Tetap Berbagi di Saat Susah, Yakin Selalu Ada Keajaiban yang Menyapa

Endah Wijayanti25 Sep 2020, 12:45 WIB
Diperbarui 25 Sep 2020, 12:45 WIB
keuangan keluarga

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Suryani Putri Listiyanto

Saya adalah seorang karyawan swasta yang masih berstatus kontrak yang merangkap sebagai ibu rumah tangga. Sudah sekitar 4 tahun lebih saya bekerja. Sedangkan suami saya bekerja di sebuah bengkel sebagai helper mekanik.

Pada awal menikah, kehidupan perekonomian kami terbilang cukup baik. Akan tetapi semuanya berubah ketika virus corona datang sebagai pandemi yang masih tidak tahu kapan akan berakhirnya.H al itu juga yang mempengaruhi pekerjaan suami saya.

Suami saya yang awalnya bekerja full time menjadi pekerja part time. Sistem kerjanya diubah menjadi 1 minggu masuk kerja, 1 minggunya libur kerja, begitu seterusnya. Ini jelas berbeda ketika sistem kerjanya diubah menjadi WFH yang walaupun tidak masuk kerja tetap dibayar. Alhasil, penghasilan suami saya pun berkurang separuh dari biasanya.

Awal mulanya saya sedih mendengar kabar itu. Akan tetapi saya harus ikhlas menghadapinya. Karena suami juga sedih dan sempat merasa bersalah kepada saya, tapi saya tetap memotivasinya agar tidak berkecil hati.

Suami mulai mencari-cari lowongan di tempat kerja lain yang sebenarnya hal itu juga sulit karena keadaan masih ada pandemi covid-19. Saya pun mulai membantu suami untuk biaya-biaya pengeluaran kami. Semuanya diatur sebaik mungkin agar kebutuhan kami masih bisa tetap dipenuhi, walaupun pemasukan sudah berkurang. Tanpa sadar saya menjadi lebih pelit dalam segala hal, untuk mengeluarkan uang rasanya berat hati ini karena saya tahu semuanya serba pas-pasan.

Saya juga menjadi lebih egois dan menutup mata ke sesama. Padahal banyak orang lain di luar sana yang mungkin keadaannya lebih buruk dari kami. Ketika saya menemui pengemis atau pedagang yang dagangannya kelihatan tidak laku, saya jarang mau untuk berbagi dengan mereka.

Pernah suatu ketika, uang di tangan hanya tinggal Rp20 ribu. Sedangkan saya tetap harus berbelanja untuk memasak besok. Akhirnya saya hanya membeli telur ayam 1/2 kg seharga Rp13 ribu dan niatnya sisa uang yang tujuh ribu rupiah itu untuk ongkos saya berangkat kerja keesokan hari. Sedangkan suami sudah tidak punya uang sepeserpun karena pada minggu itu suami saya sedang tidak bekerja sehingga tidak ada pemasukan dari dia.

Akan tetapi oleh suami uang itu dibelikan sebungkus roti dan sebotol air mineral untuk pedagang yang sedang berjualan di depan minimarket. Pedagang itu sudah tua, dan hanya duduk di teras minimarket sedangkan tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang di sana berniat membeli dagangannya.

Yakin Rezeki Selalu Ada

Tabungan Pernikahan
Ilustrasi./copyright shutterstock By Tom Wang

Awalnya saya merasa sedikit tidak ikhlas, tapi akhirnya saya tetap menuruti apa kata suami dan memberikan roti dan air mineral ke pedagang tersebut. Suami saya bilang, "Walau kita sedang kesusahan, setidaknya kita harus tetap berbagi dengan orang lain. Karena apa yang kita bagikan ke orang lain pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kalau kita tidak bisa menyumbang dalam bentuk uang, kita bisa menyumbang dalam bentuk jasa, tenaga, ataupun waktu."

Setelah mendengar perkataan suami saya, saya sadar bahwa tidak seharusnya saya bersikap seperti ini walaupun keadaannya sedang susah. Saya harus percaya bahwa ada saja rezeki yang diberikan oleh Tuhan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup dari arah yang kita tidak sangka-sangka.

Keesokan harinya saya mendengar kabar bahwa di tempat saya bekerja akan ada pengangkatan karyawan tetap. Tentunya kabar ini adalah kabar membahagiakan bagi saya yang memang masih berstatuskan sebagai karyawan kontrak. Apalagi di masa pandemi ini, untuk mencari pekerjaan saja susah sekali rasanya. Waktu saya pulang ke rumah, saya bercerita kepada suami saya tentang hal itu.

Suami saya pun ikut senang dan memberi selamat kepada saya. Saya juga tidak lupa untuk tetap menyemangati suami agar tidak berkecil hati. Sekarang saya dan suami masih tetap bekerja dengan baik, mencoba bertahan hidup di tengah pandemi ini. Sambil tidak lupa untuk memperhatikan sesama dan berbuat baik kepada orang lain. Saya percaya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, maka akan ada kebaikan yang kita terima. Ingat, uang bukan segalanya. Memang kita hidup memerlukan uang, tetapi kita juga memerlukan orang lain untuk hidup. Karena kita adalah makhluk sosial.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓