Fenomena Deja Vu Bukan Mistis, Ini 5 Faktanya Secara Logis

Imelda Rahma07 Agu 2020, 13:35 WIB
Deja Vu

Fimela.com, Jakarta Salah satu fenomena aneh yang sering dirasakan banyak orang ialah deja vu. Fenomena ini adalah kondisi dimana seseorang merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.  Secara harfiah, deja vu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Prancis berarti 'pernah dilihat'.

Beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa deja vu banyak dialami oleh individu yang sehat, namun kejadian ini juga bisa merupakan bagian dari kondisi medis tertentu, misalnya kejang dan aura pada migrain. Sedangkan menurut How Stuff Works, 70 persen populasi manusia pernah mengalami hal ini dan yang paling sering berada dalam rentang usia 15-25 tahun.

Tidak hanya itu saja, deja vu juga sering dihubung-hubungkan dengan hal yang mistis yakni, meyakini bahwa ada dimensi lain yang pernah dialami seseorang sehingga ia mengalami déjà vu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika fenomena deja vu dianggap sebagai misteri aneh yang menarik untuk dibahas.

Namun sebenarnya fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah dan logis karena bukan bagian dari hal yang mistis. Untuk itu, Fimela.com akan membagikan informasi 5 fakta mengenai deja vu secara logis. Simak informasi selengkapnya berikut ini.

 

Adanya Gangguan Sinkronisasi Informasi Pada Otak

Adanya Gangguan Sinkronisasi Informasi Pada Otak
Ilustrasi Gangguan Sinkronisasi Informasi Pada Otak Credit: pexels.com/pixabay

Fakta deja vu yang pertama ialah adanya gangguan sinkronisasi informasi pada otak. Hal ini pun muncul dari hipotesis para peneliti yang mengatakan bahwa fenomena dejavu terjadi karena adanya ketidakcocokan suatu informasi di dalam otak ketika hendak membuat persepsi yang menyeluruh dari suatu peristiwa, di mana informasi yang ada terlalu sedikit, sehingga yang muncul adalah informasi samar antara input sensorik dan output memory-recall (mengingat kembali informasi dari kejadian lalu).

Hipotesis ini sekaligus menguatkan teori yang berpendapat bahwa dejavu muncul akibat adanya kegagalan otak dalam jangka waktu yang sangat singkat, sehingga terjadi tabrakan antara memori jangka panjang dan jangka pendek. Pada teori ini dikatakan, adanya penyimpangan jalur memori, dimana memori jangka pendek tersesat ke dalam memori jangka panjang seseorang, akan menyebabkan timbulnya dejavu. Inilah alasan dejavu sering membuat kita seolah-olah pernah merasakan hal yang dialami saat ini di masa lalu.

Dipengaruhi Oleh Frekuensi Bepergian

Dipengaruhi Oleh Frekuensi Bepergian
Ilustrasi Bepergian Credit: pexels.com/Dominika

Fakta deja vu yang kedua menjelaskan bahwa fenomena deja vu dipengaruhi oleh frekuensi bepergian yang dilakukan orang tersebut. Orang yang lebih sering bepergian memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami dejavu. Semakin sering ksmu bepergian, maka kemungkinan kamu mengalami fenomena deja vu juga akan lebih tinggi.

Menurut studi tertentu, dejavu hanya terjadi pada 11% orang yang tak pernah bepergian. Sementara pada orang yang bepergian 1-4 kali per tahun, dejavu terjadi pada 41% dari mereka. Dan pada kelompok yang bepergian lebih dari lima kali per tahun, 44% di antaranya mengalami dejavu.

Hal ini bisa terjadi karena semakin sering kamu bepergian, maka referensi tempat dan suasana yang pernah kamu rasakan akan semakin beragam sehingga mudah untukmu merasakan adanya sesuatu yang sama dari satu tempat ke tempat yang lain.

Berhubungan dengan Gangguan Mental

Berhubungan dengan Gangguan Mental
Ilustrasi Stres dan Kelelahan Credit: pexels.com/pixabay

Berikutnya, fakta deja vu yang ketiga ialah menjelaskan bahwa fenomena ini berhubungan dengan gangguan mental yang tengah dialami seseorang. Gangguan kecemasan yang dimaksud ialah seperti kecemasan, gangguan identitas disosiatif (sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadian majemuk), dan skizofrenia.

Gangguan mental tersebut juga tidak lepas dari faktor stres dan kelelahan akibat suatu pekerjaan atau masalah tertentu. Inilah alasannya mengapa seseorang yang sedang mengalami gangguan mental mudah mengalami deja vu. Bisa juga dibalik yakni, ketika seseorang mengalami deja vu artinya kondisi mentalnya bisa jadi sedang bermasalah.

Dampak dari Mengonsumsi Obat-Obatan Tertentu

Dampak dari Mengonsumsi Obat-Obatan Tertentu
Ilustrasi Mengonsumsi Obat-Obatan Credit: pexels.com/pixabay

Selanjutnya fakta yang keempat menyebutkan bahwa seseorang bisa mengalami deja vu akibat dampak dari mengonsumsi obat-obatan tertentu. Seperti yang kamu tahu beberapa obat memang memiliki efek samping tertentu yang ketika dikonsumsi akan memengaruhi tubuh orang tersebut, salah satunya ialah fenomena deja vu.

Hal ini pun sesuai dikuatkan dengan suatu penelitian yang melaporkan bahwa ada satu kasus terjadi, di mana seorang seorang laki-laki dewasa yang sehat secara mental berulang kali mengalami dejavu ketika meminum obat amantadine dan phenylpropanolamine secara bersamaan untuk mengatasi flu.

Bagian dari Cara Kerja Rhinal Cortex

Bagian dari Cara Kerja Rhinal Cortex
Ilustrasi Cara Kerja Rhinal Cortex Credit: pexels.com/pixabay

Terakhir, fakta mengenai deja vu yang bisa dijelaskan secara logis ialah bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh cara kerja rhinal cortex. Rhinal cortex adalah bagian yang ada pada otak kita dan memiliki fungsi untuk mendeteksi rasa familiar.

Saat seseorang mengalami deja vu, bisa jadi bagian rhinal cortex teraktivasi tanpa memicu kerja hipokampus (bagian otak yang berfungsi sebagai memori). Ini dapat menjelaskan kenapa saat kita mengalami dejavu, kita tidak dapat mengingat dengan persis kapan dan di mana kita pernah merasakan pengalaman yang sama.

Lanjutkan Membaca ↓