Uang, Keinginan, dan Komitmen Diri

Endah Wijayanti24 Sep 2020, 14:05 WIB
Diperbarui 24 Sep 2020, 14:05 WIB
membelanjakan uang

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Desy Putri

Berbicara tentang keinginan, pasti tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Karena memang sifat alamiah manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Sayangnya, keinginan hanya akan terwujud bila kita mempunyai uang untuk memenuhinya. Iya, uang memang tidak bisa dipungkiri masih menjadi faktor dominan dalam hidup ini.

Aku termasuk wanita yang mempunyai ambisi dan ekspektasi besar mengenai uang. Setiap bulan aku sudah merencanakan matang-matang gaji yang akan kudapat untuk berbagai keperluan dan keinginanku. Mulai dari kebutuhan pokok, sekunder bahkan tersier yang sebetulnya tidak penting untukku saat ini. Keranjang dalam online shop pasti sudah terisi penuh dan siap di check out setiap kali gajian. Daftar keinginanku sudah mulai kubuat di awal bulan dan siap dilaksanakan saat gajian keluar. Padahal aku tahu betul, gajiku tidak cukup untuk memenuhi semua keinginanku. Akan tetapi tetap aku terabas bagaimanapun caranya. Asalkan masih dengan cara halal dan aku prediksi bisa mengatasinya. Hingga akhirnya belum ada seminggu gajiku sudah habis.

Menyesuaikan Keinginan

belanja online 10.10
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Chakkrit

Sering aku berpikir apakah separah itu aku dalam mengatur keuanganku? Atau memang keinginanku yang tak sejalan dengan uangku? Haruskah aku menjadi orang yang apa adanya? Menerima, "Ini loh uang yang kamu punya. Uangmu cuma segini, kamu nggak perlu mengkhayal ini itu, ingin ini itu. Kamu harus sadar. Kamu harus bangun dari keterpurukan ini!" Akan tetapi di sisi lain aku berpikir bukannya manusia itu boleh bermimpi setinggi langit? Manusia boleh berkeinginan meningkatkan taraf kemewahannya supaya hidupnya tidak begini begini saja. Supaya memotivasi diri untuk menjadi lebih dalam segala hal. Ah... kalau sudah seperti ini aku jadi stres sendiri memikirkan keinginan-keinginan yang membanjiri pemikiranku dan menjadi beban mentalku.

Kini aku harus mulai mendisplinkan lagi pola pikir antara uang dan keinginanku. Toh bila keinginanku yang satu sudah terwujud aku hanya merasa puas saat itu saja. Setelahnya, muncul keinginan baru yang tak akan ada habisnya. Sekarang harus selalu bersyukur dengan apa yang aku punya. Dengan begitu semoga ketenangan jiwa bisa aku dapatkan.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓