Etika dalam Menyampaikan Argumen yang Baik dan Benar

Kezia Prasetya Christvidya13 Agu 2020, 16:35 WIB
argumen-kezo

Fimela.com, Jakarta Argumen merupakan sebuah alasan, yang bisa digunakan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Setiap orang boleh saja berargumen, namun harus menggunakan cara yang baik dan benar.

Sering kali kita berpikir terlebih dahulu saat ingin mengeluarkan argumen, agar kata-kata yang dikeluarkan pada saat berargumen, tidak menimbulkan perselisihan atau menyinggung perasaan orang lain. Berargumen sering digunakan pada saat sedang rapat di kantor, sekolah, kampus atau di dalam suatu komunitas.

Dengan mengeluarkan argumen, sama saja kita mengeluarkan pendapat atau gagasan pikiran yang kita miliki. Namun tentu saja tidak semua gagasan yang kita keluarkan, dapat diterima oleh orang lain.

Maka dari itu, berikut etika dalam menyampaikan argumen yang baik dan benar, dilansir dari berbagai sumber: 

Memberikan Bukti Kuat

ilustrasi etika dalam argumen/pexels
ilustrasi etika dalam argumen/pexels

Etika yang pertam pada saat mengeluarkan argumen, Sahabat Fimela harus memiliki bukti yang benar, agar argumen kuat dan akan memenangkan perdebatan tersebut. Bukti yang kuat juga bisa membuat orang lain lebih bisa menerima pendapatmu.

Dengan adanya bukti nyata saat berargumen, hal ini bisa membuat lawan bicara lebih bisa yakin, dan tergiring untuk memahami argumenmu, serta ikut membicarakan topik yang kamu angkat.

Dalam menyertakan bukti konkrit, argumen bisa dipikirkan terlebih dahulu dengan perbandingan secara analogi, agar lawan bicara bisa memahami ide atau gagasan pikiranmu.

Menggunakan Intonasi Bicara yang Sopan

ilustrasi etika dalam berargumen/pexels
ilustrasi etika dalam berargumen/pexels

Etika yang kedua saat berargumen, usahakan menggunakan intonasi bicara yang sopan, agar lawan bicara tidak tersinggung dengan gaya bicaramu. Sebelum memulai argumentasi, kamu bisa menggunakan kalimat sapaan, atau menggunakan kalimat pembuka seperti,"menurut pendapat saya.", atau "berdasarkan cara pandang saya..."

Kemudian jangan menggunakan nada tinggi pada saat berbicara. Setelah selesai mengungkapkan argumentasi, jangan lupa untuk menyampaikan ucapan terimakasih.

Tidak Memotong Pembicaraan

ilustrasi etika berargumentasi/pexels
ilustrasi etika berargumentasi/pexels

Hal yang paling penting dilakukan pada saat berargumentasi, yaitu tidak memotong lawan bicara, pada saat lawan bicara sedang berargumen. Jika kamu ingin mengutarakan argumen, tunggu hingga lawan bicara selesai berbicara.

Memotong pembicaraan lawan bicara, bisa membuat perselisihan atau perdebatan, karena hal ini dianggap kurang sopan, dan jika lawan bicara belum selesai berbicara, maka argumen yang ia sampaikan belum terdengar secara komplit, dan menyebabkan salah informasi.

Tidak Memaksakan Pendapat

ilustrasi etika berargumentasi/pexels
ilustrasi etika berargumentasi/pexels

Etika yang terakhir pada saat berargumentasi adalah tidak memaksakan pendapat. Karena tidak semua orang setuju dengan pendapat, ide dan gagasan pikiran yang kita ucapkan. Setiap orang pasti punya pendapat masing-masing, yang harus dipertimbangkan bersama.

Memaksakan pendapat kepada orang lain merupakan hal yang kurang sopan, dan bisa membuat sebuah perselisihan. Hal ini juga bisa menjatuhkan citra dirimu di depan orang lain, dan kamu bisa dianggap orang yang memiliki sifat egois.

Maka dari itu, sampaikan argumenmu secara logis dan persuasiv, dengan alasan yang objektif, dan harus lapang dada jika argumenmu tidak diterima orang lain.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by