Berat Badan Turun Drastis Pasca-Melahirkan, Ibu Muda Berjuang Lawan Kecemasan dan Fatfobia

Annissa Wulan25 Sep 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi diet

Fimela.com, Jakarta Chelsie DeSouza sering mendengar komentar tentang tubuhnya. Berat badan menjadi satu isu tersendiri bagi Chelsie.

Tanpa pernah diminta, komentar tentang betapa kurus tubuhnya selalu datang sepanjang waktu. Entah itu dari teman, keluarga, kenalan, bahkan orang asing sekalipun pernah mengomentari berat badan Chelsie.

Ketika menuliskan ceritanya di Huffpost Personal, Chelsie sempat ragu, karena sebelumnya ia pernah mendapatkan begitu banyak komentar buruk. Orang-orang mengira bahwa seorang perempuan bertubuh kurus tidak perlu mengeluh, di saat semua orang menginginkan berat badan yang sama seperti dirinya.

Sentimen seperti inilah yang sebenarnya menyebarkan ideologi fatfobia, bahwa kurus selalu baik dan gemuk selalu buruk. Berat badan Chelsie terkait dengan perjuangannya melawan kecemasan.

 

Sebelum melahirkan, Chelsie tidak memiliki masalah dengan tubuhnya

Ilustrasi diet
Ilustrasi diet. Sumber foto: unsplash.com/Jennifer Burk.

Sebelum menjadi seorang ibu, Chelsie memiliki hubungan yang sehat dengan makanan. Ia tidak pernah menghitung kalori makanannya, menimbang dirinya sendiri, atau bahkan melakukan diet seperti perempuan lainnya.

Chelsie memiliki tubuh yang atletis sejak ia berada di sekolah menengah dan metabolisme yang cepat, sehingga ia tidak pernah merasakan berjuang untuk menyukai tubuhnya. Saat Chelsie melahirkan anaknya, ia harus berjuang mengatasi kecemasan, bersamaan dengan berat badan yang turun drastis.

Awalnya, Chelsie mengira bahwa kekhawatirannya adalah respons normal karena baru pertama kali memiliki bayi dan harus merawatnya. Butuh waktu bertahun-tahun setelahnya bagi Chelsie untuk menyadari bahwa dirinya mengidap kecemasan pasca-persalinan, kesadaran yang tidak sehat dan melelahkan.

Kecemasan pasca persalinan membuat Chelsie tidak memiliki energi untuk merawat dirinya sendiri. Nafsu makannya hilang dan untuk waktu yang lama, ia merasa kewalahan dan membuat kesehatan fisik, serta emosionalnya menurun.

Kecemasan Chelsie bertambah parah saat memasuki masa pandemi

[Fimela] Diet
Ilustrasi Diet | unsplash.com

Selain itu, menyusui selama 2 tahun juga menyulitkan Chelsie untuk memenuhi kebutuhan kalorinya. Tidak ada orang yang tahu bagaimana Chelsie berjuang untuk makan.

Saat semua orang memujinya karena bisa memiliki berat badan seperti itu bahkan setelah melahirkan, Chelsie justru benci jika tubuhnya menjadi topik diskusi. Saat ini, anaknya telah berusia 3 tahun dan tiba-tiba seluruh dunia terserang pandemi COVID-19 yang meningkatkan kecemasan Chelsie.

Chelsie telah mencoba berbagai hal, ia mengonsumsi protein shake, nutrisi batangan, dan camilan, sementara orang-orang bercanda tentang bagaimana mereka mendapat kenaikan berat badan dengan cepat selama masa karantina. Komentar tentang berat badan seseorang adalah racun yang bisa berakhir pada fatfobia.

Siklus ini perlu dihilangkan dan biarkan orang-orang menjalani hidup mereka, tanpa perlu mengomentari tubuh orang lain. Chelsie tidak pernah meminta pendapat siapapun tentang berat badannya, tujuannya bukan untuk dikonsumsi dan dinilai oleh orang lain.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓