Terlahir dari Keluarga Sederhana Ternyata Memberi Banyak Kebaikan dalam Hidup

Endah Wijayanti03 Agu 2020, 10:55 WIB
guru hebat

Fimela.com, Jakarta Oleh:  Fitriatur Rosyidah

Terlahir dari keluarga yang sederhana tak membuatku menyerah pada keterbatasan. Keinginanku untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi di universitas besar di kotaku harus aku kubur dalam-dalam karena keterbatasan biaya. Namun, aku selalu menyediakan opsi-opsi cadangan dalam melanjutkan hidup yang terkadang tak sesuai dengan rencana kita. Beruntung sekali aku mempunyai kedua orang tua yang mendukung penuh usaha dan kegiatan anaknya.

Waktu itu aku lulus SMA, ingin kuliah di universitas ternama di kotaku, kota Malang. Aku daftar di kampus kecil di kabupaten (bukan kota) karena biaya yang relatif terjangkau bagiku yang tergolong kurang mampu. Tapi aku tak pernah lelah untuk meraih cita-citaku untuk menjadi guru yang profesional.

Pada bulan yang bersamaan, aku diminta untuk membantu menjagar TK di desaku. Aku sempat ragu karena apakah aku sanggup. Lalu ketika kami sekeluarga makan, ayahku berpesan bahwa kalau kita melakukan kebaikan dengan ikhlas makan Allah akan membalas dengan kebaikan pula di waktu dan dengan cara yang tak terduga. Pada saat itu aku kurang memahami apa maksud dari “tak terduga”.

Kami sekeluarga memang sering makan di meja makan bersama-sama walaupun dengan lauk yang seadanya. Esoknya aku mengiyakan tawaran menjadi guru TK. Aku harus membagi waktuku antara mengajar TK dan pada sore hari hingga malam aku harus kuliah. Hampir tidak ada hari libur, hampir tidak ada istirahat.

Ibuku bercerita bahwa salah satu teman ibuku yang bernama Zizah, walaupun dia anak orang tak punya namun ia tak pernah menyerah dalam meraih cita-citanya. Sekarang teman ibuku itu sukses namun tetap hidup sederhana dan rendah hati. Aku sering diajak ibuku ke rumah ibu Zizah. Dengan mendengarkan kisah hidup orang yang lebih berpengalaman dengan kita, kita bisa menginspirasi kita untuk menjalani hidup. Beginilah cara ibuku dalam memberi petuah anaknya. Dengan mengajak sowan ke kerabat yang bisa menginspirasi anaknya.

Tetap Semangat

bersama dengan keluarga
Bersama keluarga./Copyright dok. Fitriatur Rosyidah

Sepulang dari rumah ibu Zizah, aku mulai semangat lagi untuk menjalani aktivitasku yakni mengajar TK sekaligus kuliah. Kadang aku lelah namun orang tuaku berkata, “Banyak yang ingin kuliah tapi tak kesampaian, banyak yang ingin bekerja tapi belum dapat pekerjaan, tapi kamu bisa mendapatkan dua-duanya, jangan mengeluh.” Berkali-kali aku mencoba bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Bersyukur dengan honor guru TK yang tak seberapa, bersyukur telah bisa kuliah, bersyukur diberi nikmat kesehatan dan lingkungan yang positif.

Sampai pada akhirnya ada seleksi guru Sertifikasi se-Indonesia tahun 2019. Alhamdulillah aku lolos. Enam bulan kuliah daring di universitas impianku semasa aku lulus SMA, sekarang kesampaian. Satu bulan tatap muka dan terakhir PPL. Pada saat perjuanganku menjadi guru yang profesional dan bersertifikat, ayahku dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Sedih sekali, ayah tak sempat melihatku menggapai mimpi. Namun, aku yakin ayah di sana telah tenang dan bahagia.

Hubunganku dengan ayah memang dekat secara emosional, walaupun aku bukan termasuk anak yang manja. Dan sekarang aku telah berhasil lulus sertifikasi dan mendapat tunjangan dari pemerintah. Aku selalu ingat kata ayahku, “Biasakan berbagi ketika dapat rezeki." Ayahku juga menanamkan bahwa perempuan berhak mendapat pendidikan tinggi karena madrasah/sekolah pertama seorang anak adalah dari ibunya.

Ayah, ibu, nasihat kalian akan selalu kusimpan rapi di nampan emas kehidupanku. Terima kasih banyak ayah ibuku.

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓