Catatan Penting di Balik Meningkatnya Hasrat Belanja selama Pandemi

Endah Wijayanti29 Sep 2020, 09:29 WIB
Diperbarui 29 Sep 2020, 09:29 WIB
belanja saat pandemi

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh:  Penny Handayani

Mega oh Mega. Mega merasa bosan di rumah. PSBB yang terjadi membuatnya terkurung di rumah dan tidak bisa berpergian ke mal seperti yang biasa ia lakukan guna membunuh waktu. Ketika window shopping tidak bisa dilakukan secara fisik, maka Mega melakukan hobinya cuci mata dengan membuka aplikasi ecommerce. Tanpa disadari wishlist-nya sudah dipenuhi dengan beragam barang. Dari sandal cantik, kacamata hitam, baju renang dan maxi dress sudah dipilihnya.

Sebenarnya Mega sadar bahwa barang yang dipilihnya adalah barang yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat karena PSBB yang diberlakukan. Perasaan bahagia dan deg-degan berjalan di seluruh tubuhnya. Tak urung, Mega melakukan pembayaran secara daring dan dua hari kemudian barang pesanan tiba di rumah.

Dengan sangat antusias, dia membukanya dan bahkan mengadakan sesi unboxing di IG live linimasanya. Setelah dibongkar dan dicobanya, ternyata Mega merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya, ia akan langsung menelepon temannya untuk pergi ke pusat rekreasi guna mencoba barang belanjaan barunya, maka kali ia dia hanya bisa menatap barang belanjaannya dan berharap PSBB cepat berlalu dan kolam renang kesukaannya dapat dibuka kembali. Akhirnya semua barang yang sudah dibelinya, Mega masukan kembali ke kotak dan disimpan di dalam lemari, bersama beberapa barang lain yang Mega sudah beli tapi belum bisa dipakainya.

Apakah anda Mega itu?

Apakah belanja selalu menjadi sumber kebahagian Anda?

Apakah kadang kebahagian anda diukur dengan barang belanjaan yang Anda beli?

Pada saat pandemi, apakah pola belanjamu berubah?

Apakah bahagiamu juga berubah selama pandemi?

3B: Belanja, Bahagia dan Bio-Psikologi

Mega sering kali pergi ke pusat perbelanjaan hanya untuk membunuh waktu dan kebosanan yang ia miliki. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia berbelanja guna mencari respons kimiawi. Ketika Mega pergi ke pusat perbelanjaan dan melakukan kegiatan belanja, otaknya secara otomotis menghasilkan dopamine yang diasosiasikan dengan rasa senang, bahagia, atau bersemangat. Karena sifatnya yang menyenangkan, maka dopamine ini juga berperan dalam perilaku adiktif (Pope, 2005).

Windows shopping, mengejar diskon (midnight sale atau flash sale) atau bahkan belanja hal yang sudah direncanakan seperti belanja bulanan dapat memicu aktivitas dopamine. Aktivitas dopamine yang meningkat dalam suasana belanja dapat membuat Anda mengambil keputusan yang salah. Ketika seseorang berjalan-jalan melihat sepatu yang tidak pernah dipakainya kemudian akhirnya ia beli, namun mungkin saja sesudah membeli muncul pertimbangan-pertimbangan penyesalan karena keputusan yang salah (dalam Pope, 2005). Keputusan untuk membeli secara tetiba, dapat disebut dengan pembelian impulsif.

Belanja di Masa Pandemi

Biar Pekerjaan Rumah Makin Ringan, Angkut Barangnya Jangan Sendirian!
Jangan sampai angkut barang sendirian ya!

Situasi pandemi yang terjadi mengubah banyak hal dalam hidup, termasuk cara kita berbahagia dan berbelanja. Ingatkan pada masa awal pandemi, di mana semua orang merasa terancam kesehatannya dan melakukan panic-buying akan masker, vitamin, APD dan hand-sanitizer? Situasi pandemi menimbulkan rasa cemas yang mempengaruhi individu dalam berbelanja.

Secara psikologis, manusia akan selalu mencari kenyamanan, terutama pada saat dunia di sekitarnya tidak bisa memberikan kenyamanan. Percaya atau tidak, kadang kegiatan belanja yang Anda lakukan banyak dipengaruhi oleh faktor untuk mengurangi ketidaknyamanan. Kita harus menyadari bahwa kegiatan belanja juga dilakukan di bawah pengaruh berbagai motif, emosi (temasuk takut, cemas, bahagia), dan bagaimana situasi sosial yang terjadi, yang salah satunya adalah situasi pandemi (Solomon, 2016).

Perilaku berbelanja yang berubah di masa pandemi ini terlihat melalui peningkatan pesat yang mengakses e-commerce sebagai tempat berbelanja. Tidak dipungkiri bahwa semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula inovasi yang muncul dari teknologi untuk memuaskan keinginan individu. Teknologi saat ini menawarkan kemudahan ketika beraktivitas dalam kesehariannya (Jejualan.com, 2013).

Berbelanja secara online memang sudah dinikmati oleh sebagian besar masyarakat sejak sebelum pandemi, namun dikarenakan situasi ini telah membuat Indonesia perlu membatasi jarak antar satu sama lain, maka banyak tempat berbelanja offline ditutup sementara waktu. Situasi ini juga membuat masyarakat resah untuk dapat beraktivitas di luar rumah karena virus yang tidak dapat terdeteksi dengan mudah (Anggraeni, 2020), tidak terkecuali Mega.

Produk-produk yang diminati masyarakat di situasi ini seperti produk kesehatan (obat-obatan), alat kesehatan (masker dan hand sanitizer), produk kebutuhan sehari-hari, produk yang menunjang pekerjaan (pulpen, pensil, dan alat tulis lainnya), game console atau mainan lainnya, dan produk-produk lain yang digunakan untuk berjaga-jaga selama karantina (Sharma & Jhamb, 2020 ; Lestari & Syarweni, 2020). Inilah mengapa produk yang dipilih Mega menjadi produk yang tidak mudah dia gunakan pada masa PSBB ini, dan akhirnya kembali tersimpan dalam box, untuk dapat digunakan nanti ketika PSBB sudah berakhir.

Belanja dengan E-commerce

belanja online 10.10
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Chakkrit

Pada sisi lain, dengan situasi pandemi dan kemudahan yang diberikan oleh e-commerce, ternyata hal ini dapat meningkatkan perilaku impulsif dalam berbelanja. Pembelian impulsif merupakan pembelian yang tidak rasional dan pembelian yang tidak direncanakan yang diikuti dengan adanya konflik pikiran dan dorongan emosional (Khairunas, 2020). Dorongan emosional yang dimaksud adalah adanya perasaan mendalam ketika melakukan pembelian dengan mengabaikan konsekuensi negatif setelah membayar, perasaan puas-bahagia, dan adanya konflik di dalam pikiran individu (Suharyono, dalam Khairunas, 2020).

Mega juga mungkin merasakan hal ini, tanpa ia sadari. Pada awal sebelum membeli, Mega sebenarnya sudah menyadari secara sekilas bahwa sandal cantik, kacamata hitam, baju renang dan maxi dress yang sudah dipilihnya membutuhkan kolam renang untuk dapat digunakan. Perasaan Bahagia dan puas yang Mega rasakan juga hanya bertahan sementara saat Mega sudah berhasil check out dan membayar barang-barang tersebut. Sambil menunggu barangnya datang, Mega memiliki harapan tinggi.

Padahal selama PSBB, seluruh tempat rekreasi yang mengumpulkan orang banyak akan ditutup sementara. Namun adanya sensasi bahagia akan bermain air di luar rumah dan bertemu dengan teman-temannya adalah “ilusi” yang tidak mungkin ia dapatkan dalam waktu dekat, meskipun barang pesanannya sudah ia beli, dikirim dan terima di rumah. Sesampainya barang di rumah Mega, perasaan puas dan bahagia yang Mega rasakan sirna karena barang tersebut tidak akan digunakan, hanya disimpan, dan dijadikan pajangan saja.

Pembelian impulsif yang dialami Mega ini juga dapat menimbulkan beberapa risiko terhadap Mega, Anda, maupun orang di sekitarnya. Jika Anda sudah terbiasa membeli suatu produk di luar kebutuhan, maka Anda akan cenderung untuk terus membeli produk-produk yang tidak dibutuhkan, demi kebahagiaan sementara. Anda juga akan merasakan penyesalan ketika produk yang dibeli sudah sampai di rumah karena merasa produk tersebut biasa saja dan tidak ada gunanya. 

Be a Smart Shopper with E-commerce

Ilustrasi belanja online
Ilustrasi belanja online. Sumber foto: unsplash.com/Mein Deal.

Sebagai penjual, ketika melakukan pemasaran produk tentunya akan mempertimbangkan kebutuhan (need), keinginan (want), dan permintaan (demand) dari konsumen sehinnga nantinya konsumen dapat merasakan kepuasaan dan kebahagiaan dari produk yang dibelinya karena sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya. Kebutuhan (need) merupakan keperluan mendasar manusia di dalam hidup, keinginan (want) merupakan kebutuhan manusia yang dipengaruhi oleh budaya dan kepribadian individu, sedangkan permintaan (demand) merupakan keinginan manusia yang didukung dengan kemampuan membeli suatu produk (Kotler & Armstrong, dalam Kristanto, 2016).

Jadi sebelum Anda berjalan lebih jauh, berikut adalah hal yang sebaiknya Mega pikirkan sebelum menekan tombol beli lain kali ia melakukan window shopping pada aplikasi e-commerce tersebut.

Lakukan refleksi diri, apakah kegiatan belanja yang akan Anda lakukan dengan skala wants, needs, dan important.

Buy 

Jika barang yang anda lihat termasuk katagori barang yang penting (important) dan dibutuhkan (needs) untuk kehidupan yang sedang dijalani sehingga layak untuk dibeli. Barang yang masuk di katagori ini adalah barang keperluan sehari-hari yang diperlukan, misalnya telor, sabun mandi dll.

Wishlist 

Jika barang yang anda lihat termasuk katagori barang yang penting (important) tapi tidak begitu dibutuhkan (no needs) untuk dibeli pada saat ini juga. Misalnya seperti barang-barang untuk menunjang bekerja dan belajar (alat tulis, kertas HVS). Alat tulis memang penting untuk dimiliki para pekerja maupun pelajar untuk menulis dan mengerjakan tugas mereka, namun alat tulis tidak perlu dibeli setiap saat karena masa penggunaan alat tulis cukup lama. Untuk membeli alat tulis dapat menunggu misalnya ketika tinta pulpen atau stok kertas HVS sudah mulai habis, barulah kita membeli barang-barang tersebut.

 Alternatives 

Jika barang yang anda lihat termasuk adalah kategori barang yang penting (important) dan diinginkan (wants) untuk dibeli. Biasanya katagori ini muncul pada barang yang memang penting, tapi besar muatan emosi “pengen” untuk membelinya. Jika alternative menggeser budget tidak memungkinkan, maka alternative lain yang dapat dilakukan adalah mencari barang sejenis (alias dupe-nya) dengan harga yang lebih masuk budget bulanan kita.

Forget 

Jika barang yang anda lihat termasuk adalah katagori barang yang tidak dibutuhkan (no needs) dan hanya diinginkan (wants) untuk dibeli. Pada aspek ini, unsur emosi sesaat biasanya sangat memengaruhi keputusan kita untuk belanja.

Misalnya ketika WAG jastip yang kita ikuti tetiba mengajakan flash sale tas sekolah diskon 50.000. Tas tersebut dulu anda inginkan karena “semua anak keren di sekolah punya”, tapi Anda menunda membelinya karena harganya yang sangat mahal. Ketika PJJ (pendidikan jarak jauh) membuat Anda sekolah di rumah, kebutuhan membeli tas baru menjadi hal yang tidak dibutuhkan dalam waktu cepat. Maka iklan flash sale tas itu menjadi hal yang, “Oke, lupain aja deh. Toh diskonnya cuma 50.000 rupiah jadi harga tasnya masih 600.000 rupiah juga."

Pada kondisi pandemi, pastikan Anda membeli barang yang memang penting dan butuhkan untuk meminimalisir pengeluaran dan penumpukan barang di rumah anda. Hal ini juga dapat membantu Anda untuk mengurangi pembelian impulsif yang merugikan untuk anda maupun orang di sekitar anda.

Ingatlah bahwa di masa pandemi ini anda lebih banyak melakukan kegiatan di dalam rumah sehingga pilihlah barang-barang yang memang penting dan dibutuhkan saja (KumparanBISNIS, 2020). Dengan panduan ini, semoga anda dapat menjadi pembelanja yang lebih bijak pada next trip anda berseluncur belanja di dunia maya.

Sumber Referensi:

Anggraeni, R. (2020, September 22). Hikmah covid-19, transaksi e-commerce meroket hingga 39%. Retrieved from okefinance: https://economy.okezone.com/read/2020/09/22/320/2281923/hikmah-covid-19-transaksi-e-commerce-meroket-hingga-39

Aristanti, N. D. (2020, Februari 20). Pay later, kartu kredit zaman now yang ternyata bisa bikin kalap belanja! Retrieved from KoinWorks: https://koinworks.com/blog/apa-itu-pay-later/

Bhatti, A., Akram, H., Basit, H. M., Khan, A. U., Naqvi, S. M., & Bilal, M. (2020). E-commerce trends during covid-19 pandemic. International Journal of Future Generation Communication and Networking, 13(2), 1449-1452. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/342736799_E-commerce_trends_during_COVID-19_Pandemic

Jejualan.com. (2013, September 22). Jualan online jadi lebih mudah dengan jejualan. Retrieved from Jejualan: https://jejualan.com/jualan-online-jadi-lebih-mudah-dengan-jejualan-press-13.html

Khairunas. (2020). Bahaya impulse buying pada pelanggan online shop saat pandemi covid-19. Jurnal Manajemen Pendidikan Ilmu Sosial, 1(2), 349-353. Retrieved from https://dinastirev.org/JMPIS/article/view/240/165

Kristanto, J. (2016). Diagram 'proses kebutuhan - kepuasan konsumen'. Journal of Management Studies, 1(1), 26-32. Retrieved from http://e-journal.president.ac.id/presunivojs/index.php/FIRM-JOURNAL/article/view/47

KumparanBISNIS. (2020, Maret 26). Tips belanja hemat dan aman di e-commerce selama work from home. Retrieved from Kumparan: https://kumparan.com/kumparanbisnis/tips-belanja-hemat-dan-aman-di-e-commerce-selama-work-from-home-1t6Dn6cMTH2/full

Lestari, A. P., & Syarweni, N. (2020). Covid-19 mengubah perilaku konsumen masyarakat. 1-7.

Pope, T. P. (2005). This is your brain at the mall: why shopping makes you feel so good. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201511/the-joy-shopping

Sharma, A., & Jhamb, D. (2020). Changing consumer behaviours towards online shopping - an impact of covid 19. Academy of Marketing Studies Journal, 24(3), 1-10. Retrieved from https://www.abacademies.org/articles/Changing-consumer-behaviours-towards-online-shopping-an-impact-of-covid-19-1528-2678-24-3-296.pdf

Solomon, M.R. (2016). Consumer behavior: Buying, having, and being. New Jersey: Pearson.

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓