Kukira Aku Anak Sulung, Ternyata Ada Sosok Kakak yang Baru Kutahu Kemudian

Endah Wijayanti29 Jul 2020, 10:45 WIB
punya kakak dari ibu

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  Tameta

Memillik seorang kakak laki-laki telah menjadi ingin yang selalu kupinta pada Sang Pencipta. Pasti akan menyenangkan rasanya bila ada seorang laki-laki selain bapak yang menjaga dan menyayangimu. Membayangkannya saja terasa indah, apalagi bila hal tersebut betul-betul menjadi realita.

Seluruh doa pasti akan terkabul, hanya saja perlu kesabaran berupa penantian dalam proses terwujudnya. Tahun 2013 saat aku masih duduk di bangku SMP keinginanku untuk memiliki seorang kakak laki-laki akhirnya terkabul. Sungguh. Aku tidak berbohong. Awalnya aku juga tidak percaya, masak iya aku punya kakak laki-laki. Ibu tidak hamil. Lagipula kalau ibu hamil harusnya aku punya adik bukan kakak? Pertanyaan seperti itu kerap bermunculan.

Hingga akhirnya, aku mengetahui satu fakta yang membuatku mati sikap. Entah seperti apa aku harus mengekspresikannya. Selama ini, aku ternyata memiliki seorang kakak laki-laki yang dua tahun lebih tua dariku. Ia adalah anak ibu dari suami pertamanya. Sebenarnya, aku tahu kalau ibu pernah menikah dengan orang lain sebelum menikah dengan bapak, tapi aku tidak tahu bila ibu memiliki seorang anak laki-laki dan yang berarti ia adalah kakak sambungku.

Perasaanku tentu campur aduk. Senang sekaligus khawatir. Senang karena doaku terkabul dan akhirnya aku memiliki seorang kakak, tetapi di sisi lain aku bingung sikap seperti apa yang baiknya aku tunjunkkan pada kakak bila bertemu nantinya. Iya, aku memang memutuskan untuk memanggilnya kakak karena bagiku ia bukanlah sekadar saudara sambung. Ia adalah kakakku. Kakak yang selama ini kutunggu-tunggu kehadirannya. Hanya saja, aku takut bila tidak bisa menjadi adik yang baik untuknya. Secara, aku adalah tipe anak yang tidak mudah melukiskan isi hati secara terang-terangan. Aku cenderung acuh tak acuh dan terkenal irit bicara.

Waktu berjalan begitu cepat dan hal yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Kini, sudah tujuh tahun semenjak kehadiran seorang kakak dalam hidupku. Namun, sikapku kepada kakak bisa dibilang masih sama seperti dahulu.

Aku masih tidak mampu mengelola sikap. Kadang, aku masih saja bingung ekspresi seperti apa yang layaknya aku perlihatkan. Seperti perkataanku sebelumnya bahwa aku tidak bisa mengungkapkan isi hati yang kumiliki. Meski sudah lama menjadi saudara, aku belum berani mengakui bahwa aku sebenarnya menyayangi kakak. Justru sifatku yang pendiam dan acuh tak acuhlah yang kuperlihatkan padanya. Seolah-olah memberi kesan bahwa aku belum mampu menerimanya menjadi kakakku.

 

Tidak Mudah Mengutarakan Rasa Sayang

hobi-kezo
ilustrasi./unsplash

Makin hari, aku dan kakak makin akrab dengan kekakuan. Ternyata bukan hanya aku yang senang menimbun isi hati, kakak juga nyatanya sama. Kakak juga tampaknya kesusahan menunjukkan ekspresinya. Setiap bertemu tidak ada istilah basa-basi dalam percakapan kami. Alih-alih bersenda gurau, saling melempar senyum pun rasanya cukup berat. Sesekali ingin kukatakan bahwa aku sayang sama kakak, tetapi malang aku terlalu sungkan mengutarakannya. Atau sebaliknya, aku ingin mendengar pengakuan kakak bahwa ia juga menyayangiku. Harapan hanya sebatas harapan. Tidak ada kemajuan berarti yang terjadi diantara aku dan kakak. Kami tetap teguh menyembunyikan ekspresi hati kami. Namun, satu hal yang kuyakin, aku percaya bahwa suatu hari nanti aku dan kakak akan bisa mengkomunikasikan ekspresi yang kami miliki.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku baru menyadari bahwa tanpa adanya kata-kata manis yang terlontar sekalipun, kasih sayang itu tetap ada. Bahkan sudah ada sejak sebelum aku menyadari bahwa ia ada. Sesuatu yang tidak terucap bukan berarti tidak terlihat. Kata sayang memang boleh jadi belum pernah terucap dari lisan kakak, tetapi tindakan dan bentuk perhatian yang selama ini diberikannya jelas-jelas mengekspresikan perasaan kasihnya. Tidak jarang, kakak membelikan aku dan adikku barang-barang.

Terakhir kali, aku mendapatkan handphone yang sampai saat ini masih kusimpan. Mestinya, perlakuan seperti itu menyadarkanku bahwa kakak memang menyayangiku. Ada kalanya ekspresi terdalam dari hati sulit diungkapkan melalui kata-kata, tetapi bisa ditunjukkan secara percuma-cuma. Tidak perlu merasa bahwa tidak akan ada seorang pun yang bisa mengenali kami lantaran tidak berani mengomunikasikan isi hati. Mereka yang benar-benar menyayangi kita akan mengenali kita dengan cara mereka sendiri.

Ada atau tidaknya hal yang kita ucapkan. Sebaliknya, kita juga akan mengenali mereka dengan cara yang sama. Mulai sekarang, aku akan berusaha mengerti kakak dengan caraku dan kakak juga akan mengerti aku dengan caranya. Tiap-tiap orang memiliki ekspresi masing-masing yang berhak ia rawat sendiri ataupun ia bagi-bagi. Termasuk aku. Aku memiliki ekspresi yang tidak bisa kubagi bahkan pada orang tersayang sekalipun. Memilih menunjukkan secara langsung melalui tindakan lebih menggambarkan watakku dibandingkan harus mengutarakannya dengan kata-kata yang indah nan manis.

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓