Pengobatan Kanker Kepala dan Leher di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Anisha Saktian Putri04 Agu 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Jeshoots

Fimela.com, Jakarta Berdasarkan data Globocan 2018, angka kejadian kanker kepala dan leher di Indonesia masuk urutan kelima besar kanker terbanyak pada laki-laki. Meskipun demikian, kanker kepala leher bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki dengan rasio kasus kanker kepala dan leher antara laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1.

Pada tahun 2020, angka kasus baru kanker kepala dan leher meningkat sebesar 883.000 jika dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu 634.000 kasus. Kanker ini dapat terlihat jelas di tubuh pasien dan sangat mempengaruhi kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, berbicara yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan sosialnya.

Pasien kanker memiliki tingkat risiko paparan Covid-19 lebih tinggi sebesar 3,5 kali lipat dibandingkan dengan pasien yang bukan kanker. Termasuk pasien kanker kepala dan leheryang mempunyai risiko tinggi terhadap infeksi Covid-19, mengingat keadaan sistimimunitas mereka.

Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad selaku Koordinator Pengembangan Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) RSCM menjelaskan, terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan pasien kanker rentan terhadap virus Covid-19, salah satunya adalah masalah imunitas. Kekebalan tubuh yang rendah menjadikan pasien kanker pada saat menjalankan pengobatan rentan terinfeksi virus. Oleh karena itu, sangat penting pasien kanker untuk mencoba meminimalkan paparan terhadap virus dan disarankan untuk menerapkan praktik hygiene yang baik seperti rutin membersihkantangan, menggunakan desinfektan untuk peralatan yang digunakan, hindari kontak langsung dan jaga jarak.

“Sesuai anjuran pemerintah, para ahli medis juga perlu mengupayakan pedoman pelayanan dan metode pengobatan yang optimal pada pasien kanker khususnya kanker kepala danleher yang banyak didominasi oleh penderita stadium lanjut dan memastikan pengobatan tersebut sesuai dengan protokol pencegahan infeksi Covid-19,” papar Prof. Dr. dr. Soehartati dalam siaran pers peringatan Hari Kanker Kepala dan Leher sedunia.

Pengobatan kanker kepala dan leher

Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon
Ilustrasi rumah sakit/dok. Unsplash Insung Yoon

Pengobatan kanker kepada dan leher tergantung dari stadium, posisi dari kanker dan juga kondisi pasien secara keseluruhan. Dokter pada umumnya merekomendasikan beberapa jenis pengobatan seperti operasi, radioterapi, kemoterapi dan terapi target.

Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid, MARS menyampaikan pada masa adaptasi kebiasan baru ini, pasien kanker kepala dan leher penting untuk menyadari bahwa mungkin akan ada perubahan pada cara mereka dirawat.

Untuk itu diharapkan pasien selalu aktif mengkomunikasikan keluhan yang muncul pada dokternya sehingga perkembangan penyakitnya dapat terpantau. Pasien dapat berkonsultasi secara langsung maupun virtual apabila berada pada kondisi yang krusial dansesuai anjuran dokter.

"Adanya komunikasi antara ahli medis dan pasien akan menghasilkan langkah yang tanggap apabila pasien kanker positif terinfeksi Covid-19, seperti pertimbangan ulang terkait pengobatan kanker dan perawatan intensif Covid-19 sehingga menghindari komplikasi lebih jauh," paparnya.

Aryanthi Baramuli Putri selaku Ketua Umum CISC juga menyampaikan, dukungan yang positif dari keluarga dan sahabat serta organisasi pasien kanker kepada pasien dapat membantu mereka tetap semangat dan positif selama masa pengobatan ataupun pemulihan.

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓