Perempuan Sulung Jadi Tulang Punggung Keluarga, Pengorbanan Membuatnya Tegar

Endah Wijayanti31 Jul 2020, 10:15 WIB
perempuan sulung tulang punggung

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  Eryza Jazid Adam

Keluarga bahagia semuanya sama; setiap keluarga yang tidak bahagia menjadi tidak bahagia dengan caranya masing-masing.” Leo Tolstoy dalam Anna Karenina

Manusia manakah di dunia ini yang tidak ingin memiliki sesuatu yang sempurna, termasuk keluarga? Namun, hanya Tuhan yang berhak memiliki kesempurnaan. Bukan manusia. Keluarga adalah tempat utama di mana setiap individu manusia tumbuh dan menjalani asam garam perjalanan kehidupannya.

Aku adalah sulung dari tiga orang bersaudara. Saat ini umurku sudah menginjak kepala tiga dan masih melajang. Hubungan dengan keluargaku sangatlah erat. Bisa dikatakan aku tidak bisa hidup jauh dari keluargaku. “Teu bisa jeung teu luas hirup ninggalkeun kolot, indit ka tempat anu jauh." Begitu ibuku sering berkata dalam Bahasa Sunda. Artinya tidak bisa dan tidak berani hidup meninggalkan orang tua, pergi ke tempat yang jauh.

Apakah aku benar-benar tidak punya keberanian untuk hidup jauh dari keluarga dan membangun kehidupan yang baru untuk diriku sendiri? Tentu saja tidak. Aku ingin bisa menginjak tempat hidup yang baru dan membangun hidup yang menjadi impianku. Keadaan yang serba terbatas membuat diriku belum mampu mewujudkan itu semua. Namun, aku selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan hidup yang baik bagi setiap hamba, cepat atau lambat, bermacam-macam jalan dan peluang, selama hamba itu selalu berbaik sangka kepada-Nya dan tetap berusaha di jalan yang benar bukan sebaliknya.

Aku adalah tulang punggung pencari nafkah bagi ayah, ibu, dan kedua adikku. Pendidikan yang hanya sebatas lulusan SMA membuat tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa aku dapatkan. Apalagi di kota kecil tempat tinggalku saat ini. Sudah hampir sebelas tahun aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan yang berlokasi dekat dengan rumahku. Walaupun bergaji hanya sebatas angka UMK, pekerjaan ini terus aku lakukan karena aku belum bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik.

Aku sudah berusaha melamar pekerjaan ke tempat lain. Namun, belum ada rezeki. Kembali aku berusaha menanamkan persangkaan yang baik kepada Tuhan. Akan selalu ada ilmu dan pengalaman baru walau belasan tahun aku masih bekerja di perusahaan yang sama. Bagi diriku, rezeki bukanlah hanya sebatas uang yang bisa disimpan dalam tabungan.

Ayah Pensiun Dini

hari kematian ayah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wilaiporn%2BHancharoenkul

Perjalanan hidup sebuah keluarga tentu tidak akan selamanya diiringi dengan kebahagiaan atau sukacita. Selalu ada kesedihan atau duka yang dialami masing-masing individu dalam kehidupan berkeluarga. Keputusan ayahku dua puluh tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2000, berdampak besar pada kehidupan diriku hingga hari ini.

Saat itu ayahku memutuskan untuk mengambil pensiun dini dari tempat kerjanya, salah satu perusahaan BUMN yang mengurusi pembangunan perumahan rakyat karena kondisi perusahaan yang goyah. Saat itu aku masih duduk di kelas enam SD dan bersiap untuk masuk ke SMP. Segala macam masukan dan nasihat sudah disampaikan oleh ibuku agar mengurungkan niatnya itu. Terutama karena anak-anak yang masih kecil dan tentu terus tumbuh dan membutuhkan biaya yang semakin besar. Namun, ayahku tetap pada pendiriannya karena menurutnya benefit yang ditawarkan perusahaan saat itu sesuai dengan tuntutan dari para pegawai yang mengajukan pensiun dini.

Akhirnya, ayahku pun pensiun dan menghidupi kami dari jatah uang pensiun bulanannya hingga hari ini. Walaupun tidak besar. Dari kompensasi yang diberikan perusahaan kepada para karyawan yang mengajukan pensiun dini, ayahku masih bisa membangun rumah permanen yang hingga kini masih kokoh untuk kami tinggali. Berbeda dengan beberapa rekan ayahku yang uang kompensasinya sama sekali tak berbekas alias habis di tengah jalan. Habis digunakan untuk berfoya-foya. Akhirnya, sampai ada yang mengalami gangguan jiwa dan ditinggalkan begitu saja oleh keluarga, istri, bahkan anak-anaknya.

Di titik ini aku sangat bersyukur. Di satu sisi, keputusan ayahku untuk pensiun dini adalah hal yang sangat kami sesalkan. Mengapa ayahku saat itu tidak mengambil opsi mutasi saja ke cabang perusahaan yang lain mengikuti sebagian rekan kerjanya? Mengapa ayahku juga saat itu menolak bantuan dari saudara ibu yang hendak memberikan modal untuk membuka toko elektronika karena tahu bahwa ayah bisa elektronika dan paham betul belum tentu sisa uang kompensasi yang ada bisa digunakan untuk modal usaha?

Semakin hari, semakin aku memahami bahwa hanya Tuhan yang bisa mengubah gerak hati dan pikiran manusia. Sekuat, setepat, dan sebagus apa pun argumen kita terhadap permasalahan seseorang, jika Tuhan tak berkehendak mengubah pendirian orang itu, tiada guna segala argumen kita. Aku berusaha menerima takdir Tuhan ini dengan lapang dada. Aku selalu berkeyakinan bahwa di balik setiap penderitaan, akan selalu ada kebaikan dan kebahagiaan yang sudah dipersiapkan Tuhan bagi setiap hamba yang mau menerima setiap pemberian Tuhan. Entah itu karunia atau entah itu musibah.

Hari-hari yang berat sudah tentu harus kami hadapi setelah keputusan ayahku untuk mengambil pensiun dini. Untuk tambahan biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah, walaupun tidak selalu ada setiap hari, ayahku menerima servis perbaikan alat-alat elektronik rumah tangga, pemasangan pompa air, hingga pemasangan instalasi listrik. Ayahku pun menerima pekerjaan freelance dari sebuah SPBU sebagai teknisi listrik dan mesin.

Ibuku pun tak peduli pada gengsi. Untuk turut membantu ekonomi keluarga agar terus berputar, ibu menerima pekerjaan mulai dari mencuci baju dari tetangga, membersihkan rumah kos, memasak di resepsi pernikahan, hingga menjaga orang yang sedang dirawat di rumah sakit. Biaya sekolah pun sedikit terbantu karena saat SMP dan SMA beberapa kali aku mendapatkan uang beasiswa dari lomba menulis yang aku ikuti.

Setelah lulus sekolah dan mendapat pekerjaan, aku pun berusaha membantu perekonomian keluarga semampu yang aku bisa, di tengah segala keterbatasan. Sebagian besar gajiku habis untuk biaya pangan, utilitas, hingga biaya sekolah kedua adikku. Sisa gaji hanya cukup untuk membeli pulsa dan sedikit isi dompet untuk bekal di tempat kerja.

Menjadi Anak dan Perempuan Tegar

perempuan sulung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/atiger

Aku berusaha tegar dan menghibur diriku dengan terus berpikir positif. Aku tanamkan dalam hati dan pikiranku bahwa Tuhan sudah membukakan jalan untuk membahagiakan kedua orang tuaku dengan cara berbakti kepada keduanya. Walaupun belum ada hal atau benda mewah yang berhasil aku berikan pada mereka. Masih sebatas hanya membantu biaya kehidupan sehari-hari. Setidaknya aku masih bisa membelikan beras yang layak untuk dimakan dan lauk pauk sederhana bagi mereka. Tak ingin lagi terulang dalam hidupku, saat aku harus makan nasi aking bersama mereka karena di rumah sama sekali tidak ada lagi persediaan beras untuk dimasak.

Tahun 2017 kembali menjadi tahun kesedihan bagi kami. Di penghujung tahun, ayahku terkena stroke iskemik dan harus dirawat selama seminggu di rumah sakit. Karena usia yang semakin tua dan ancaman penyakit stroke yang bisa terjadi berulang, akhirnya ayahku tidak bisa bekerja lagi. Uang tabungan sebagai cadangan dana darurat yang jumlahnya tidak seberapa, habis untuk biaya pengobatan dan fisioterapi ayahku di rumah sakit.

Akhirnya, hingga saat ini, aku dan ibu yang menjadi penggerak roda ekonomi keluarga setelah ayahku tak bisa lagi bekerja. Masih ada adik kedua yang harus dibiayai di bangku kelas XI SMK. Aku pun menyadari bahwa usia ibu bertambah tua, begitupun dengan usiaku sendiri. Sudah mulai banyak rasa sakit yang dikeluhkan oleh ibuku. Maka dari itu aku berusaha untuk tidak patah semangat menjadi tulang punggung dari keluarga ini. Cemooh dan cibiran dari orang-orang sekitar tak lagi aku dengar dan aku pedulikan. Bagiku, yang terpenting adalah tetap bisa mencari dan menghidupi keluargaku dengan rezeki yang halal dan baik. Walaupun rezeki yang aku dapatkan jumlahnya pas-pasan.

Tidak akan pernah diri kita merasa tenang jika terus mencari kesempurnaan dalam kehidupan. Ingin aman dan nyaman dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahagia dan sengsara sudah menjadi takdir setiap manusia di muka bumi tanpa terkecuali. Bahagia dan sengsara Tuhan berikan sama rata, tanpa memandang suku, ras, atau golongan. Bagaimanapun, dalam hidup ini selalu ada ruang dan kesempatan untuk sebuah perbaikan, tak peduli seberapa besar duka dan nestapa yang menimpa. Saling membantu dan kerja sama dalam sebuah keluarga memang tak boleh berhenti hingga ikatan keluarga benar-benar terpisahkan dengan kematian.

Kita sendiri yang tahu persis bagaimana keadaan keluarga kita. Seperti kutipan pembuka dalam tulisan ini, keluarga bahagia bisa diwujudkan oleh semua individu manusia. Ketidakbahagiaan justru bisa muncul karena kurangnya rasa syukur kita terhadap banyak nikmat yang Tuhan berikan pada masing-masing keluarga kita. Salah satu karunia besar dalam hidup adalah hadirnya keluarga. Jika hidup sebatang kara, alangkah takutnya kita jika saat mati nanti tak ada yang memakamkan kita, bukan? Jika hidup bergelimangan harta, tanpa adanya keluarga, akan kah harta itu bisa menjadi teman untuk berdiskusi soal masalah-masalah kehidupan kita?

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓