatakan sembuh. Sungguh keajaiban!

Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang saya telah menikah, saya dikaruniai seorang pasangan hidup yang sangat baik. Dia adalah anugerah terindah dari Tuhan dalam kehidupan saya. Saya juga sudah menamatkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri. Kami empat bersaudara memiliki karier yang cemerlang di bidang masing-masing. Papa masih berada di tengah-tengah kami dan sehat.

Semua ujian hidup yang saya alami di masa lalu menjadikan saya seseorang yang kuat dan tegar. Setiap waktu saya selalu berdoa semoga mama di surga selalu bahagia. Terima kasih, mama. Terima kasih karena telah mengajarkan kepada kami tentang kerja keras dan semangat pantang menyerah. Semoga suatu hari nanti, kita semua bisa berkumpul lagi seperti dulu. I will always miss you, my dearest mom.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓