Impian Kandas, Seorang Remaja 15 Tahun Alami Menopause di Usia Sangat Muda

Nabila Mecadinisa28 Sep 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 28 Sep 2020, 12:00 WIB
Sheree Hargreaves

ringkasan

  • Seorang remaja mengalami kondisi unik, yaitu menopause di usia dini.
  • Di usia dini, seorang remaja harus alami menopause.
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Menopause adalah hal yang pasti dialami setiap perempuan. Namun biasanya, tidak terjadi di usia muda. Menopause akan dialami para perempuan di usia 40 tahun ke atas. Saat kita mengalami menopause, bisanya seseorang tidak lagi mengalami menstruasi dan sudah tidak produktif.

Kejadian unik dialami oleh Sheree Hargreaves, seorang perempuan berusia 19 tahun yang harus mengalami menopause di usianya yang masih belia. Kondisi langka ini tentu sangat mengejutkan. Saat mengetahui dirinya mengalami menopause dini, saat it usianya masih 15 tahun. Rasa sedih dan terpukul tentu ia rasakan.

Ia tak lagi produktif, di mana sudah tidak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri. Ia mengidap Primary Ovarian Insufficiency (POI) yakni kondisi indung telur yang berhenti berfungsi dengan normal sebelum usia 40 tahun.

 

Kondisi langka

Sheree Hargreaves
Sheree Hargreaves, seorang remaja yang alami menopause dini. (Foto: Instagram/ Sheree Hargreves).

Seperti yang dilansir dari DailyMail, awalnya Sheree takut untuk memberi tahu keluarganya, namun lama kelamaan ia memberanikan diri untuk mengungkap kejadian yang menimpanya. Bahkan ia mengaku selalu pura-pura haid, agar teman-temannya tidak mengetahui apa yang ia alami.

Diketahui, setiap malam tubuh Sheree mengeluarkan keringat dan demam. Lalu, Sheree pun juga sering merasa kelelahan layaknya nenek-nenek. Awalnya, dokter menduga dia terkena tumor otak. Hasil CT Scan dan tes darah tak menunjukkan hal yang salah pada otaknya.

Namun, level estrogennya sangat rendah dan membuat Sheree terkena menopause dini. Mengejutkanya lagi, folikel indung telur Sheree juga berkurang, artinya dia sudah mulai menopause saat usianya menginjak enam tahun.

"Aku selalu ingin punya anak jadi ketika melihat ultrasound dan tahu enggak akan ada anak yang berkembang di rahim benar-benar membuatku patah hati. Alasan paling membuatku sedih karena tak diketahui penyebab POI yang aku alami. Menurut dokter bukan karena genetik tapi mereka juga enggak yakin," ungkapnya.

Kini ia harus mnerima kondisinya dengan lapang dada, dan berusahauntuk tetap positif agar kondisi tubuhnya lebih prima dan tidak mudah lelah. Di masa pandemi seperti saat ini, ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarga lebih dekat.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓