Setelah Punya Anak, Aku Mengalami Perubahan dalam Mengelola Uang

Endah Wijayanti16 Sep 2020, 09:45 WIB
perubahan prioritas dan uang

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Tyas Chairunisa

Anda butuh uang? Anda dapat hidup tanpa uang? Pentingkah uang dalam keseharian Anda? Begitulah kira-kira kalimat retorik terkait uang. 

Di dunia ini, siapa yang tidak memerlukan uang di sakunya, tasnya, serta di rumahnya. Uang menjadi prioritas yang tak tergantikan seumur hidup. Dengan uang, orang dapat "berkuasa". Dengan uang pula, orang dapat beretika: utamakan beramal seraya memenuhi kebutuhan atau royal karena mengikuti keinginan. 

Ah, tahukah kamu bahwa uang mampu membutakan segalanya? Bahkan, uang juga dapat mengubah prinsip "Aku harus mengutamakan memenuhi kebutuhan daripada keinginan" menjadi sebaliknya. Ya, ini yang pernah kurasakan dulu, jauh sebelum si buah hati lahir. Lalu bagaimana dengan sekarang? 

 

Tidak Lagi Terlalu Egois

belanja uang sendiri
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/sasilsolutions

Ah, tahukah kamu? Nyatanya, uang pun dapat mengubah karakter manusia. Mungkin, dulu tak sadar menjadi sosok egois, sekarang berubah menjadi sosok adik. Seperti apa? Ya, bukan membanggakan diri, itu diriku. 

Ketika ada uang berlebih sebagai bentuk rezeki yang diberikan Sang Illahi, ujian pun mendera. Apa itu? Godaan akan iklan beberapa produk yang menunjukkan diskon besar-besaran. Godaan "tersebut" persuasif sekali sehingga memicu keinginan untuk memiliki. Padahal, mungkin saja itu nafsu sesaat. Hebatnya kalimat persuasif di iklan itu mampu memengaruhi psikologis diri: "Akan kugunakan untuk apa uang ini? Untuk diriku atau anakku?" 

Tak perlu membutuhkan waktu lama. Melihat senyum dan cerianya anakku membuatku menentukan satu pilihan. Ya, akan kugunakan uang ini untuk memenuhi kebutuhan anakku saja, entah untuk saat ini, esok hari, bulan depan, pekan depan, entah di kemudian hari yang belum dapat ditentukan. 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓