Mengelola Keuangan dengan Gaji UMR, Masih Bisa Menabung dan Berinvestasi

Endah Wijayanti19 Sep 2020, 07:15 WIB
Diperbarui 19 Sep 2020, 07:15 WIB
perempuan milenal

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Sian R.

Sejak ibu bertanya mengenai berapa jumlah tabungan yang saya miliki setelah bekerja, saya mulai belajar mengenai mengelola keuangan dengan lebih baik. Mengelola keuangan sebenarnya bukan suatu hal yang baru.

Sejak mulai bekerja di luar kota dan harus hidup mandiri, sedikit demi sedikit saya belajar mengenai pengelolaan keuangan. Ilmu pengelolaan keuangan tidak hanya harus dimiliki oleh financial planner namun juga semua orang. Dengan gaji senilai UMR, saya mulai belajar mengatur uang. Mengenal kebutuhan mana yang harus didahulukan dan mana yang nanti. Nanti di sini bukan berarti gagal karena dana terbatas namun menunggu waktu yang tepat untuk membeli. Seperti menunggu membeli barang saat diskon. Biasanya untuk membeli sesuatu yang diinginkan namun sifatnya tidak mendesak, saya akan berpikir baik-baik kapan waktu yang tepat untuk membeli. 

Hal pertama yang dilakukan sewaktu mengelola keuangan adalah menulis semua pendapatan dan pengeluaran secara jelas serta rinci. Termasuk membagi kebutuhan berdasarkan pos masing-masing. Seperti membayar biaya kos dimasukkan pada anggaran penting yang tidak bisa diganggu gugat. Setelahnya diikuti dengan kebutuhan penting lain seperti biaya makan, grocery, skin care, pulsa dan internet hingga anggaran main. Biasanya anggaran tersebut selalu mengalami perbaikan tiap bulannya karena mungkin kebutuhan pada satu bulan berbeda dengan bulan lainnya. Seperti pembelian skin care yang tidak selalu harus tiap bulan. 

Berkat penulisan keuangan tersebut, saya menjadi tahu ke mana perginya dana yang dimiliki selama ini. Pembuatan rencana anggaran biasanya dilakukan pada pertengahan bulan sebelum menerima gaji. Cara tersebut cukup membantu mencegah kehabisan dana saat akhir bulan. Selain membuat rencana anggaran setiap bulannya, saya juga membuat rencana belanja bulanan yang terbagi menjadi beberapa bagian. Seperti penting dan mendesak sehingga barang harus segera dibeli, atau sekadar penting namun belum mendesak sehingga masih bisa menunggu waktu lain untuk membelinya. Dan bisa juga tidak penting dan tidak mendesak sehingga masuk skala prioritas paling bawah. 

Pembuatan rencana anggaran setiap bulan yang disesuaikan dengan penghasilan dan kebutuhan sangat membantu mengontrol keuangan. Berhasil dengan rencana keuangan tersebut, saya pun tertarik untuk mulai menabung. Sebenarnya menabung seharusnya menjadi hal pertama yang dilakukan saat memperoleh penghasilan, namun lebih baik sedikit terlambat daripada tidak sama sekali. Sejak saat itu, saya mulai belajar mengenai cara menabung terbaik. Dari mulai membuat dua rekening hingga memiliki tahapan berjangka. 

Tabungan dan Investasi

THR
Ilustrasi./copyright: shutterstock

Memiliki tabungan tahapan berjangka sebenarnya sangat membantu, terutama bagi perempuan yang menyukai belanja seperti saya. Sebab dengan memiliki tahapan berjangka, dana secara otomatis masuk ke tabungan sehingga menabung menjadi prioritas paling utama setiap menerima gaji. Tabungan tersebut juga tidak bisa ditarik dalam jangka waktu tertentu, sesuai keinginan sendiri. Seperti membayar cicilan bulanan, namun uangnya bisa dimiliki nanti. Dengan cara menabung demikian, saya jadi memiliki dana darurat pada masa pandemi seperti sekarang, di mana kondisi keuangan sedang tidak menentu. Saya tidak perlu melakukan pinjaman atau meminta bantuan finansial dari orang tua. 

Meski begitu, dana darurat tersebut tidak serta merta saya gunakan selama masih bisa mencari penghasilan tambahan. Ketika penghasilan utama dan tambahan masih belum memenuhi kebutuhan, saya menggunakan uang tabungan sebelum dana darurat. Jadi dapat dikatakan, dana darurat adalah pilihan terakhir untuk memenuhi kebutuhan bulanan. 

Selain tertarik pada perencanaan keuangan untuk menabung serta dana darurat, empat bulan belakangan saya juga mulai tertarik belajar mengenai investasi. Meski keadaan keuangan sedang tidak menentu seperti sekarang, saya mencoba untuk tetap berinvestasi. Saya memilih reksadana pasar uang dan pendapatan tetap sebagai tempat berinvestasi karena gaji bulanan saya yang bahkan tidak mencapai tiga juta rupiah dan masih harus dipotong selama pandemi. 

Sebelum berinvestasi saya membaca banyak artikel terlebih dahulu dan mencari jenis investasi paling cocok. Meski pasar uang dan pendapatan tetap terbilang investasi paling aman, namun saya tetap harus cermat dalam memilih. Membaca fund factsheet tiap jenis reksadana hingga prospectus adalah hal wajib saat memutuskan untuk berinvestasi. 

Meski sulit saya tetap mencoba untuk konsisten berinvestasi. Sejujurnya dengan membiasakan diri melakukan pengelolaan keuangan sangat membantu saya untuk bisa bertahan di tengah kondisi keuangan yang sedang tidak menentu. Terlebih saya bukan berasal dari keluarga yang serba kecukupan. Hanya saja beberapa anggaran harus diubah untuk kebutuhan lainnya seperti tabungan yang sebelumnya direncanakan untuk berlibur digunakan memenuhi kebutuhan bulanan.  

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓