Fanatik Namun Toxic, Inilah Konsep Chauvinisme yang Perlu Kamu Tahu

Imelda Rahma05 Agu 2020, 12:35 WIB
Chauvinisme

Fimela.com, Jakarta Menunjukkan sikap cinta tanah air dan bersikap nasionalis memang hal yang baik namun, jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan bahkan sampai menindas bangsa atau negara lain, tentu itu bukan hal yang bijak. Kira-kira seperti itu gambaran dari konsep chauvisnisme yang sempat dihubungkan dengan kasus ‘Black Live Matters’ yang sempat viral beberapa minggu yang lalu.

Seorang warga negara atau bangsa yang menganut sikap chauvinisme memiliki potensi lebih besar melakukan tindakan rasisme karena mereka menganggap bahwa ras atau bangsanya lebih baik dibandingkan ras dan bangsa yang lain. Sikap superior tersebut akhirnya memunculkan keinginanan untuk menindas bahkan menghilangkan bangsa lain.

Perlu diketahui bahwa konsep ini sebenarnya sudah ada sejak lama, puncaknya pada meletusnya perang dunia kedua. Bisa dikatakan bahwa sikap chauvinisme pada waktu itu juga menjadi penyebab mengapa perang dahsyat tersebut terjadi. Berakhirnya perang dunia kedua dan kehidupan yang sudah merdeka saat ini nyatanya masih belum bisa menghilangkan sikap chauvinisme itu sendiri.

Konsep chauvinisme ini sangat menarik untuk diulas karena perwujudan sikapnya masih ada sampai saat ini walaupun tidak ditunjukkan secara eksplisit. Untuk itu, Fimela.com kali ini akan mengulas konsep chauvinisme sebagai cerminan fanatik namun toxic. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Mengenal Konsep Chauvinisme

Mengenal Konsep Chauvinisme
Ilustrasi Perwujudan Sikap Chauvinisme Credit: pexels.com/pixabay

Untuk mengenal konsep chauvinisme, kita perlu memahami dulu pengertian atau definisinya. Chauvinisme adalah bentuk rasa cinta, bangga, fanatisme, dan loyalitas yang tinggi terhadap tanah air (negara) tanpa melihat dan mempertimbangkan pandangan orang. Sikap fanatisme yang dimiliki seorang penganut chauvinisme dapat merendahkan negara atau bangsa lain.

Jika merujuk pada sejarah dapat diketahui bahwa istilah chauvinisme mulai muncul sekitar tahun 1960. Pada awalnya, chauvinisme dikenal sebagai bentuk pandangan agresif pria terhadap wanita. Adapun tokoh pencetus chauvinisme adalah Nicolas Chauvin, seorang tentara setia Napoleon Bonaparte. Walaupun di saat Napoleon kalah, Chauvin tetap setia kepadanya. 

Istilah tersebut akhirnya muncul dengan sebutan yang dikonsepkan mirip dengan nama Chauvin. Pengertian Chauvinisme ada berbagai macam menurut para ahli.

Menurut St. Times, chauvinisme adalah rasa cinta tanah air secara berlebihan dengan mengagung-agungkan bangsa sendiri sehingga merendahkan bangsa lain. Sedangkan menurut Inovania, chauvinisme memiliki definisi sebagai sebuah istilah yang dipergunakan merujuk pada sebuah kesetiaan yang ekstrem terhadap sesuatu tanpa mempertimbangkan alternatif lain.

Ciri-Ciri Sikap Chauvinisme

Ciri-Ciri Sikap Chauvinisme
Ilustrasi Sikap Chauvinisme Credit: pexels.com/pixabay

Berbicara lebih jauh mengenai konsep chauvinisme, setelah mengetahui definisinya dan juga sejarahnya, kini kamu juga perlu mengetahui gambaran atau ciri-ciri dari sikap chauvinisme itu sendiri. Hal ini penting agar kamu tidak salah kaprah dalam memahami chauvinisme. Adapun ciri-cirinya, yakni:

Menunjukkan Sikap Fanatik Terhadap Bangsa dan Negaranya Secara Berlebihan

Ciri yang pertama dari cerminan sikap chauvinisme ialah menunjukkan sikap fanatik yang berlebihan terhadap bangsa dan negaranya. Orang yang menganut konsep ini percaya bahwa ras dan bangsanya adalah yang terbaik dari yang terbaik sehingga membuatnya merasa superior dan berhak atas orang lain.

Menganggap Rendah dan Menindas Ras dan Bangsa Lain

Ciri yang kedua dari sikap chauvinisme ialah merendahkan ras dan bangsa lain bahkan tidak ragu-ragu untuk melakukan penindasan. Hal inilah yang bisa melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan rasis pada orang lain hanya karena menganggap bahwa dirinya lebih baik dan berhak atas mereka yang memiliki perbedaan seperti, warna kulit dan lain sebagainya.

Memiliki Pemimpin yang Cenderung Revolusionis dan Dikktatoris

Ciri yang ketiga dari sebuah bangsa penganut chauvinisme ialah dipimpin oleh seorang pemimpin yang cenderung revolusionis dan diktatoris. Revolusionis disini maksudnya adalah memimpin dengan kekerasan sedangkan diktator artinya tidak memimpin secara demokratis sehingga pemimpin tersebut memiliki kekuasaan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Dampak dari Konsep Chauvinisme

Dampak dari Konsep Chauvinisme
Ilustrasi Demonstrasi Melawan Rasisme Credit: pexels.com/pixabay

Sebagai sebuah konsep yang sudah ada sejak lama dan berkaitan dengan pandangan hidup suatu negara, otomatis konsep ini juga memiliki dampak yang besar. Chauvinisme juga sama, konsep ini memiliki dampak positif dan juga negatif, hanya saja poin negatifnya ini lebih banyak.

Dampak positif dari konsep chauvinisme ialah dapat mempersatukan warga negara menjadi satu kesatuan yang tunduk akan pemerintahan. Biasanya karena menganut konsep ini, bangsa atau suatu negara akan terhindar dari konflik internal karena semua warga negaranya tunduk dan memberi kepercayaan yang sangat besar kepada pemerintah.

Adapun dampak negatif dari konsep chauvinisme ialah seperti berikut:

  1. Berpotensi merusak perdamaian dunia.
  2. Memicu pertentangan dan peperangan antar bangsa dan negara.
  3. Menjadikan jiwa seseorang lebih tertutup dan sulit bersosialisasi.
  4. Menjadikan pemimpin memiliki keyakinan besar untuk menyerang bangsa lain demi kekuaasaan.
  5. Menjadikan seseorang tidak dapat berpikir hal-hal baik tentang bangsa lain.
  6. Mengarah untuk melupakan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by