Selamat Jalan Alwi Shahab, Wartawan Senior Sekaligus Sejarawan 3 Zaman

Karla Farhana18 Sep 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 18 Sep 2020, 14:00 WIB
[Fimela] Alwi Shahab

Fimela.com, Jakarta Sosok Alwi Shahab, sejarawan Betawi dan juga wartawan senior memang membekas bagi para pecinta sejarah. Abah Alwi, begitu dia akrab disapa, berpulang pada Kamis (17/9/20) pukul 03.00 WIB. Dilansir dari Liputan6, Abah Alwi lahir di Jakarta, pada 31 Agustus 1936. Alwi dikenal sebagai sosok wartawan senior yang telah mendalami profesinya selama lebih dari 40 tahun. 

Memulai karier sejak Agustus 1963, Abah Alwi pertama kali bekerja di Kantor Berita Antara sebagai seorang reporter. Selama bekerja di sana, Abah Alwi sudah menggeluti berbagai jenis liputan. Mulai dari kepolisian parlemen, hingga bidang ekonomi. Kemudian, anak Betawi kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat ini ditugaskan sebagai wartawan istana, selama 1969-1978. 

Selain itu, Abah Alwi juga kerap melakukan peliputan ke luar negeri. Seperti pada tahun 1983, dia mengunjungi perbatasan Malaysia-Thailand untuk menggali informasi tentang operasi penumpasan gerakan komunis oleh tentara Malaysia. 

Alwi Shahab kemudian pensiun dari Antara pada tahun 1993. Dia lalu bergabung dengan HU Republika, sebagai wartawan senior. Dia lantas mulai banyak menulis berbagai artikel tentang sejarah kota Jakarta, baik dalam bentuk tulisan lepas, rubrik kebudayaan, maupun di rubrik Sketsa Jakarta dan Nostalgia. 

Tukang Cerita Terbaik tentang Jakarta

Lebih dari 6 tahun menulis soal Jakarta, Abah Alwi nampaknya tak pernah kehilangan ide. Berbagai permasalahan kota Jakarta, terutama kisah-kisah tempo dulunya selalu menghibur para pembaca sekaligus membuka wawasan. Dia bukan saja mendatangi nara sumber, tetapi juga menelaah berbagai koleksi dan bahan. Termasuk mendatangi tempat-tempat yang akan menjadi bahan penulisannya. 

Kepergian Abah Alwi tentu menyisakan duka mendalam, termasuk bagi Sejarawan JJ Rizal. Menurutnya, Abah Alwi merupakan pencerita terbaik tentang kota Jakarta. 

"Sedih deh kita kehilangan tukang cerita terbaik kota Jakarta. Terbaik karena ia dapat menyajikan kisah kampung-kampung di Jakarta dengan manusianya, sehingga mampu menuturkan sejarah kota dari suara orang kecil terutama kaum Betawinya yang meskipun adalah mukimin awal tetapi sedemikian rupa dalam periode yang panjang centang perenang jadi korban ketidakadilan pembangunan dari masa kolonial dulu sampai hari ini," katanya saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (17/9/2020).

Menurut Rizal, Abah Alwi begitu piawai menceritakan kembali sejarah lisan dalam tulisan. Sebagai jurnalis senior yang hidup lebih dari 3 zaman, Abah Alwi merupakan pelaku sekaligus saksi sejarah kota. 

"Sebab itu setiap ceritanya ditunggu-tunggu sebab bukan sekadar gimnastik bahasa belaka, pamer referensi akademik, tetapi proses pengalaman yang dikucurkan dengan keberpihakan kepada bagaimana kota Jakarta itu seharusnya bukan hanya jadi mimpi kaum arsitokrasi uang dan politik yang cenderung deskriminatif, tetapi menjadi kota kita bersama," ujar dia, seperti dikutip dari Liputan6. 

#ChangeMaker

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓