Jauh dari Kampung Halaman Membuatku Belajar Arti Sebuah Kebersamaan

Endah Wijayanti10 Agu 2020, 10:15 WIB
arti keberagaman

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti punya pengalaman tak terlupakan terkait negeri kita tercinta Indonesia. Ada kebanggaan yang pernah kita rasakan sebagai bagian dari Indonesia. Kebanggaan terhadap keindahan alam Indonesia, kekayaan tradisi dan budaya, kecintaan terhadap masyarakat Indonesia, dan lain sebagainya. Kita pun punya cara tersendiri dalam mengartikan kebanggaan terhadap tanah air ini. Melalui Lomba Share Your Stories Bulan Agustus: Bangga Indonesia ini, Sahabat Fimela bisa berbagi cerita, pengalaman, dan sudut pandang tentang hal tersebut.

***

Oleh: Maria Dominika Tyas Kinasih

Halo teman-teman! Perkenalkan, namaku Tyas. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu kampus swasta di Kota Salatiga. Sebagai anak tunggal, aku pernah mengalami bagaimana rasanya tinggal di tanah rantau dan jauh dari orang tua. Beragam rasa berpadu menjadi satu, sehingga meninggalkan kesan tersendiri bagiku. Setelah lulus dari SMP pada tahun 2016, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di salah satu sekolah homogen di Kota Yogyakarta. Dari sinilah, ceritaku di tanah rantau dimulai.

Sejak tahun 2016, aku mulai belajar dan mengenal kawan yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Jauh dari orangtua dan tempat tinggal, membuatku belajar arti sebuah kebersamaan dan kekeluargaan. Ketika tahun pertama aku tinggal di asrama, aku mulai merindukan suasana di rumah. Mulai dari masakan ibu, jajanan pasar, tradisi di lingkunganku, dan masih banyak hal lainnya yang kurindukan. Namun, salah satu hal yang paling kurindukan selama di kota pelajar adalah jajanan pasar. 

Di daerahku, tepatnya Kab. Semarang, jajanan pasar menjadi salah satu makanan tradisional yang masih menjadi makanan favorit bagi banyak orang. Ada thiwul, cethot, cethil, gathot, dan masih banyak jajanan lainnya. Namun, jajanan yang paling ku sukai adalah thiwul.

Thiwul adalah jajanan tradisional yang terbuat dari ubi kayu yang telah dijemur sampai kering. Dalam bahasa Jawa, ubi kayu yang telah dikeringkan disebut gaplek. Cara memasaknya ialah ubi kayu yang telah dikeringkan dibuat tepung, lalu dimasak hingga menjadi thiwul. Selama di Kota Yogyakarta, aku berburu thiwul di berbagai tempat. Sepulang dari beribadah, aku selalu menyempatkan diri untuk membeli thiwul di penjual jajanan pagi sepanjang jalan Brigjen Katamso. Rasanya manis, sehingga rinduku pada kampung halaman semakin membuncah. Jika sudah bertemu dengan jajanan ini dan menyantapnya, rasa rinduku sudah terobati.

Selain jajanan pasar, adapula camilan tradisional yang tidak kalah enaknya. Camilan tradisional ini yang selalu dibawakan oleh ibuku ketika mengunjungiku di asrama. Ada tumpi, widharan, rodha dokar, rengginang, opak, emping, balung kuwuk, dan masih banyak cemilan tradisional lainnya. Namanya unik-unik ya! Hahaha. Camilan tradisional ini jarang ditemui di berbagai tempat. Sekali makan, langsung ketagihan! Hehehe. Namun, camilan tradisional yang menjadi kesukaanku adalah opak dan balung kuwuk.

Mencoba Ragam Camilan

Nasi tiwul
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Galih A Suprayogo

Opak adalah camilan yang bisa dibuat dengan bahan dasar ketela ataupun beras ketan. Sedangkan baluk kuwuk adalah keripik yang terbuat dari ubi kayu yang dipotong tipis-tipis lalu digoreng. Selama di kota pelajar, aku juga merindukan camilan ini. Di rumah, aku biasa ngemil opak dan balung kuwuk. Maka, ketika ibu pergi ke Yogyakarta, ibu pernah membawakanku opak dan balung kuwuk. 

Tak lupa, aku membagikan cemilan itu dengan teman-teman asramaku. Rasanya gurih dan asin, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai camilan yang menemani kegiatan kita di waktu senggang. Ketika kami ngemil bersama-sama, tiba-tiba saja, kami merasakan rindu yang dalam dengan kampung halaman. Jika sudah rindu, ada salah satu teman kami yang meminta tolong pada keluarganya untuk mengirimkan makanan tradisional. Hehehe.

Salah satu hal yang menarik bagiku adalah ketika aku mencicip sambal durian yang dibawakan oleh temanku yang berasal dari Kalimantan Tengah. Namanya tempoyak. Aku pun iseng mencocolkan opak-ku dengan sambal tersebut. Wuahh! Rasa sambal yang manis dan pedas bercampur dengan cemilanku yang rasanya gurih! Benar-benar, perpaduan yang luar biasa. Sementara, aku menyantapnya dengan mengernyitkan kening. Hahaha. Temanku tertawa geli melihat tingkahku. Demikianlah salah satu pengalaman yang mengesankan bagiku.

Pengalaman yang kurasakan selama aku mengalami masa putih abu-abu di kota pelajar, memberikan kesan tersendiri bagiku. Dari situ, aku bisa belajar tentang sebuah arti. Arti kebersamaan dan kekeluargaan. Sebuah kebersamaan yang bisa mengobati rasa rinduku, dan sebuah kekeluargaan yang selalu menumbuhkan cintaku pada kampung halamanku. Waktu tentu tidak akan bisa terulang kembali. Namun, memori akan selalu menjadi kenangan manis, yang terukir abadi di dalam hati. Terima kasih Yogyakarta!

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓