Lepaskan Karier Bergaji Tinggi demi Orang Tercinta, Ternyata Ini Lebih Indah dari Segalanya

Endah Wijayanti30 Jul 2020, 12:15 WIB
hari-hari bersama mama

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Dessy Indah

Sudah enam tahun tanpa papah terasa sepi khususnya untuk diriku si bungsu dari dua bersaudara. Mulai dari SD hingga kuliah hampir selalu berangkat ke sekolah dan kampus diantar oleh beliau. Aku selalu ingat kenangan di mobil khususnya hari-hari di mana kami berebut mendengarkan siaran favorit radio masing-masing. Papah sosok yang selalu membangunkan aku saat salat subuh, mengingatkan tepat waktu saat makan hingga memberikan motivasi entah itu sekolah, pertemanan hingga asmara.

Hari itu selalu aku ingat, hari di mana papah mulai sakit-sakitan saat beliau menjemputku pulang KKN 24 Januari tahun 2014. Setelah dari hari itu, keluar masuk rumah sakit bukan hal yang baru untukku. Bahkan saat semua orang mudik lebaran ke kampung masing-masing aku, mamah, dan kakak harus menjaga papah di rumah sakit. Tepat dua hari setelah lebaran papah sudah dipanggil oleh Sang Pencipta, sedihnya saat beliau menghembuskan napas terakhir aku tidak di sampingnya. Penyesalan itu terus ada hingga hari ini, tapi papah mengingatkan pesan terakhir untukku. Jangan lupa ibadah dan selalu antar mamah ke mana pun mamah mau pergi, hanya dua hal itu yang papah sampaikan padaku di beberapa hari sebelum beliau wafat.

Tahun berganti tahun, tak terasa ini tahun keenam tanpa kehadiran papah, sekarang umurku sudah 27 tahun. Beberapa tahun lalu aku bekerja di luar kota. Namun setelah kakakku menikah dan meninggalkan rumah kami, aku harus kembali ke rumah untuk menemani mamah. Dua tahun sudah aku tinggal di kota yang dulu aku tinggalkan.

Menemani Mama

momen ibu dan anak 3
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/yooranpark

Selalu ada perasaan bersalah meninggalkan pekerjaan lamaku yang gajinya dua kali lipat gajiku sekarang. Aku selalu ingin menjadi wanita karier yang memiliki gaji besar dan relasi bisnis di mana-mana. Namun sekarang aku harus meninggalkan egoku itu untuk menemani masa tua mamahku. Aku berpikir mungkin bila papah masih hidup, semua lebih indah akan selalu ada orang yang memberi nasihat padaku dan aku bisa bekerja di perusahaan yang aku banggakan dulu.

Ternyata impianku untuk menjadi wanita karier mulai pudar, setelah dua tahun ini aku menjalani hari-hari menemani keluarga, bertemu lagi teman-teman lama. Aku pikir ini tidak begitu buruk, ternyata aku bahagia pulang ke rumah. Berbagi kebahagiaan dengan keluargaku walaupun mungkin itu hanya makan bersama ataupun menertawakan hal-hal yang lucu di grup WA mamah.

Sekarang aku hanya ingin membahagiakan keluargaku, khususnya mamah. Satu-satunya orang yang masih selalu ada untukku yang menerima segala kekurangan dan kelebihanku, saat aku sedih, bahagia, marah berada di atas dan bawah hanya keluarga yang selalu ada dan itu yang selalu aku syukuri. Terima kasih keluargaku, kakak dan mamah yang telah mengajarkan betapa pentingnya keluarga lebih dari uang dan karier yang selalu aku inginkan.

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓