Ulasan I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2, Baek Se Hee

Endah Wijayanti29 Sep 2020, 12:45 WIB
Diperbarui 29 Sep 2020, 12:45 WIB
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2

Fimela.com, Jakarta "Sebagaimana depresi membuat kita kehilangan semangat dan tidak ingin melakukan apa pun, depresi membuat kemampuan berpikir kita memburuk, kemampuan fokus kita menurun, kemampuan mengingat juga menurun. Hasil pemeriksaan IQ pun akan menunjukkan penurunan kentara." (I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 hlm. 98)

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki sepertinya sudah tidak asing bagi sebagian besar di antara kita, khususnya para pecinta buku non fiksi dan penggemar karya-karya dari Korea Selatan. Setelah buku pertamanya terbit beberapa waktu lalu, bulan Agustus 2020 buku keduanya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bisa didapatkan di berbagai toko buku. Lalu, apa yang membedakan buku kedua dan buku pertamanya?

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 bisa dibilang lanjutan dari kisah Baek Se Hee yang berkonsultasi dengan psikiaternya. Perawatan kejiwaan yang dia lakukan terus berlanjut. Jika pada buku pertama, ia cenderung mengasihani diri sendiri, pada buku kedua ini ia mencoba untuk lebih menerima dirinya dan tidak membenci dirinya.

"Semakin sering aku menjalani perawatan, luka dalam diriku semakin memudar dan menghilang. Namun di lain pihak, aku menemukan bahwa aku justru jadi semakin lebih mudah sakit, sebab luka yang telah lama terpendam bisa muncul kembali dengan mudah, membuatku sering larut dalam depresi." (I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2, hlm. 8)

Format dalam buku ini juga masih sama dengan buku pertama. Berisi percakapan dan sesi tanya jawab antara Baek Se Hee dan psikiaternya serta selipan beberapa esai singkat tentang perasaan Baek Se Hee dalam prosesnya. Topik-topik seperti perasaan ingin dicintai, obsesi diet, hidup dan mati, hingga pencarian jati diri terasa lebih kuat dalam buku ini.

Buku Nonfiksi Karya Baek Se Hee

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 insert
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2./Copyright Endah

Judul: I Want To Die but I Want To Eat Tteokpokki 2

Penulis: Baek Se Hee

Penerjemah: Lovita Cendana

Penyelaras Aksara: Andry Setiawan

Penata Sampul dan Isi: Propanardilla

Penerbit Haru

Cetakan pertama, Agustus 2020

"Alih-alih menerima kekurangan, aku memutuskan untuk tidak memandang diriku sendiri secara negatif.”

Perjuangan Baek Se Hee untuk sembuh dari distimia masih berlanjut. Konflik batin yang dialaminya selama masa penyembuhan pun jadi lebih kompleks.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah catatan pengobatan Baek Se Hee yang berjuang mengatasi distimia— depresi ringan yang terus-menerus. Kedekatan buku ini dengan pembaca mengantarnya masuk ke jajaran bestseller Korea Selatan dan Indonesia. Baek Se Hee telah menggandeng banyak tangan orang pada seri pertama dan ia berharap bisa menggandeng lebih banyak tangan lagi dengan buku kedua ini.

***

Pada salah satu pengalamannya, Baek Se Hee melukai dirinya. Walau ia tak sampai ekstrem melakukan tindakan untuk menghilangnya nyawanya, tetapi tindakan melukai diri sendiri bisa dibilang sudah mengkhawatirkan. Setidaknya dengan tetap rutin berkonsultasi dan menjalani sesi perawatan kejiwaan dengan psikiaternya, dia berupaya untuk memperbaiki dirinya meski dalam kenyataannya butuh proses yang panjang.

Didiagnosis mengidap distima, Baek Se Hee memerlukan proses yang tidak sebentar untuk bisa memperbaiki banyak hal dalam hidupnya. Kecenderungannya untuk terus membandingkan hidup dengan orang lain, merasa lebih buruk dibandingkan orang lain, merasa membenci diri sendiri, hingga merasa hidup seakan tidak berarti membuat banyak kekhawatiran dalam dirinya. Ketika memilih untuk resign dari pekerjaannya, ada dilema yang ia rasakan. Merasa terus dibayangi luka masa lalu dan trauma di masa lalu membuatnya seakan terjebak pada lubang hitam yang tak ada habisnya. Bahkan berdialog dan berbicara dengan diri sendiri kadang terasa penuh liku. 

"Memang sulit untuk berhenti membandingkan, tetapi kita harus ingat bahwa menilai dan meneka rasa sakit kita dengan standar masyarakat dan orang lain adalah gagasan yang sangat berbahaya. Sederhananya, aku ingin fokus pada perasaanku sendiri tanpa membandingkan emosi gelap dalam diri atau melarikan diri dari emosi tersebut. Seperti halnya menikmati kegembiraan, aku akan merawat diri dengan melihat ke dalam kegelapan diri dan berbincang dengan diri sendiri." (I Want To Die but I Want To Eat Tteokpokki 2, hlm. 126)

Membaca buku ini menghadirkan gambaran bagaimana perawatan kejiwaan dengan psikiater berjalan. Kita tak bisa mendiagnosis diri sendiri hanya dengan membaca artikel atau referensi yang mudah ditemukan di internet. Penting untuk segera menghubungi psikiater bila kita merasakan ada sesuatu yang tak biasa dari diri kita. Setidaknya bila kita merasakan kemiripan perasaan atau emosi seperti  yang dialami Baek Se Hee, ada baiknya untuk mencari bantuan dan pertolongan langsung ke pakarnya. 

Banyak poin dan pesan penting yang bisa dipetik dari pengalaman Baek Se Hee. Satu hal yang paling ia tekankan adalah pentingnya untuk tidak membenci diri sendiri. Kita tak bisa selalu sempurna atau terus merasa bahagia. Tak segalanya bisa terasa indah dan membuat kita tersenyum. Namun, setidaknya tetap menjaga diri dengan menyayangi diri sendiri adalah sebuah pencapaian yang sudah luar biasa. 

Jadi, tertarik untuk membaca I Want To Die but I Want To Eat Tteokpokki 2

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓