Personal Trainer Ini dalam Kondisi Fit Saat Terkena Covid-19 Tak Lama Ia Kehilangan Kaki

Novi Nadya22 Sep 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 22 Sep 2020, 10:48 WIB
Ilustrasi kehilangan kaki

ringkasan

  • Tak pernah sakit seumur hidupnya, personal trainer ini didiagnosis terkena Covid-19
  • Ia pun harus kehilangan kaki kanan dan semua jari kaki kirinya karena pembekuan darah
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Covid-19 merupakan penyakit pertama yang diderita personal trainer Gibby Cohen (77) sepanjang hidupnya. Ia bersama sang istri Patti telah menjadi personal trainer selama empat puluh tahun, sebelum profesi ini menjadi besar.

Pasutri ini membuka studio training pertamanya Polygym di New York City pada awal 1980-an dan membantu para atlet, penari, dan profesional lainnya untuk mencapai tujuan kebugaran mereka. Hingga kini, keduanya masih aktif mengajar di Divisi Tari Sekolah Julluard, sekolah seni pertunjukan bergengsi di Manhattan.

 

Siapa sangka Cohen yang selalu rutin berolahraga, menerapkan gaya hidup sehat serta  menjadi vegan yang taat didiagnosis Covid-19. Kala itu, ia baru saja menyelesaikan program latihan berat dan sudah memprediksi akan mengalami kelelahan serta nyeri badan setelahnya, namun ia salah.

Melansir dari rd.com, setelah 55 hari dirawat di rumah sakit NYU Langone, Cohen akhirnya bisa bersatu kembali dengan sang istri. Namun ia harus kehilangan kaki sebelah kanan serta semua jari kaki pada kaki kirinya karena Covid-19.

"Saya tidak pernah sakit sepanjang hidup dan ini mengubah semuanya. Sekarang saya di kursi roda dan tidak bisa melakukan apa-apa," ujar Cohen yang berjanji tidak akan menyerah dan akan beradaptasi dengan kaki serta jari kaki palsu.

 

Covid-19 Membuatnya Mengalami Pembekuan Darah

Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19 swab test (Foto: Shutterstock By JHDT Productions)

Cohen pun berbagi pengalaman saat ia merasa kondisi tubuhnya semakin drop setelah olahraga berat. Kala itu ia yakin akan kelelahan selama akhir pekan dan pada Seninnya akan merasa tubuhnya kembali fit, namun justru semakin memburuk.

Yang diingat, ia mengalami demam terus-menerus. tidak nafsu makan, dan merasa sangat lemah. Hal ini terjadi pada bulan April 2020 saat New York City dianggap mengalami puncak pandemi.

Setelah masuk unit gawat darurat, ia merasa ingatannya sedikit kabur, "Saya mulai mengigau," kenangnya mencoba kembali ke situasi tersebut. "Mereka memberinya oksigen sebanyak yang bisa dilakukan," timpal Patti.

Rupanya kondisi yang dialami Cohen serius, Covid-19 merusak tubuhnya dan menyebabkan penggumpalan darah yang menghalangi aliran darah kaya oksigen ke kaki bagian bawah. Kondisi ini dikenal sebagai trombosis arteri.

Ia juga mengalami gangren atau jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kurangnya aliran darah. Ganren membuat kulit pada bagian yang kurang suplai oksigen menjadi hitam kehijauan.

Dokter bedah Cohen melakukan segala upaya untuk menyelamatkan kaki kanannya dalam prosedur yang berlangsung selama enam jam namun belum berhasil. "Namun ia memberi tahu kami, jika saja Cohen tidak dalam kondisi yang baik sebelum jatuh sakit, hasilnya akan lebih buruk lagi," ujar sang istri.

Kehilangan Anggota Tubuh pada Pasien Covid-19

Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19 (Foto: Shutterstock By angellodeco)

Ahli bedah vaskular dan direktur program di program residensi bedah vaskular di Lenox Hill Hospital di New York Dr. Allan M, Conway, MD, (dia tidak terlibat dalam perawatan Cohen) menjelaskan skenario amputasi menghantui pasien dalam kasus-kasus Covid-19 yang parah di awal pandemi. Saat ada kekurangan aliran darah ke anggota tubuh karena Covid-19, pasien lebih mungkin mengalami kehilangan anggota tubuh dan banyak pembekuan darah ketimbang dengan pasien yang dalam kondisi sama namun tidak memiliki Covid-19.

Hal itu diterbitkan dalam sebuah penelitian pada bulan Juli. Yang artinya trombosis arteri lebih mungkin mengancam jiwa pasien Covid-19 saat mengalami pembekuan darah di kaki disertai dengan masalah paru-paru dan gejala lainnya.

"Pasien yang menderita penyakit parah dan mengembangkan gumpalan yang menghalangi sirkulasi ke kaki dan lengan dengan Covid-19 mempertaruhkan kelangsungan hidup anggota tubuhnya karena kekurangan oksigen. Dalam banyak kasus, pasien ini merasakan sakit dan kekurangan oksigen sangat parah sehingga tidak ada cara untuk menyelamatkan anggota tubuh," beber Dr. Conway. 

Namun sekarang para profesional medis memiliki lebih banyak pengalaman dalam menangangi pasien Covid-19 dengan banyak perilaku. Mereka dapat melakukan intervensi lebih awal dan lebih agresif dengan pengencer darah untuk mencegah pembentukan gumpalan di tempat pertama untuk menghindari amputasi. 

"Kami sekarang menggunakan pengencer darah dengan dosis yang lebih tinggi. Dan seluruh tim medis dari dokter hingga perawat sangat memantau pasien yang mengalami pembekuan darah," ujarnya.

 

 

Pengalaman Cohen yang Sangat Dekat dengan Kematian

Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19 (Foto: Shutterstock By danielmarin)

Cohen pernah mengalami masa kritis yang begitu mengerikan. Sehingga staf rumah sakit menelepon istrinya untuk mengatakan akhir hidup Cohen sudah dekat dan ini saatnya mengucapkan selama tinggal.

Seperti yang kita tahu, pasien dengan Covid-19 riskan untuk dikunjungi. Apalagi Patti juga sempat tertular Covid-19 dengan kasus yang lebih ringan, namun ia memiliki tiga putri dan enam cucu dan tidak ingin mengambil risiko dengan datang langsung menjenguk suaminya.

Komunikasi hanya terjadi lewat video call sepanjang waktu selama Cohen berada di rumah sakit. Berkat program yang disebut FamilyConnect di NYU Langone, keluarga terus mendapat informasi terbaru dari seorang mahasiswa kedokteran yang menghubungkan pasien dan keluarganya setiap hari.

Gejala Covid-19 Baru Setelah Pemulihan

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Setelah 51 tahun menikah, 55 hari adalah waktu terlama pasangan tersebut berpisah. "Itu benar-benar traumatis. Saya bahkan tidak akan mengatakan Cohen kurus, meski ia terlihat kurus saat itu," kenang Patti.

Meski sudah bisa kembali ke rumah, Cohen masih dibayangi vonis amputasi kaki kiri dari sang dokter. Namun keluarga memutuskan untuk melihat perkembangannya sambil mengambil opsi alternatif untuk memijat kaki Cohen dengan teknik pengobatan tradisional Tiongkok yang dikenal sebagai moksibusi yaitu menggunakan panas untuk meningkatkan sirkulasi.

"Saat kami kembali ke rumah sakit, dokter berkata, apapun yang sudah kami lakukan pada Cohen hasilnya baik dan hingga kini belum ada lagi wacana amputasi kaki kiri," ujar Patti.

Cohen merasakan kondisi tubuhnya jauh lebih kuat dan baik lagi. Meski ia masih merasakan beberapa gejala Covid-19 yang bertahan dan baru.

"Saya tidak dapat mengingat kata-kata sederhana dan mudah lelah. saya juga belum bisa berkonsentrasi membaca satu artikel penuh sejak keluar dari rumah sakit," ujar Cohen yang punya hobi membaca.

Ia juga menambahkan penglihatannya kabur, rambut yang sedikit rontok, dan seluruh tubuhnya gatal. "Pendengaran saya juga semakin buruk. Namun saya masih terus berjuang dan akan beradaptasi dengan prostetik untuk berjalan lagi," pungkas Cohen.

Simak Video Berikut

#ChangeMaker 

Lanjutkan Membaca ↓