Mengamalkan Konsep Tawadhu, Cara Memperoleh Ketenangan Hati dalam Islam

Imelda Rahma04 Agu 2020, 17:35 WIB
Tawadhu

Fimela.com, Jakarta Dalam Islam, umat muslim mengenal konsep tawadhu dan dianjurkan untuk mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, tawadhu merupakan sikap batin yang harus senantiasa diwujudkan secara proporsional dan wajar. Memiliki perilaku tawadhu atau rendah hati merupakan salah satu cerminan seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT.

Untuk definisi yang lebih luas, tawadhu diartikan sebagai perilaku manusia yang memiliki watak rendah hati, tidak sombong, atau merendahkan diri agar tidak terlihat sombong. Tawadhu bukan hanya sekadar tata kerama belaka, namun perilaku ini memiliki makna yang jauh lebih dahulu dari sopan santun, yaitu sikap batin yang menjelma dalam praktik lahiriyah secara wajar dan bijaksana.

Seorang muslim hendaknya mengamalkan sifat tawadhu dalam kehidupannya karena akan memberikan banyak manfaat padanya, salah satunya adalah menjaga hubungan sosialnya dengan sesama. Ada begitu banyak prasangka buruk yang akan kamu temui setiap hari, namun jika kamu berusaha untuk menerapkan tawadhu, maka kamu akan terhindar dari keburukan.

Nah, buat kamu yang ingin mengamalkan konsep tawadhu dalam keseharian dan ingin tahu lebih banyak tentang tawadhu, bisa melihat ulasannya berikut ini. Fimela.com akan mengulas secara mendalam konsep tawadhu, sebagai suatu cara untuk mendapatkan ketenangan hati dalam Islam.

Mengenal Arti Tawadhu

Mengenal Arti Tawadhu
Ilustrasi Tawadhu Credit: pexels.com/pixabay

Memiliki akhlak yang baik adalah ciri-ciri orang yang bertakwa dan beriman, salah satu akhlak yang baik ialah mengamalkan tawadhu. Tawadhu memiliki arti sebagai sikap yang rendah hati, namun bukan berarti rendah diri. Tawadhu dapat diartikan sebagai sebuah tindakan yang percaya diri, optimis, berani, serta tidak merasa diri kita lebih baik dari orang lain sekalipun memiliki banyak kelebihan.

Seseorang yang berhasil mengamalkan tawadhu dalam kesehariannya akan dicintai dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Hal ini karena Allah SWT mencintai hamba-Nya yang berakhlak baik serta tidak memiliki sifat meninggikan diri sendiri. Perihal ini sesuai dengan terjemahan surat Al-Furqon ayat 63, yakni:

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon ayat 63)

Ciri-ciri Orang Tawadhu

Ciri-ciri Orang Tawadhu
Ilustrasi Sifat Tawadhu Credit: pexels.com/pixabay

Sifat tawadhu memang tidak mudah diukur karena hal tersebut merupakan cerminan yang ada didalam hati, hanya Allah SWT sajalah yang bisa mengetahui. Terkadang godaan untuk menjadi seseorang yang tawadhu justru adalah sifat munafik.

Namun, ada beberapa ciri-ciri yang bisa kamu gunakan untuk mengetahui apakah seseorang tersebut memiliki sifat tawadhu atau tidak. Berikut ciri-cirinya:

  • Seseorang yang memiliki sikap tawadhu ialah mereka yang lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal.
  • Bersedia menerima kebenaran dari siapapun, baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya.
  • Mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka.
  • Selalu bersedia untuk mementingkan kepentingan orang lain dan senang ketika dimintai pertolongan.

Manfaat dari Bertawadhu

Manfaat dari Bertawadhu
Ilustrasi Mengamalkan Sifat Tawadhu Credit: pexels.com/pixabay

Sebagai suatu sifat yang baik, tawadhu akan mendatangkan banyak manfaat pada dirimu, jika kamu tulus mengamalkannya. Manfaat pertama yang bisa kamu dapatkan dari tawadhu ialah terhindari dari perangai buruk yakni, sombong.

Takabur atau menyombongkan diri merupakan salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah. Seseorang yang berperilaku sombong diancam akan dimasukkan ke neraka, sampai dirinya bertobat. Oleh karena itu, salah satu manfaat bersikap tawadhu adalah menghindarkan diri dari sikap takabur.

Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Al-Kharaithi, imam Al-Hasan bin Sufyan, Ibnu La’al, dan imam Ad-Dailami dari sahabat Anas bin Malik r.a, berikut ini:

"Tidak ada manusia kecuali di kepalanya ada dua rantai, rantai di langit ke tujuh dan rantai di bumi ke tujuh, jika ia tawadhu’ maka Allah akan mengangkatnya dengan rantai ke langit ke tujuh, dan jika ia sombong maka Allah akan merendahkannya dengan rantai ke bumi ke tujuh."

Manfaat yang kedua yakni dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT karena mampu untuk mengamalkan sifat tawadhu. Hal ini tidak berlebihan mengingat tidak semua orang mampu untuk mengamalkannya. Janji Allah SWT ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini, yang artinya:

"Tidaklah seorang bertawadhu yang ditunjukkan semata-mata karena Allah SWT, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya." (HR Imam Muslim)

Lanjutkan Membaca ↓