5 Perbedaan Dropshipper dan Reseller yang Perlu Diketahui

Imelda Rahma10 Agu 2020, 18:35 WIB
Reseller

Fimela.com, Jakarta Seiring dengan maraknya perkembangan perdagangan melalui via online atau yang biasa dikenal dengan online shop, istilah reseller dan dropshipper pun kini marak dan mudah ditemui di media sosial. Bagi yang tidak tahu pasti akan berpikir bahwa keduanya adalah dua istilah yang sama, padahal sebenarnya berbeda.

Reseller dan dropshipper sebenarnya merupakan cara berdagang yang biasa dipakai dalam bisnis via online atau online shop. Kuncinya ada pada permodalannya. Dropshipping merupakan suatu metode penjualan yang memungkinkan toko ataupun si pemilik barang tidak menyimpan stok barang yang ingin dijual. Ketika ada pembeli yang datang dan memesan barang, kamu bisa langsung memesannya ke supplier dan meminta supplier barang untuk mengirimkan barang secara langsung ke konsumenmu.

Berbeda dengan reseller, bisnis reseller mirip dengan sistem bisnis konvensional namun dengan bantuan internet. Bila pada sistem konvesional kamu harus menghadirkan fisikmu untuk keperluan stocking dan hal lainnya, dengan sistem reseller kamu bisa menjalankan ini secara online saja.

Nah, jika kamu masih bingung, Fimela.com kali ini akan membagikan informasi 5 perbedaan dropshipper dan reseller yang perlu diketahui. Melalui pemaparan ini kamu nantinya akan jadi lebih paham dan bisa membedakan antara keduanya. Simak informasi selengkapnya dibawah ini.

Dilihat dari Stok Barang

Dilihat dari Stok Barang
Ilustrasi Stok Barang Credit: unsplash.com/JoelMuniz

Perbedaan dropshipper dan reseller yang pertama ialah dilihat dari stok barangnya. Hal ini bisa dikatakan sebagai perbedaan yang paling mendasar diantara keduanya. Seorang reseller harus membeli barang sebagai stok dengan jumlah banyak kepada supplier.

Pembelian pun diharuskan dalam jumlah yang banyak agar harga barang yang diperolehnya kompetitif sehingga margin atau selisih harga pembelian dengan harga penjualan yang didapat semakin besar.

Sedangkan dropshipper tidak perlu memiliki stok barang, fokus dropship hanya mencari konsumen saja, dan saat ada orderan dari konsumen, dropshipper langsung meneruskan orderan dan detail pengiriman kepada supplier.

Dilihat dari Segi Modal

Dilihat dari Segi Modal
Ilustrasi Modal Credit: unsplash.com/Sharon

Selain stok barang, perbedaan dropshipper dan reseller juga terletak pada modal yang digunakan. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, seorang reseller harus memiliki modal yang cukup untuk menyetok barang.

Sedangkan seorang dropshipper hanya bermodalkan pulsa atau kuota internet saja, bisa dibilang seorang dropshipper tidak memerlukan modal sama sekali. Namun hal tersebut lagi-lagi bergantung pada tujuanmu dalam memulai bisnis. Jika kamu hanya ingin mendapatkan penghasilan maka dropshipper saja sudah cukup. Namun, jika benar-benar ingin membangun bisnis maka kamu bisa memulainya dengan menjadi reseller.

Dilihat dari Strategi Pemasarannya

Dilihat dari Strategi Pemasarannya
Ilustrasi Strategi Pemasaran Online Shop Credit: unsplash.com/Austin

Kemudian, perbedaan dropshipper dan reseller yang berikutnya ialah dilihat dari strategi pemasarannya. Seorang reseller biasanya menawarkan barang secara langsung, karena reseller memiliki stok barang yang ingin dijual.

Sedangkan dropshipper tidak demikian, karena dropshipper tidak memiliki stok barang. Seorang dropshipper dapat mempromosikan produknya lewat media sosial, website, grup chat, dan sebagainya.

Namun, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa reseller akan lebih unggul karena ia memiliki barangnya secara langsung yang bsia ditunjukkan serta dapat memberikan informasi jauh lebih detail terkait produk tersebut. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap komunikasi dan rasa kepercayaan yang dibangun ke konsumen.

Dilihat dari Keuntungannya

Dilihat dari Keuntungannya
Ilustrasi Keuntungan Penjualan Via Online Credit: unsplash.com/Viacheslav

Dalam hal keuntungan, seorang reseller memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan dropshipper, karena ia memperoleh harga yang sangat kompetitif melalui pembelian jumlah banyak kepada supplier. Melalui hal tersebut, reseller bisa lebih leluasa untuk menjual barangnya dengan selisih yang lebih tinggi. Sehingga margin keuntungan yang diperolehnya semakin besar.

Sedangkan dropshipper akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih sedikit atau standar karena ia tidak bisa mengatur margin penjualan. Memang sedari awal motif untuk menjadi dropshipper biasanya memang hanya freelance dan ingin mendapatkan uang tambahan saja, bukan ingin serus menggeluti sebuah bisnis.

Dilihat dari Resikonya

Dilihat dari Resikonya
Ilustrasi Aplikasi Online Shop Credit: pexels.com/PhotoMIX

Terakhir, perbedaan antara dropshipper dan reseller bisa dilihat dari resikonya. Seorang reseller memiliki tingkat risiko kerugian lebih tinggi daripada dropshipper karena ia menyimpan stok barang. Apabila barangnya tidak laku lagi dijual, maka reseller akan mengalami kerugian.

Sedangkan dropshipper tidak akan mengalami kerugian karena tidak akan menanggung risiko barang yang tidak laku. Hal ini nampaknya bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa kelebihan reseller terletak pada keuntungan dan dropshipper terhindar dari banyak kerugian karena bukan merupakan produsen maupun supplier utama.

Lanjutkan Membaca ↓