Hidup Hemat Tidaklah Sama dengan Sikap Egois atau Pelit

Endah Wijayanti18 Sep 2020, 08:45 WIB
Diperbarui 18 Sep 2020, 08:45 WIB
bekerja dengan totalitas

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Nur Syamsiyah

Pandemi mengajarkan bebarapa hal, termasuk bersabar dalam hal yang sensitif, yaitu masalah keuangan. Tidak dipungkiri dalam keuangan umumnya setiap orang menghadapi masalah baik pemasukan maupun dalam pengeluaran. Pemasukan ada yang berangsur-angsur menurun dikarenakan tempat bekerja mengalami penurunan pendapatan ataupun yang bekerja independen peminat tidak berjalan seperti biasanya.

Untuk pekerja independen, seperti halnya yang saya rasakan dalam penjualan makanan saji omzet mulai berkurang di musim ini. Dikarenakan banyaknya waktu luang sebagian orang, sehingga mereka cenderung lebih memasak ataupun mencoba resep baru. Akan tetapi, semakin ke sini yang saya khawatirkan mulai meredup.

 

Menjaga Empati

Tabungan Pernikahan
Ilustrasi./copyright shutterstock By Tom Wang

Banyaknya orang yang berlapang dada menyatakan empatinya dengan berbagi makanan yang dikhususkan bagi penjual jasa yang secara kasat mata terlihat imbasnya pandemi. Saya ambil contoh para penjual jasa parkir merasa terhibur dengan adanya nasi bungkus yang diadakan dbeberapa orang. Tentu saja, gerakan itu tidak berimbas kepada mereka saja, saya merasa bersyukur mendapat imbas gerakan tersebut. Paling tidak, masih ada kegiatan untk menghidupkan warung yang selama ini menjadi penompang keluarga.

Jika gerakan seperti ini, mengasah empati dengan cara yang kreatif, melibatkan banyak jasa, tidak dipungkiri kita bersama mampu menghadapi masa krisis pandemi yang diharapkan dapat berangsur-angsur diangkat dari negara tercinta dan negara lainnya. Ternyata beberapa orang yang menghemat pembelian tidak menjadikan mereka bersikap pelit dengan menutup mata hati terhadap sesama. Bukankah Yang Maha Pemurah akan selalu menyayangi para hamba-Nya yang juga menyayangi sesama?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓