Menghargai Ketidaksempurnaan, Ciptakan Keluarga yang Lebih Hangat

Endah Wijayanti01 Agu 2020, 14:45 WIB
bekerja di kota

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Choernati Poejo Widodo

Keluarga kami termasuk keluarga besar yang mempunyai enam orang anak. Tapi kami bukan termasuk pengikut filsafat dari banyak anak banyak rezeki. Dengan banyak anggota keluarga, pasti dipikir kita sering bertengkar atau beda pemahaman. Tapi ini salah besar. Di keluarga kami, malah hubungannya sangat kompak dan hangat.

Suami saya, termasuk difabel untuk tangan kirinya dan mengharuskan diamputasi karena kecelakaan kerja. Hal ini membuat suami sempat terpuruk. Tapi karena selalu disemangati keluarga dan ahak-anak, suami lambat laun termotivasi dengan membiasakan aktivitas dengan satu tangan saja. Bahkan dengan berjalannya waktu, suami dipercaya sebagai seorang motivator sebuah panti jompo.

Saling Mendukung dan Menyemangati

bersama keluarga
Bersama keluarga./Copyright dok. Choernati Poejo Widodo

Pekerjaan dari kantoran harus jadi pekerja rumahan dengan beternak unggas, ikan, dan kambing. Untuk aktivitas dengan kedua tangan, mengandalkan satu tangan kanan. Untuk membetulkan keranjang sepeda, beliau mengikatnya pakai kawat dan ditambah tali. Untuk mengikat lebih kuat, mengikat talinya pakai bantuan giginya. 

Anak-anak tidak malu ayahnya jadi seoramg difabel. Mereka malah bahu membahu dengan membelikan sebuah tangan palsu agar Ayahnya tidak malu untuk aktivitas dan bertemu orang banyak karena difable. Untuk motor, kami belikan motor bekas tahun 80an yang setang motornya kecil sehingga tidak merusak tangan palsunya. Untuk klakson dan lampu sein dipindah ke kanan untuk memudahkan pengoperasiannya. Hal ini agar lebih mudah untuk beraktivitas di luar sebagai motivator sebuah panti jompo.

Kami sekeluarga, tetap menganggap beliau sempurna tidak ada kekurangan fisik. Prinsip kami, "Ketidaksempurnaan itu akan sempurna jika kita mampu menyempurnakannya."

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓