Jajanan dari Beras Ketan Menjadi Kue Penting dalam Tradisi Pernikahan Jawa, Ini Alasannya

Endah Wijayanti05 Agu 2020, 07:45 WIB
tradisi pernikahan jawa

Fimela.com, Jakarta Pernikahan adalah acara yang penting dan sakral. Dalam tradisi Jawa, dalam acara pernikahan atau acara yang mengiringi pernikahan seperti lamaran, jajanan yang terbuat dari beras ketan menjadi kue penting. Ragam jajanan seperti kue jadah, kue wajik, jenang, dan dodol dari beras ketan biasanya disajikan dalam acara penting tersebut.

Kenapa kue berbahan beras ketan menjadi kue penting? Hal ini karena ada filosofi dan makna yang terkandung dalam jajanan tersebut.

Mengandung Simbol Hubungan yang Langgeng

Salah satu jajanan yang umum ditemukan dalam tradisi Jawa terkait lamaran dan pernikahan adalah jenang. Pembuatan jenang tidaklah sebentar. Pembuatannya bisa memakan waktu berjam-jam. Lamanya proses pembuatan jenang mengandung harapan pernikahan akan berlangsung lama atau langgeng. Pada acara lamaran misalnya, diharapkan pasangan yang akan mengikat janji suci bisa memiliki hubungan langgeng hingga akhir hayat.

Mengandung Simbol Hubungan yang Erat

Jenang atau dodol
ilustrasi/copyright shutterstock.com

Sifat beras ketan yang lengket mengandung harapan agar pengantin senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan susah dipisahkan. Proses pembuatan jajanan berbahan beras ketan umumnya lama dan butuh kesabaran ekstra serta memerlukan kerja sama beberapa orang. Hal ini menyimbolkan harapan agar pasangan saat menikah nanti tidak mudah putus asa dalam membangun dan mengarungi rumah tangga. Harapannya pasangan pengantin selalu bekerja sama dan saling mendukugn satu sama lain dalam suka dan duka.

Makna dan filosofi jajanan berbahan beras ketan dalam tradisi pernikahan Jawa mengandung kebaikan-kebaikan yang diharapkan bisa didapatkan oleh pasangan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Ya, selalu ada hal menarik dan nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari tradisi kita.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓