Perubahan yang Terjadi dalam Keluarga setelah Memutuskan Menjauhi Riba

Endah Wijayanti15 Jul 2020, 09:47 WIB
jauhi riba

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  Yunita Soekandar

Berawal dari menghadiri pengajian rutin yang diadakan setiap bulan sekali di perumahanku, aku dan suami berniat untuk segera hijrah. Saat itu Pak Ustaz menyampaikan pembahasan tentang riba. Semua yang hadir dibuat tertunduk malu. Tak terkecuali aku dan suami. Sungguh pengetahuanku tentang riba sangat minim dan itu pertama kalinya aku tahu tentang apa itu riba, dosa riba dan cara menjauhkan diri dari riba. Di sesi tanya jawab, aku berdoa dalam hati agar bisa dijauhkan dari riba dan suami mendapatkan pekerjaan yang berkah. 

Sesampai di rumah, aku dan suami kembali membahas apa yang disampaikan Pak Ustaz tadi. Kami pun sepakat untuk segera menjauh dari riba dengan cara menyetujui rencana suami mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah leasing kendaraan. Jika Allah sudah berkehendak dan hidayah sudah datang, apa pun bisa terjadi. Yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Selang dua bulan tanpa disangka-sangka suamiku mendapat memo dipindah tugaskan ke luar kota. Dengan posisi diturunkan dari jabatan semula. Tentu saja suami menolak dan memilih mengundurkan diri secepatnya. Tanpa proses berbelit, suami akhirnya keluar. Rencana kami pun benar-benar terwujud.

Tahun pertama tanpa gaji memang membuat keuangan sedikit tersendat. Waktu itu anak pertamaku baru semester dua, sedang anak keduaku baru masuk di sekolah menengah pertama. Dengan sisa tabungan yang ada, biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari masih bisa diatasi. Di awal tahun kedua, kami masih punya sisa utang bank yang belum terbayar. Keadaan keuangan semakin menipis, biaya sekolah pun tak bisa ditunda.

Sementara usaha yang dirintis suami belum menghasilkan. Aku pun mencoba membantu dengan membuat tas dan dompet rajut. Tapi belum bisa menutup kebutuhan. Pada akhirnya harus kurelakan kendaraan satu-satunya untuk dijual. Ya, kami menjual mobil untuk melunasi hutang bank dan membayar biaya sekolah. Hati sedikit tenang karena sudah tidak dikejar-kejar hutang bank. Dan uang hasil jual mobil pun habis.

Perlahan Membaik

tips thr
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hidup harus terus berjalan meski dengan pendapatan yang tak pasti. Anak-anak harus tetap melanjutkan sekolahnya, apa pun keadaan orangtuanya. Alhamdulillah anak-anakku menjadi anak yang berprestasi dan tak banyak menuntut. Dengan uang saku pas-pasan justru membuat mereka bersemangat belajar.

Ada hal paling membuatku sedih saat anakku tak bisa makan sehari tiga kali. Dan tak bisa makan dengan lauk, meski hanya sekadar tempe atau tahu. Di titik terendah ini aku sering meratap dan menangisi keadaan. Terkadang aku masih ingin bergelimang uang meski dekat dengan riba. Aku masih belum ikhlas anak-anakku ikut menderita. Sampai suatu saat aku bertemu dengan orang yang menyadarkanku. Beliau mengatakan, bahwa aku dan keluargaku harusnya bangga karena masih muda sudah diberi hidayah oleh Allah. Itu tandanya Allah cinta. Jangan sia-siakan cinta-Nya.

Setelah itu, aku tersadar dan mencoba untuk ikhlas menerima dan sabar.

Pertengahan tahun kedua, usaha suami mulai ada kemajuan. Aku pun mendapat pekerjaan yang bisa untuk menutup belanja harian. Hidup kami mulai merangkak naik. 

Di tahun berikutnya, kehidupan kami sudah berjalan normal. Usaha suami sudah mulai lancar. Anakku yang pertama pada akhirnya bisa lulus kuliah dengan predikat cumlaude sebagai arsitek dan anak keduaku bisa masuk di sekolah negeri seperti impiannya. Lalu, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓