Saat Bersama Banyak Saudara Menyesakkan Dada, Hidup Sendiri Bukanlah Hal Egois

Endah Wijayanti01 Agu 2020, 10:15 WIB
tanda quarter life crisis

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  Ratna Heryani

Rintik hujan mengiringi suasana malam itu ketika aku terlahir di dunia ini. Senyum sumringah dan haru seluruh keluarga melengkapi dinginnya suasana saat itu. Ya, aku terlahir dari sebuah keluarga yang bisa dibilang besar karena aku bungsu dari 6 bersaudara. Banyak yang bilang kalau memiliki saudara lebih dari 3 itu sangat menyenangkan karena ada teman main dan bisa bercengkerama bersama. Namun yang aku rasakan sangat bertolak belakang dengan semua dongeng-dongeng indah yang pernah aku dengar itu.

Sejak kecil aku sudah terbiasa mandiri karena orangtua juga mendidikku untuk menjadi perempuan yang harus bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Untuk sekadar bermain dengan saudara-saudaraku saja tidak pernah, karena selain jarak usia kami yang jauh juga karena ketika aku kecil mereka sudah disibukkan dengan sekolah dan pekerjaan mereka masing-masing.

Hanya dua teman masa kecil dan sahabat khayalanku saja yang menemani hari-hariku kala itu. Namun tak terasa waktu berjalan sangat cepat hingga akhirnya masa kecilku yang cukup indah itu berlalu dan kini kami tumbuh dewasa, saudara-saudaraku pun satu per satu mulain membina keluarga. Semua berubah, suasana rumah yang dulu ramai riuh karena gelak tawa suara saudara kini berubah sunyi. Yang masih sama dan tidak berubah adalah hubunganku dengan saudara-saudara yang terasa sunyi dan senyap.

Hidup dengan Cara Sendiri

meluangkan waktu menyendiri
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Kolapatha+Saengbanchong

Kadang perasaan iri datang menghampiri ketika melihat keluarga lain yang bisa sangat intim menjalin kebersamaan di antara mereka. Sedangkan aku merasa sepi meski di antara kerumunan saudara-saudara dan keluarga besar. Hal ini membuatku semakin menjaga jarak dan menjauh dari keluarga. Aku memilih untuk tinggal di luar kota sendiri, mungkin jalan yang aku pilih ini salah untuk sebagian orang di luar sana. Namun ternyata aku menemukan kebahagiaan dengan aku menjauh dari keluarga, ironi memang.

Tekanan dan hubungan yang kurang harmonis di antara aku dan saudara membuatku memilih jalan ini. Ditambah usiaku yang kata orang kebanyakan sudah selayaknya membangun sebuah keluarga semakin memperparah keadaanku dengan saudara-saudaraku. Tekanan dari mereka membuatku merasa sesak ketika berada di antara kerumunan keluarga. Suara-suara mereka seolah terngiang dan menggema dalam kepalaku setiap aku berada di tengah-tengah mereka. Hal ini seolah sirna dan lenyap ketika aku jauh dari mereka.

Aku bisa memahami mengapa mereka seperti itu, aku anggap saja sebagai bentuk perhatian mereka kepada adik paling kecil yang mereka punya. Tapi aku saat ini pun sudah merasa sangat bahagia dengan kehidupanku meski belum menikah dan memilih tinggal sendiri jauh dari keluarga. Karena menurutku pernikahan bukanlah hal yang bisa dipaksakan bahkan oleh saudara atau keluarga kita sendiri. Pernikahan adalah sebuah pilihan seseorang sebagai manusia yang harus dihormati oleh manusia lainnya. Namun dalam hati kecilku yang paling dalam masih tersisa asa untuk di kemudian hari aku bisa membangun sebuah keluarga kecil yang hangat dan intim sesuai dengan harapanku yang tidak aku dapatkan saat ini.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓